20 Desember 2014

Bermain Hujan

Budhe: “kamu kalo pas hujan dirumah suka hujan-hujanan juga nggak, dek?”

Saya: “suka, budhe.. tapi ya pasti dimarahin kalo hujan-hujanan. Paling cuma lihat dari rumah, atau dari depan rumah kalo temen-temen lagi main bola atau lagi lari-larian”. 

Budhe: “tapi pernah hujan-hujanan juga kan?”

Saya: “ya sering budhe, sembunyi-sembunyi.. tapi tetep seneng biar besoknya bisa batuk sama pilek..” 

Budhe: “nah kan, besok tak bilangin ibumu, wisnu sering ngeyel... sering main hujan-hujanan, sering mandi di kali, sering naik pohon rambutannya pak ****, sering nyari cethul, sering nglempari rumahnya pak ****, sering bolos TPA terus main di kolam, sering jajan nggak bayar diwarungnya ****.” 


kata budhe sambil nyubiti perut dan ngacak-acak rambut saya gemes. Kira-kira 14 tahun yang lalu, ketika saya masih kelas 2 SD. 


Tidak seperti budhe-budhe atau bulik saya yang lain. Dari kecil nggak tau entah kapan, budhe saya yang satu ini seperti ibu kedua saya, dekat sekali. Sayang, budhe cerai lalu pindah pas saya kelas 2 SMA, dan sampai sekarang saya baru ketemu sekali di lebaran beberapa tahun yang lalu.

Ngomong-ngomong soal obrolan diatas, saya jadi teringat hal tersebut karena nggak sengaja nemu kaos jaman saya kecil di lemari ibu saya. Kaos itu sebenarnya punya kakak sepupu (anak budhe saya tadi) yang saya pakai karena kehabisan baju ganti ketika nginep dirumah budhe saya. Padahal dulu baju saya banyak yang disana karena memang saya sering banget nginep dirumah budhe. Seingat saya, obrolan tadi terjadi sore-sore sehabis saya tidur siang dirumah budhe, dan diluar sedang hujan deras. 

Ada banyak hal yang membuat saya masih saja mengingat obrolan tersebut. Obrolan kecil yang bagi orang kebanyakan seharusnya sudah dilupakan dan jadi pelengkap memori masa kecil yang selanjutnya akan tertumpuk masalah-masalah lain saat beranjak dewasa, dan kemudian tenggelam.

Menjadi dewasa selalu merubah banyak hal dari diri kita sebagai anak kecil. Ketika tau-tau kita sudah dewasa, dengan segala hal itu-itu saja yang menyibukkan, kita jadi lupa bagaimana bersenang-senang, mencari kebahagiaan, atau mendapatkan sesuatu dengan cara kita sendiri. 

Pada perjalanannya setelah kita dewasa, kita jadi terlalu banyak berasumsi. Mau melakukan ini atau itu selalu harus dengan banyak pertimbangan melelahkan, dan pada akhirnya tidak jadi melakukan apapun. memang benar menimbang baik dan buruk dan berasumsi secara matang itu perlu. Tapi yang menyedihkan, kita jadi kehilangan horison anak-anak kita; berani menantang diri sendiri untuk meraih sesuatu yang kita anggap bisa membuat kita senang dan bahagia. Pun harus rela jatuh-bangun dan berdarah-darah untuk itu.

Lalu dari hujan-hujanan yang akan bikin sakit itu, dari mandi di bendungan yang resikonya bisa tenggelam dan tersangkut di dasar dam, dari ngambil rambutan tetangga di pohon yang tinggi, dari nyari ikan diselokan dan parit yang kotor, dari melempari rumah orang rame-rame yang pasti akan jadi masalah bagi orang-orang tua kita. Dari semua hal bodoh masa kecil itu, kita dapat apa? 

Dari semua itu kita dapat sakit, kita kotor-kotoran, kita jatuh berdarah-darah, kita dimarahi, bahkan kita pernah digampar orang tua (bagi yang pernah) karena nakalnya  keterlaluan. Kita dapat kesakitan, kotor, berdarah-darah, dan dimarahi. Tapi, kita pasti puas melakukannya.

Kita penasaran, kita pengen tau sesuatu, kita mencoba hal-hal baru, dan kita puas karena pada akhirnya kita tau dengan mencoba hal baru tersebut. 

Suatu waktu, kita memang perlu melupakan aturan-aturan yang kadang terasa berlebihan, lalu menantang diri sendiri, keluar dari zona nyaman, untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita mimpikan dan kita yakini betul. 

 *** 

Bermain hujan-hujanan selalu  punya banyak resiko yang harus diterima. Hujan deras akan membuat pandangan kita kabur, membuat badan kuyup dan mengigil. Bahkan, hujan dengan badai bisa merusak apapun yang dilaluinya. Badai akan membuat langkah kita menjadi limbung atau bisa saja kehilangan arah. Hujan dengan badai bisa mengaburkan pandangan, membuat limbung, melemahkan langkah. Hujan badai bisa saja menyesatkan.

Tapi, bermain hujan-hujanan bersamamu membuatku selalu menjadi seperti anak kecil lagi. Aku merasa tertantang, merasa penasaran, dan merasa begitu yakin; bermain hujan-hujanan denganmu adalah bahagiaku. 

Lalu, suatu saat badai menyerang, pegang tanganku ya..