8 Maret 2015

Antara Jogja-Cemoro Sewu, Selama 13 Jam

Rabu malam pukul 20.00, 18 Februari, teman saya bertanya saya mau kemana kok tiba-tiba membatalkan rencana mengerjakan kerjaan yang sudah hampir deadline. “Edan, ra mikir tenan!!” teman saya berkata, begitu saya menjawab mau ke Cemoro Sewu (gunung Lawu). Mungkin dikiranya mau mendaki lagi atau gimana. Teman saya ini tidak salah ngomong, dengan waktu yang sehari itu, kelihatannya saya nekat banget main ke Cemoro Sewu pakai angkutan umum (kereta, bis, dan angkot). Saya memang gila. Atau lebih tepatnya kita (karena saya bawa pacar saya) dan yang ngajak harus hari itu juga dia.

ini tempat tujuannya

Baiklah, anggap saja kita sama-sama gila, dua orang yang sama-sama gila.

Jogja, 09.00 WIB
Singkatnya, karena Prameks jam 07.30 dianggap kepagian kita naik KA Sriwedari dari stasiun Lempuyangan jam 09.15. Dan karena sampai stasiun sudah jam sembilanan alhasil tiketnya habis. Jadinya kita naik Prameks yang berangkat jam 10.35 WIB. Satu setengah jam kedepan adalah duduk dan menunggu yang pertama (yang tanpa diduga akan dialami berkali-kali sehari nanti).

Satu setengah jam berlalu dengan cepat diantara lalu lalang orang yang keluar masuk stasiun, keluarga-keluarga bahagia yang terlihat sedih melepas salah satu anggotanya pergi dan beberapa pasang manusia yang juga saling melepas kepergian. Stasiun pagi itu tidak terlalu ramai, cukup nyaman dipakai menunggu berdua.

Seperti yang tertulis di tiket. Prameks tujuan Solo tiba di Lempuyangan jam 10.30, yang sesaat kemudian langsung ramai diserbu penumpangnya. Kita yang nggak mikir bakal penuh nyante saja jalannya, nggak tau kalau didalam kereta manusianya sudah bertumpuk-tumpuk. Sama seperti penumpang sante lain, kita juga berdiri. Dari beberapa stasiun yang disinggahi, tidak banyak orang yang turun. Penumpangnya tetap itu-itu saja, masih penuh. Baru sampai stasiun Purwosari banyak yang turun dan kita bisa duduk. Tapi saya lupa, itu cuma berlangsung selama lima menit. 

Solo, 11.40 WIB
Sampai di stasiun Balapan Solo sekitar jam 11.45 kita langsung jalan menuju Terminal Tirtonadi. Matahari sedang panas-panasnya, jalan dari stasiun ke terminal juga lagi ramai-ramainya. Di jalan kita sempat ditawari naik becak, padahal terminal tinggal sebelokan lagi. Dengan langkah terburu-buru, sampailah kita di terminal dan langsung menemukan Bis Rukun Sayur Solo-Tawangmangu. Saya apal betul bis ini karena dulu pertama ndaki Lawu juga naik bis yang sama dari Solo. Ada yang beda dengan bis ini pikir saya. Ya, ongkos bisnya lebih mahal.

Awalnya bis ini sepi, cuma ada beberapa penumpang. Saya sempat ketawa jahat, mehehe.. Tapi semakin lama, bis mulai terisi penumpang di sepanjang jalan menuju Tawangmangu. Bis ini, menaik-turunkan penumpang dimana saja yang dia mau. Maksudnya yang sopir mau, bukan bis nya.

Masuk Karanganyar terlihat jalanan sudah basah, ternyata dari tadi sudah hujan. Langit menggelap, orang-orang mulai tertidur, angin yang sejuk menyelinap dari celah jendela bis, dan mulai diikuti butiran-butiran hujan. Suasana menjadi sepi, kita berdua diam. Tanpa kata. Cuma sesekali melihat dan menunjuk gunung Lawu yang dari jauh terlihat tertutup kabut tebal putih. Lembut sekali.


iya,itu kabut

Entah butuh atau tidak, tapi suatu waktu kita perlu merasakan pengalaman seperti ini dengan pasangan kita. duduk bersebelahan dengannya di tempat yang tidak biasa, tanpa membicarakan apapun. Merasakan setiap detik yang berlalu dengan merasa, bukan dengan berkata.

Tawangmangu, 14.00 WIB
Singkatnya, selama kurang lebih dua jam di bis, sekitar dua siang kita sampai terminal Tawangmangu. Hujan turun deras disini. Seperti biasa, begitu turun dari bis kita langsung ditawari angkot dengan banyak tujuan, salah satunya adalah Cemoro Sewu.

Begitu ada sopir yang menawarkan angkot arah Cemoro Sewu kita langsung iya-iya saja. Dan karena hujannya deras, oleh bapak sopir angkot kita dipinjami payung buat jalan berdua ke angkot yang ada di seberang jalan. Seperti yang sudah-sudah, karena sudah terbiasa menemui hujan dimana saja, jadi biasa saja. Yang beda cuma disini akan lebih dingin sepertinya.

Di perjalanan kita mulai menemukan pemandangan khas daerah pegunungan; sawah-sawah yang disusun terasiring mengikuti bukit, vila-vila dan hotel, serta kuda yang banyak disewakan di sekitar tawangmangu, kabut juga. Sepanjang jalan ke Cemoro Sewu banyak sekali warung pinggir jalan dan hampir semuanya ramai pembeli. Entah karena hari libur atau sehari-hari memang ramai. Yang jelas terakhir kali lewat sini akhir taun 2013 masih sepi.


seperti ini

Cemoro Sewu, 14.30 WIB
Hampir nggak percaya ketika mobil angkot berhenti dan ternyata sudah sampai depan Cemoro Sewu, rame sekali. Tapi wajar sebenarnya, karena selain basecamp pendakian, Cemoro Sewu juga tempat wisata. Cuaca masih sedikit gerimis, kita turun dan mulai menyeberang, berjalan masuk ke gerbang pendakian Cemoro Sewu yang sering buat foto-foto itu. Biasa saja sebenarnya, tapi karena saya pernah berada di tempat ini, jadinya tiap sampai di satu titik atau tempat yang dulu sempat punya cerita tersendiri, langsung teringat hal apa saja yang pernah terjadi disitu. Lucu juga.

Ajaib, begitu masuk gerbang Cemoro Sewu hujan tiba-tiba reda. Kita masih mencari-cari dimana pohon cemara yang jadi obrolan penting sepanjang perjalanan tadi: “apakah di Cemoro Sewu ada pohon Cemoro (Cemara) nya? Kalau ada, jumlahnya apa benar sewu (seribu) ?”..


rumah masa depan katanya.. *kuburan*

Tapi ternyata nggak ditemukan sama sekali pohon Cemara disekitar gerbang. Karena masih penasaran, kita jalan kedalam (yang juga nanjak) sampai tikungan pertama. Setelah capek dan dipikir-pikir kayanya nggak bakal nemu akhirnya kita cuma main-main dan foto-foto di sekitar situ.
 
dalam rangka nyeneng-nyenengke anak orang.. hft

Belum ada setengah jam disitu hujan turun lagi, deras. Kita lari ke semacam pos di dekat gerbang yang ada atapnya, yang dulu pas ndaki juga jadi lokasi pertama kali saya sadar sepatu saya hilang. Terlihat beberapa pendaki turun dengan langkah kaki berat dan gerakan tubuh yang lelah, tapi hampir selalu dengan raut wajah puas. Selain pendaki turun, pendaki yang mau berangkat naik juga terlihat dari situ.

Dengan hujan yang tambah deras itu, kita memutuskan buat nunggu hujan reda di warung sampingnya Basecamp. Saya dan teman-teman nggosu pendakian Lawu dulu hampir selalu makan di warung ini selama 4 hari itu. Pernah pas makan malam, karena sudah terlalu nyaman disitu dan males buat ke Basecamp lagi, kita main poker di warung sampai tutup (maksudnya diusir dengan alasan mau tutup).

Sampai pukul 15.15 hujan tidak juga reda. Karena sudah janji dengan sopir angkot yang tadi, yaitu: nggak boleh lebih dari satu jam di Cemoro Sewu (soalnya bis dari Tawangmangu ke Solo terbatas) akhirnya kita harus menaati kesepakatan tersebut. Jam setengah empat kita balik ke angkot yang tadi membawa kesini. bukan apa-apa, soalnya angkot itu sudah dibooking dan dibayar dimuka bareng sama mbayar pas berangkat tadi. Jadi kalau sampai angkot itu kabur, jangan tanya apa yang bakal terjadi di Tawangmangu nantinya....

Karena tidak mau melewatkan pemandangan selama turun ke Tawangmangu, kita duduk di kursi depan. Saya di tengah diantara sopir dan pacar saya, *kudu di tengah, ndak kececer dijalan*


 Kabutnya lembut, tapi nggak bisa dibelai...

Perpaduannya pas, bikin saya nggak mau sampai terminal lagi: udara dan angin dingin pegunungan, kabut yang menutupi jalan di depan, lereng-lereng bukit, sawah-sawah terasiring, pohon-pohon khas dataran tinggi, dan hangatnya suhu tubuh orang yang ada disamping saya. Cuma sayangnya ada sopir disisi saya yang lainnya.. pf


lihat jalan di depan ya pak, ndak oleng

Tawangmangu, 16.00 WIB
Ternyata benar, sampai di Terminal Tawangmangu hanya tersisa satu bis yang menuju arah Solo. Telat dikit saja nggak kebagian bis. Kalau sampai kejadian begitu, saya akan minta tanggung jawab pada sopir angkot tadi dengan menyuruhnya mengantar sampai Jogja sekalian. Maksudnya mobilnya saja, si sopir harus ditinggal.

Pukul 16.00 lebih bis memulai lajunya. Seperti biasa, awalnya bis juga sepi. Sepanjang jalan hujan masih deras, membuat jendelanya beruap selain karena terus dihantam tetesan hujan deras. Menyamarkan bayangan dan siluet wajah pacar saya yang beberapa kali tertidur, kelelahan. Sebenarnya saya juga capek dan ngantuk, tapi nggak memungkinkan kalau dua orang tidur semua, takutnya nanti ada apa-apa nggak ada yang tau. Terpaksa saya tetap terjaga, sambil sesekali mengamati wajah tidur di samping saya.


masih nemu kabut juga

Ada kepanikan kecil menjelang Solo, diluar dugaan ternyata bis yang kita tumpangi ini cuma sampai Palur (masih Karanganyar). Padahal dari Palur sampai Solo lumayan jauh, ditambah sampai Palur sudah gelap sekitar pukul 18.00. Untungnya begitu sampai Palur langsung nemu angkot yang menuju kota Solo, lebih tepatnya harus sampai Stasiun Balapan. Mungkin karena sudah petang, angkot tidak banyak menaikkan penumpang. Kita hanya bareng tiga ibu-ibu dan dua orang (yang sepertinya) mahasiswa, yang sama-sama nampak lelah dari wajahnya.

Stasiun Balapan, 18.30 WIB
Sekitar pukul 18.30 kita sampai Stasiun Balapan, bayar angkot dan langsung balapan lari masuk ke Stasiun. Ini nggak bercanda, soalnya kita takut tiket Prameks jam 18.55 nya habis. Dan ternyata memang habis, tinggal tersisa Prameks jam 20.30 yang paling cepat. Akhirnya kita beli tiket keberangkatan jam 20.30 dan nunggu di Stasiun lagi seperti tadi pagi. Kali ini dengan durasi yang lebih lama, dua jam.

Ada banyak orang yang menunggu keberangkatannya di Stasiun ini. Saking banyaknya kursi tunggu penuh dan banyak yang lesehan di lantai Stasiun, termasuk kita berdua. Kita duduk lesehan di dekat loket pembatalan tiket, diantara calon penumpang lain. Dalam dua jam kedepan kita bakal menunggu disini, tapi tetap saja, mau berapa jam-pun, karena dilalui berdua jadinya.. tetep lama..

Singkatnya Kereta tujuan Jogja sampai di Stasiun. Kereta sudah ramai penumpang beberapa puluh menit sebelum berangkat. Tapi kita juga naik beberapa menit sebelum jam keberangkatan, jadinya bisa duduk.

Ada satu hal yang mungkin bakal nggak bisa terlupakan oleh kita berdua. Di kereta itu, kita duduk berhadapan dengan satu keluarga yang membawa lima anak balita, terdiri dari empat anak cewek umur 3-5 tahun dan anak laki-laki sekitar 2 tahun. Ada tiga ibu-ibu bersama lima balita tersebut, tapi sepanjang perjalanan itu kita nggak bisa nebak siapa ibu dari kelima balita itu, apakah cuma satu ibu, atau tiga ibu itu masing-masing punya anak dari kelima balita tadi.. bingung? Sama.

Banyak kejadian lucu yang dibuat kelima balita tadi di kereta. Dengan kekuatan super balita mereka membuat keributan yang bisa dilihat dan didengar hampir semua orang yang ada gerbong itu. Lucu juga, segerbong jadi seperti milik keluarga itu saja. kita sama-sama menertawakan kelakuan balita-balita tadi, lumayan bisa bikin ketawa bareng. Capek setelah seharian jalan jadi sedikit berkurang.

Beberapa puluh menit sebelum kereta sampai Jogja, kelima balita tadi anteng, beberapa sudah tertidur di pangkuan ibu-ibunya. Penumpang lainnya sebagian besar juga tertidur, sisanya secara sadar diam. Kita berdua juga diam sambil sesekali bicara seperlunya. Kebanyakan soal kereta yang banyak berhenti dan nggak sampai-sampai, dan tentu saja alasan mengapa baru balik jam sepuluh yang pas buat di rumah nanti.
 
dua pasang kaki yang sehari tadi berjalan bersama *uopooh

Lempuyangan, 21.50 WIB
Pukul 21.50 Kereta sampai di Stasiun Lempuyangan, yang mulai sepi tapi masih berkerlapan lampunya, yang sebagian besar basah oleh hujan seharian tadi, dengan udara malam dingin dan aroma tanah basahnya.