13 Januari 2015

Hujan di Bulan Desember


Bulan Desember selalu punya cerita lebih untuk dibicarakan lagi, apalagi soal hujan didalamnya. 

Mungkin anda pernah mengalami ini; Ketika berada di taman belakang kampus siang-siang, tiba-tiba langit mendung, angin yang lumayan kencang datang, dan daun-daun di pepohonan yang anda jadikan tempat berteduh itu berguguran, lalu salah satu daun mengenai wajah anda seketika, sejuk. Ada banyak hal yang membuat suasana menjadi sangat Desember. Hal yang barusan adalah salah satunya. 

Bulan Desember adalah bulan terakhir di sepanjang tahun (yang mungkin saja anda lupa). Bulan yang selalu menjadi titik pengendapan bagi kontemplasi-kontemplasi yang sudah rapi disusun oleh perjalanan kita selama sebelas bulan sebelumnya pada tahun yang sama. Seolah-olah dia adalah sari terakhir dan terbaik dari kedelai yang akan dibuat menjadi tahu. Yang selain paling lama bertahan, juga paling padat dan berbobot. Saya tidak tau caranya membuat tahu itu gimana, makanya saya ngawur.

Adalah seorang teman inspiratif saya; Janu Muhammad yang sebelumnya bikin tulisan berjudul kurang lebih sama “Hujan di Bulan Desember” di blognya yang membuat saya ingin ikut menulis tentang itu juga. Padahal di Desember 2012 dulu saya juga pernah bikin tulisan ini “Hujan di Bulan Desember ini” yang tulisannya berbau obat penenang --melankolis parah.

Sama seperti anda, saya juga merasa jijik sendiri mbaca tulisan tersebut sekarang. Gemes rasanya pengen ngeplaki orang yang nulis. Tapi apa daya, yang nulis itu saya sendiri.

Desember selalu punya sesuatu yang sayang jika tidak diabadikan menjadi sebuah ideal didalam tulisan seperti ini. Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, Desember ibarat puncak dan klimaks-nya perjalanan sepanjang sebelas bulan sebelumnya. Yang sudah dilalui naik turun penuh keringat dan kadang disertai lenguhan-lenguhan soal hidup yang itu-itu saja atau beratnya kenyataan yang harus dihadapi. Tapi, sepanjang masih mengaku manusia, hal tersebut wajar karena saya juga gitu.

Soal hujan di bulan Desember, saya kira anda pernah menikmati sebuah momen dimana anda sendirian menikmati hujan dibelakang jendela. Menatap hujan yang jatuh bertubi-tubi, sendiri. Kemudian merasakan sesatu yang aneh tapi cenderung meneduhkan, yang kalau anda sedang patah hati perasaan itu berubah menjadi perasaan galau kacau balau mengiris-iris. Karena hujan selalu disusupi oleh kenangan masa lalu yang menumpang minta digendong kepada tiap titik-titik kecil hujan, baru kemudian menyerang kepala kita bertubi-tubi.

Mungkin perasaan seperti itu muncul dari rasa gelisah menunggu balasan pesan dari seseorang, atau melihat jatuhan air ditanah yang terus menerus, atau diam sendiri dibalik jendela kaca yang menguap, atau pengharapan kapan hujan akan reda. Atau campuran antara semuanya. Iya, hujan menghadirkan percampuran rasa itu semua; gelisah, diam, dan pengharapan.


Lalu tiba-tiba pekerjaan datang lagi dan harus diselesaikan sampai malam ini juga, saya pun harus berhenti menulis. Saya menulis ini saat masih di jam kerja. Di sebuah sore menjelang hujan reda, di sore ini.

Selamat bulan Januari. Berterima kasihlah pada bulan Desember yang menjadikan bulan-bulan sebelum Desember jadi lebih diingat.

Tulisan ini belum selesai.
Sama seperti rasa penasaran pada hal-hal yang belum ku ketahui tentangmu, belum selesai.