6 Agustus 2015

Ke Merapi Berdua


RENCANA
Sekitar bulan Maret, beberapa teman saya berangkat ke Sindoro. Gunung yang selain letaknya tidak jauh dari Sumbing, juga sama-sama lumayan ekstrim. Waktu itu saya nggak bisa ikut karena ada janji nonton Banda Neira tepat di hari keberangkatan mereka. Sedih memang, tapi ya ngga papa, besok lagi maasih bisa pikir saya. Atas dasar ketidak-ikutan itulah, seminggu setelahnya saya mulai lempar wacana ke beberapa teman yang kemarin belum sempat ikut Sindoro. Saya mengira-ngira, paling tidak tiga-empat orang pasti mau.

Tapi, dari beberapa yang saya ajak; Boweng (yang ikut ke Sumbing taun kemarin), Joko (yang waktu itu lagi persiapan mau ujian skripsi+yudisium), dan Imam, cuma Imam yang sepertinya paling bisa berangkat. Boweng punya alasan cuaca lagi jelek dan banyak badai, Joko mau yudisium, sedangkan Imam paling lemah argumentasinya (ujian skripsi masih embuh, kuliah nggak seminggu penuh, dan belum mulai penelitian).

Sempat ragu jadi ke Sindoro atau tidak, mengingat saat itu sedang ramai pemberitaan satu pendaki yang hilang dan belum ketemu di Sindoro. Dengan berbagai pertimbangan keamanan akhirnya kita sepakat untuk menunda perjalanan ke Sindoro. Kali ini ke Merapi dulu, berdua. Imam akan jadi guide (dan porter, tentu saja) karena saya belum pernah ke Merapi.

so sweet as hell

REALISASI
Minggu 26 April, setelah packing di sore yang cukup cerah itu, saya dan Imam (teman jancuk-jancukan, red) berangkat dari rumah saya di Sleman menuju Selo. Baru masuk perbatasan Jogja-Jawa Tengah di Magelang, mendung mulai menggantung. Benar saja, beberapa kilometer di depan, jalanan basah, ternyata dari tadi hujan sudah deras disini. Kami pun menepi buat neduh dan pasang mantel.

Ternyata mantel kita sudah terpacking dalam tas masing-masing, jadilah kita beli mantel tiga ribuan dua. Sekedar biar tidak basah sampai basecamp, tanpa tau hujan deras baru reda menjelang basecamp. Dalam perhentian itu, Imam bilang (dalam bahasa jawa yang njancuk, tentu saja) “misal cuaca dibawah kaya gini, bisa dipastikan cuaca diatas lebih buruk, bahkan bisa saja badai”. Mendengar itu saya terpancing mau bilang “kalo takut ngomong, bos..” yang alhamdulillah bisa saya tahan dan hanya jadi batinan saja, mengingat saya cuma mbonceng. Saya cuma bilang “ya kita lihat dulu diatas kaya gimana”.

Sepanjang perjalanan hujan masih deras dan jancuk-jancukan masih berlangsung. Saya sempat khawatir dengan kondisi Shogun legendaris tunggangan kami yang sepertinya tidak ikhlas buat diberdayakan melewati jalan naik-turun menuju Selo ini, yang dibuktikan dengan hampir macet di beberapa tanjakan panjang. Hal ini diperparah dengan lampu ala kadarnya yang harus menyorot kabut tebal yang sepertinya tidak habis-habis dilewati.

Shogun legendaris membawa kita sampai di basecamp sekitar jam setengah delapan malam, setelah sebelumnya mampir disalah satu warung makan beberapa ratus meter setelah tikungan menuju basecamp (iya, kebablasan). Bangsatnya listrik disana mati tepat sebelum kita makan.

SAMPAI BASECAMP
Basecamp sepi, kita sempat bertemu dua rombongan lumayan besar (masing-masing sekitar sepuluh orang) yang ternyata sudah turun. Dua rombongan ini sama-sama bilang baru saja kena badai gunung malam sebelumnya (malam minggu, red), dan kabarnya badai akan datang lagi. Ditambah malam itu, barengan yang naik cuma dua kelompok (yang bisa dilihat di daftar pencatatan pendaki), beberapa kelompok lain belum turun atau belum sampai basecamp.

Malam itu hujan di basecamp masih rintik-rintik, tapi dinginnya tidak main-main. Saya dan Imam terlibat diskusi serius yang kelak akan menentukan perjalanan kami; “mau naik sekarang atau besok pagi setelah hujan reda” dengan segala perhitungan baik dan buruknya.

Akhirnya setelah sempat ngobrol dengan penjaga basecamp yang jaga, kita sepakat untuk naik malam itu juga. Dengan opsi kalau hujan bertambah deras atau mendadak badai sebelum pos satu, kita harus kembali ke basecamp. Kita menargetkan titik aman adalah pos satu buat ngecamp. Dengan raincoat yang sudah rapi, kita berdoa sebelum berangkat sekitar jam sembilan. Dari basecamp kita benar-benar cuma berdua saja, melewati jalan diantara ladang penduduk yang semakin ke atas menjadi hutan. Jalan yang sepi, basah, dan dingin.

KETEMU ROMBONGAN DARI KUNINGAN
Dengan sedikit kepayahan, kita sampai di gerbang dan pos yang ternyata bukan pos satu, melainkan gerbang TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Di pos yang mirip gazebo itu sudah ada sekelompok pendaki lain yang sepertinya juga mau naik. Merasa sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan, kita gabung dengan rombongan berenam yang mengaku dari Kuningan ini. Lebih-lebih di Gunung, asal mau inisiatif membuka obrolan dan basa-basi sedikit, pasti kita dapat teman baru yang langsung asik ngobrol apa saja.

Rombongan asal Kuningan ini ternyata baru saja dari Merbabu dan langsung menuju Merapi sehari setelah turun Gunung, sekalian kata mereka. Logistik mereka banyak sekali, macam mau buka warung burjo disini saja. Kita yang membawa logistik pas-pasan jadi minder buat mengeluarkan logistik karena memang logistik mereka lengkap sekali, dan kita selalu dipaksa-paksa makan dan minum punya mereka.

Asik sekali ngobrol dengan bro-bro baru dari Kuningan ini, kalau mereka bilang; “asal ada garpit (gudang garam) sama kopi mah, asikin aja”. Dari enam orang, ada dua orang yang paling aktif ngobrol dengan kita, sedangkan yang lain lebih milih tiduran sambil sesekali asal njeplak menimpali obrolan malam itu.

Segala macam obrolan keluar saja, mulai dari perkenalan mereka yang ngaku aa burjoan semua, dan selalu saya iyakan soalnya tampangnya cocok semua. Lalu ada salah satu dari mereka yang katanya tetangganya Dzawin SUCI 4, ngobrol soal lagu-lagu Dialog Dini Hari dan Sore yang mereka bilang ajaib, soal penyesalan kenapa mereka bolos kuliah dan kerja dan mendaki disaat musim hujan seperti ini, ngobrol masalah-masalah cewek (tentu saja), masalah kopi dari beberapa daerah yang katanya beberapa ada yang lebih pait dari vodka, kita menyebutnya kopi galak, dan banyak lainnya.

Saya pamit tidur dan membenamkan diri ke dalam sleeping bag sekitar jam dua pagi ketika Imam dan salah satu dari mereka masih ngobrol-ngobrol. Saya masih sempat mendengar ada satu orang yang mengaku dari Mataram mampir di pos, naik sendiri dan berencana tik-tok (naik langsung turun). Ada juga serombongan turis luar yang dipandu guide dari Jogja, yang numpang duduk di pos dan hampir menduduki kepala saya yang mepet pinggir pos itu, godverdomme sekali.

Pagi itu saya adalah orang pertama yang bangun. Langsung saya bangunkan Imam, rencananya kita akan berangkat naik subuh saat masih gelap, tapi baru bangun jam enam. Tanpa banyak packing, kita pun langsung pamit pada salah satu dari rombongan Kuningan yang sebelumnya menyusul saya dan Imam bangun, yang lain masih tidur. Kita mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diijinkan bergabung dan ikut menghabiskan logistik mereka malam itu, tidak lupa juga bertukar kontak. Sambil lalu, saya titip salam dan terima kasih pada teman-teman lain yang masih tertidur. “Mau turun saja hari ini”, katanya.

gerbang TNGM

BADAI DI PASAR BUBRAH
Bekas dan sisa hujan semalam menghias ranting-ranting, batu-batu, dan tanah yang semuanya masih basah. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai pasar bubrah dari gerbang TNGM. Tanpa banyak berhenti (kalaupun berhenti tidak pernah lebih dari lima menit) waktu yang ditempuh sekitar tiga jam saja.

Merbabu, yang malu-malu

Di tengah perjalanan kita sempat bertemu rombongan turis luar yang salah satunya hampir menduduki kepala saya tadi malam. saya tanya dikit keadaan di atas, dikit, karena bisa bahasa inggrisnya cuma dikit. Mereka bilang “not too bad if you wanna go up, but we can’t see the top, too much fog in”, yang saya jawab ngawur “really?.. oh oke, we’ll trying to hide the fog when we came in Pasar Bubrah”. “wow, good luck..” kata salah seorang dari mereka disusul tertawaan dari yang lain.

Yang tidak terlupakan, sepanjang perjalanan kita ditemani oleh satu burung Jalak yang seperti jadi penuntun jalan karena selalu melompat-lompat didepan.


Bro jalak

Sekitar jam sepuluh kita sampai di batas vegetasi yang jadi penanda masuk kawasan Pasar Bubrah. Sejak kedatangan saya dan Imam, kabut semakin tebal dan lama-kelamaan menutupi seluruh pandangan ke puncak Merapi. Angin yang awalnya biasa saja lama-lama juga semakin kencang, kaos tangan saya hampir terbang ketika saya lepas buat ambil sambungan celana dan jaket dari tas. begitu jalan ditengahnya, kacamata saya langsung penuh uap air yang terbawa badai dan kabut.

 Di batas vegetasi sebelum pasar bubrah

Masak dan sarapan jadi pengisi waktu menunggu badai reda. Aktivitas itu berlangsung dibalik batu besar yang sepertinya sudah disiapkan jadi tameng buat kita. Bayangkan saja, di balik batu kita bisa masak dan makan-makan dengan tenang, tapi beberapa langkah ke depan keluar dari batu, jangankan buat menghidupkan api, berjalan saja susah. Sepanjang badai berlangsung, pemandangan didominasi oleh warna putih kabut dan suara angin yang menderu-deru.

Badai dan kabut di pasar bubrah

Keadaan tersebut berlangsung sekitar satu jam lebih. Selepas jam sebelas, badai dan kabut berangsur reda sejak kedatangan ibu-ibu dengan seorang bapak-bapak yang (sepertinya) porter. Ajaibnya, begitu si ibu sampai di dekat batu tempat kita berlindung itu, badai benar-benar reda sama sekali. Si ibu sempat bertanya “lho kok pake jaket tebal semua ini? ngecamp disini ya tadi?”, yang langsung dijawab Imam “nggak kok bu, ini tadi baru saja badai angin dan kabut”.. kemudian Ibu itu mengajak ke puncak bareng.

 Ibu-ibu strong dari Surabaya dengan gear-gear dewa nya

PUNCAK
Ternyata pada saat badai tadi beberapa orang yang terlanjur jalan di pasar bubrah bersembunyi di balik batu-batu besar yang tersebar disana, begitu badai reda mereka langsung keluar dan melanjutkan perjalanan. Jalan dari pasar bubrah sampai puncak memakan waktu sekitar sejam, melewati pasir dan batu-batu yang sering melorot saat dipijak.

melorot, batunya

pas balik badan, lihatnya Merbabu..

Begitu sampai puncak, kita ketemu lagi dengan ibu-ibu dan bapak-bapak tadi. Ibu-ibu dan teman-temannya yang masih di belakang ini berasal dari Surabaya, sebelum ke Merapi mereka naik merbabu via Cunthel turun via Selo, keesokannya mereka langsung naik Merapi (hari itu, red). Si ibu mengaku baru sekitar tiga tahun mendaki gunung, tapi sudah mendaki sepuluh gunung termasuk Merapi dan Merbabu ini, sisanya gunung-gunung  Jawa Timur. “Naik gunung itu nagih banget mas, sayangnya ngga dari dulu saya naik gunungnya”.. katanya.

jangan ditiru, ini kebodohan saya.. jelas-jelas ada jalan lebih bagus di atasnya

Bibir, tebing, dan dasar kawah Merapi beserta asap dan awannya

Seperti yang sering ada di google dan postingan instagram, puncak dan kawah Merapi memang luar biasa. Gagah dan mistis menurut saya. Tidak bisa dibayangkan, beberapa waktu setelah saya ke puncak Merapi itu, ada seorang mahasiswa Atmajaya yang terpeleset jatuh dari puncak ke dasar kawah Merapi.

Gagah dan mistis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar