5 Oktober 2014

Ke Gunung Sumbing, Mimpi selama KKN, dan Mbah Gesang


Nggor.. aku wis ra kuat nggor, sikilku wis raiso dinggo mlaku..gendong aku nggor 
(Mbah Gesang, sepuluh meter turun dari pos satu)

***

Rabu pagi tanggal 1 Oktober 2014 jalanan disekitar kampus UNY dan beberapa tempat fotokopian terlihat lebih ramai dan sibuk dari biasanya. Semesta setuju, penyebabnya adalah deadline pengumpulan laporan KKN yang berakhir hari itu.

Huru-hara dan kesibukan juga memburu beberapa diantara kita; sekelompok mahasiswa pura-pura yang juga baru saja menyelesaikan KKN beserta laporan dengan segala kepalsuan dan manipulasi didalamnya. Saya yang baru menyelesaikan laporan tersebut malam sebelumnya juga terpaksa ikut ambil bagian dalam huru-hara ini. Ngantri ngeprint, njilid, dan mengumpulkan laporan KKN.

Juga, huru-hara adalah deskripsi yang pas untuk menggambarkan persiapan menjelang keberangkatan ke Gunung Sumbing.

Semua berawal dari rencana keikutsertaan salah satu teman kami. Maaf, maksudnya SATU-SATU nya MASKOT, IKON, SIMBOL, LEGENDA, DEWA, SESEPUH, MAHAGURU, MITOS, TITISAN LELUHUR SUKU MAYA, YANG SUKA NGOMONG NGACO; yang bernama MBAH GESANG.. YANG BERNAMA MBAH GESANG. Sengaja diulang, biar panjang.

 BLADE 

Iya, mbah gesang adalah maskot dan ikon bagi dunia pertemanan (?) kami. Dan baru sekali ini mau ikut ndaki. Sebenarnya biasa saja kalo yang mau ikut ndaki pertama kali itu orang lain. yang jadi masalah adalah; MBAH GESANG itu sendiri. Kita harus siap dengan segala keunikan, keanehan, dan ke-absurdannya . Kita nggak boleh terpancing kalo mbah Gesang bertingkah. Begitu emosi, langsung tendang ke jurang terdekat. 

Sebelum berlanjut, perkenalkan dulu.. kami adalah: Anggoro, Aji, Mbah Gesang, Boweng, Imam, dan saya. Sekelompok  anak muda sehat penuh energi dan berotak sedikit geser yang sudah memendam niat selama dua setengah bulan buat main ke gunung (lagi). Kesibukan, tekanan, dan kejenuhan selama KKN membuat hasrat untuk merasakan kebersamaan di alam lagi meletup-letup hebat akhir-akhir ini. Dan tanggal 1 Oktober kemarin, kita coba merealisasikannya.

Persiapan dan perencanaan perjalanan ini cukup mendadak dan terbilang penuh resiko. Resiko gagal karena kita berangkat pada saat deadline pengumpulan laporan KKN, dimana sebagian besar dari kita masih belum beres laporannya sampai menjelang H-1 berangkat. Termasuk saya, yang nglembur malamnya. Tapi, dengan sedikit dipaksakan dan ngemis-ngemis bantuan teman-teman sekelompok KKN lain akhirnya kita berangkat. 

 ***

Rencananya kita naik Gunung Sumbing dari basecamp Garung yang ada di Parakan, Wonosobo. Kita berangkat dari Jogja jam satu siang karena nunggu Boweng selesai kuliah dulu (kuliah disaat yang lain mbolos kuliah, faigk banget). Kemudian sampai di Secang, Magelang (rumah Anggoro) jam setengah tiga. Masih harus nunggu lagi Aji (sepupu Anggoro, anak UGM). Kita baru benar-benar berangkat menuju Garung jam empat, setelah sebelumnya packing ulang dan nambah logistik.

Perjalanan dari Secang ke Garung lumayan lama karena macet sore-sore pada jam pulang kerja. Karena saya mbonceng, saya jadi punya waktu untuk ngelamun dan mikir banyak hal nggak penting. Salah satunya tentang kemacetan ini; ternyata di belahan kota yang lain juga hampir sama semua; orang-orang berkerumun, ramai-ramai berebut kesempatan di tempat dan waktu yang sama. Di jalan, di pasar, di kehidupan yang seolah-olah sempit karena pandangan kita hanya tertuju pada satu titik yang sama. Dan kita melewati masalah itu semua disaat kita dalam perjalanan mencari damai ke tempat sepi. Di Gunung. 

pose di rumah Anggoro, yang sejuk dan sekitarnya prospektif buat jadi losmen

 ***

Sampai di Garung jam lima duapuluh menit. Basecamp masih lumayan sepi, kita hanya menemukan dua orang yang sudah turun dan mau pulang, inilah keuntungan mendaki ditengah minggu. Karena waktunya tanggung, kita memutuskan untuk mulai perjalanan pendakian sekalian sehabis Sholat Maghrib dan Isya yang di jamak.

Sebelum setengah tujuh kita sudah siap dengan carrier, senter, kaos tangah, dan masker. Seperti biasa, perjalanan di mulai dengan berdoa dan beberapa instruksi standar lainnya terkait dengan kondisi fisik dan perjalanan, karena salah satu dari kita adalah pemula. Dan tepat jam setengah tujuh kita mulai melangkahkan kaki, niat, doa, dan keyakinan.

Formasi awalnya: Surya berada paling depan sambil membawa peta jalur dan senter, Mbah Gesang tepat di belakang Surya, Anggoro dan Aji selanjutnya, sedangkan saya, Imam, dan Boweng adalah kaum terbelakang (ngesoters).

 di basecamp, sebelum berangkat


BASECAMP-POS 1  

Jalan dari Basecamp sampai pos 1 adalah tatanan batuan kecil seperti jalan setapak karena sampai menjelang pos 1, kanan kiri jalur adalah perkebunan tembakau-super-kwalitet-unggul-sedjak-1902. Dari perjalanan awal ini sebenarnya sudah bisa diketahui tipikal jalur Garung, yaitu: gile, nanjak terus nyet.. 

jalur pendakian (lama) Garung, yang baru sedang ditutup

Beberapa ratus meter jalan, kita semua berhenti. bukan karena sudah pengen istirahat, tapi karena kita ganti celana, yang akhirnya kita make kolor semua (kecuali mbah gesang, karena kolor akan meleleh jika terkena kulitnya). Alasan ganti kolor yaitu; Karena jalannya nanjak terus. Sepanjang perjalanan, Mbah Gesang mulai menunjukkan kengacoan dan gejala penyesuaian fisik yang ekstrim (ditengarai karena pengaruh keLEGENDannya).

Di salah satu tikungan akhirnya kita istirahat bentar untuk pertama kali. Sebenarnya bukan cuma Mbah Gesang, kita semua juga kaget dengan trek-nya yang nanjak terus dan lumayan curam. Melihat kondisi ini, Surya nawari untuk membawakan daypacknya Mbah Gesang. Yang langsung dipisuhi dari dalam hati oleh yang lain karena pasti daypack tersebut akan digilir membawakannya.

Sepanjang perjalanan sampai pos 1 obrolan kita terarah pada Mbah Gesang dengan segala macam sarkasme untuk Mbah Gesang, yang tidak bisa ditangkap oleh otak genius Mbah Gesang. Entah kenapa, sampai pos 1 kita nggak berhenti tertawa. Kita mulai menyimpulkan penyebabnya; antara sarkasme pada Mbah Gesang yang terlalu anzeeeng atau karena coki-coki yang dibawa Anggoro mengandung Kokain. 


POS 1-CAMP SITE SEBELUM PESTAN 

Di pos 1 kita istirahat sebentar. Tatanan batu-batu kecil habis tepat didepan pos 1, setelah itu jalannya adalah jalan tanah yang kering, berdebu, licin, dan makin menanjak. Obrolan dan candaan yang nggak putus-putus mulai berhenti di sini. Selain sudah mulai lelah, kita juga harus pake masker dan tetep fokus pada perjalanan.
 

Cahaya bulan membuat keringat dan wajah-wajah lelah nampak cukup jelas. Cahaya bulan tersebut juga membagi dirinya dengan daun-daun pepohonan. Yang memendarkan bayangan yang sama; suram dan samar-samar. Batu-batu besar yang menyela diantara pepohonan juga memantulkan cahaya bulan, membuatnya terlihat seperti relief-relief raksasa berwarna kelam tapi tetap gagah. Malam itu, bulan menampakkan setengah dari dirinya.

Untuk beberapa saat, kita masih sabar menunggu bertemu dengan pos 2. Tapi lama-kelamaan kelelahan, dehidrasi, dan kelaparan mulai memicu sedikit kepanikan. Masalahnya, didalam peta perjalanan, antara pos 1 dengan pos 2 lumayan dekat. Tapi, perjalanan yang panjang setelah pos 1 membuktikan kalo peta itu bisa saja salah. Setelah pos 1 kita banyak berhenti. Stok permen, coki-coki, dan gula jawa untuk tambahan kalori mulai menipis.

Selama perjalanan dari pos 1 itu kita tidak juga ketemu pos 2, akhirnya kita berhenti di salah satu tikungan yang ada bekas apinya. Karena kita sudah merasa lumayan payah, kita masak mi dan energen. Disitu, udara juga mulai mendingin. Musik SKA-REGGAE dari sebuah band dari Rusia mengalun tenang dari HP nya Imam. Karena kedinginan, beberapa dari kita mulai berpogo mengikuti musik yang memang asik buat joget-joget mirip orang mau lari tapi ketahan utang.

setelah itu perjalanan dilanjutkan. 


SAMPAI DI CAMPSITE SEBELUM PESTAN 

Saking jauhnya berjalan, kita sudah melupakan pos 2 dan berharap sudah kelewatan. Waktu itu kita benar-benar kehilangan petunjuk kita berada dimana. Apakah sudah lewat pos 2, atau masih belum sampai. Tepat jam setengah satu dinihari kita sampai di sebuah tempat datar yang disana sudah berdiri dua dome. Karena kondisi fisik sudah payah, jarak tempuh ke puncak masih jauh, kedinginan, dan ketakutan tidak menemukan tempat ngecamp lagi akhirnya kita mendirikan dome disitu. Tanpa ritual lain, kita semua langsung tidur.


 tenda biru yang jadi saksi bisu *halah

Belum pernah saya tidur senyenyak ini di gunung. Tanpa kebangun, tanpa kedinginan, tau-tau sudah jam 6 aja. Ternyata kita ngecamp di sebelum PESTAN, yang artinya kita sudah melewati pos 2 dan pos 3. Dan pemandangan di depan camp langsung berhadapan dengan Gunung Sindoro yang saat itu masih ditutup.

Sindoro, dari jauh

juga 


CAMPSITE-WATU KOTAK 

Setelah sarapan mi instan, energen, sebatang samsu, dan sekaleng sarden-dua kentang buat bertujuh, dan nulis beberapa pesan di kertas buat dipoto di puncak. Kita bersiap melanjutkan perjalanan, merapikan dome dan packing carrier masing-masing. Oiya, nggak lupa kita pake outdoor gear baru yang belum banyak dipakai dan masih belum mainstream, yaitu: SUNBLOCK 30 spf.

di PESTAN.. bukan, bukan ketan, anda salah baca

di atasnya PESTAN

 Mencoba jadi penguasa rimba

Perjalanan mulai melewati jalur batu-batuan besar, nanjak curam, dan masih berdebu. Kita sampai di Watu Kotak (Batu Kotak, walaupun sebenernya nggak kotak-kotak banget) jam sebelas-an. Di situ kita berhenti cukup lama. Karena selain sudah mulai lelah, kita mulai bisa melihat awan dari atas (yang sering dibilang samudra diatas awan).

Samudera diatas awan? maksudnya ini kali.. 


WATU KOTAK-PUNCAK 

Jalannya masih sama, berbatu dan menanjak curam. Karena berpikir sudah terlalu lelah dan masih harus melakukan perjalanan turun hari itu juga. Kita memutuskan untuk meninggalkan semua carrier di salah satu semak-semak yang diyakini nggak ada orang yang akan memakai istirahat. Setelah itu kita jalan lagi. Ajaib, badan jadi kerasa enteng.

Tidak butuh waktu lama buat sampai di pertigaan ke puncak Kawah. Dari pertigaan, jalan menjadi landai menelusuri lereng. Perjalanan dari pertigaan itu, diiringi awan-awan putih tebal bergulung-gulung yang seperti diatur untuk mengantarkan langkah kaki kita menuju puncak. Terlihat lembut, halus, entah kenapa saya jadi kepikiran avatar.

 om.. minggir om.. mau moto plangnya malah situ ikutan pose.. 

Ternyata jalan dari pertigaan ke puncak Kawah lumayan dekat. Kita kaget waktu tiba-tiba sudah sampai di bibir kawah. Gunung Sumbing ini masih aktif, yang ditandai masih mengeluarkan belerang beserta aromanya.


 sisi barat kawah

 sisi timur

 bibir kawah

Kawah Sumbing lumayan besar. Di sisi utara, saudara Sumbing (gunung Sindoro) terlihat jelas. Bergeser kebarat, tampak Slamet yang dari kejauhan masih mengeluarkan asap. Mengisi pemandangan antara Slamet dan tempat saya berdiri, gulungan awan-awan membuat gunung Prau dan dataran tinggi Dieng cukup tersamar.

Di sebelah timur, gunung Merbabu dan Merapi bergantian menampakan diri, diganggu awan-awan genit yang juga menggoda saya dengan imajinasi tentang bagaimana kalau saya bisa melayang-layang diatasnya. Berguling-guling dari satu puncak ke puncak lainnya.

Setelah puas menikmati puncak, kita melangkah turun. Meninggalkan jejak dan rasa syukur tak terbatas di sana.

 pesan dari Mbah Gesang bagi kalian.. orang-orang OT

yang moto kurang ajar 


PERJALANAN TURUN 

Seperti biasanya, perjalanan turun gunung menjadi berkali-kali lipat lebih cepat daripada saat naik. Kita mulai turun sekitar jam setengah tiga sore. Jam setengah empat kita sudah sampai Watu Kotak. Istirahat bentar, kemudian sekitar jam setengah lima kita malah sudah hampir sampai pos 2.

Ada beberapa kejadian pada saat turun ini. Mbah Gesang buru-buru turun karena sebenarnya dia ada janji dengan kakaknya di Jogja. Karena baru pertama ndaki, dia nggak memperhatikan manajemen tenaga dan perjalanan, asal cepat sampe aja. Sebenarnya dia ada didepan bareng Imam dan Surya. Dan saya, Anggoro, Aji, Boweng masih tetap dibelakang.

Sampai ketika saya yang berjalan paling depan dari rombongan belakang menemukan mbah Gesang di tengah perjalanan antara pos 3 ke pos 2 dengan keadaan yang amat sangat memprihatinkan; harapan hidup tipis. Sepatu dilepas (cekeran), jalan nggak lurus, ditanya nggak nyambung, muka bikin emosi (ini udah dari dulu sepertinya), dan nggak bawa air sama sekali. Setelah saya ajak istirahat dan makan-minum sedikit logistik yang masih tersisa, mbah Gesang saya suruh jalan duluan karena saya dan yang lain masih pengen berhenti (ngabisin sebatang dulu). Beberapa menit setelah Mbah Gesang pergi saya keinget; KMPRT, saya lupa ngasih air!

Jam setengah enam kita sampai pos 1. Kita ketemu Mbah Gesang lagi yang kondisinya nggak lebih baik dari sebelumnya. Jadinya, mulai pos 1 sampai Basecamp, kita bareng Mbah Gesang. Atau lebih tepatnya kita ngikut Mbah Gesang, kalau dia mau berhenti kita harus ikut, kalau dia mau jalan, kita juga harus ikut. Gitu.

Jalan sama Mbah Gesang yang kesadarannya tinggal 23 % ternyata cukup bikin emosi jiwa juga, ngomong apa dijawab apa. Mbah Gesang memang kelihatan bener-bener sudah kelelahan. Disaat-saat seperti itu, Cuma kesabaran Anggoro yang bisa menandinginya. Dari pos 1 sapai Basecamp, Anggoro nuntun jalan Mbah Gesang dan nyenteri dari belakang.

Kita sampai di basecamp sekitar jam setengah delapan malam. Dengan misuh-misuh tak tertahankan setelah sampai basecamp menemukan kenyataan bahwa Imam dan Surya sedang tidur.

abang lelah dek.. abang lelah 

 *** 

Tidak seperti biasanya. Dari naik sampai turun lagi, kita jarang terlibat obrolan serius selama perjalanan. Agak beda dari biasanya ketika ndaki yang hampir selalu ngobrol banyak hal filosofis, kehidupan, dan yang lainnya.. dengan sok-sokan ngerti apa yang diobrolkan tentu saja. Tapi, di perjalanan kemarin kita seperti lagi nggak butuh apapun kecuali kebersamaan dan bahan tertawaan yang sama, sesedehana itu.

 sesederhana ini


 ***
hai..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar