16 Oktober 2014

Is it Just Me, Or?

“....Yang perlu diingat; kita pernah muda bareng, dan
sempat menua bersama beberapa saat. Tanggal-tanggal di setiap
foto itu tidak diciptakan secara percuma, tanggal-tanggal itu sengaja
dibuat sebagai pengingat; bahwa waktu benar-benar berjalan
dan tidak bisa diajak putar balik....”-
(dari salah satu paragraf di postingan ini)

***

Tadi siang draft usulan judul skripsi saya selesai. Tinggal di print dan diajukan ke tim verifikasi jurusan > kemudian di acc > diarahkan ke dosen pembimbing dan dosen narasumber > bimbingan beberapa kali > seminar proposal skripsi > penelitian > sidang > wisuda > lulus > jadi wakil bupati Wamena. 

Tapi kita semua yakin, nggak akan segampang itu.

Aneh rasanya, tiba-tiba sudah semester tujuh. Sudah jarang kuliah bareng sekelas (seminggu cuma sekali). Sudah harus seiring ke perpus nyari buku atau skripsi, dan ngetik di microsoft word yang itu-itu lagi. Dari yang dulu pas masih semester awal sering olok-olokan waktu ketahuan ada di perpus sendiri, sekarang hampir semua teman berlomba-lomba bolak-balik perpus sendiri-sendiri. Rasanya, kebersamaan yang dulunya sempat dibangga-banggakan sudah hampir habis. Adakah yang merasa gini juga?  Is it just me, or?

Iya, aneh. Perasaan baru kemarin kita saling kenal di ospek jurusan, di escarpment, atau di makrab. Tau-tau sudah punya adek tiga angkatan. Rasanya baru senin minggu lalu kita masuk kelas pertama. Yang saya telat setengah jam karena nggak tau jadwal kuliah. Sekarang rasanya kaya anak ilang waktu mondar-mandir di sekitar kelas, karena masih banyak kuliah bareng angkatan bawah yang harus diulang. Time goes running so fast, or me just walking very slow?

Rasanya juga baru seminggu kita kuliah bareng-bareng di kelas. Sama-sama tertawa pada candaan tentang dosen-dosen, tentang orang-orang aneh di kampus, atau diskusi-diskusi sok berat setelah makan di warung biasanya sambil menghabiskan sebatang-dua batang rokok. Tau-tau sudah hampir empat tahun rutinitas-rutinitas itu dilalui bareng. Belakangan, saya sering terngiang-ngiang tentang apa yang dibicarakan atau kekonyolan apa yang dulu sering terjadi kalau saya ada di tempat-tempat itu. Secara tidak kasat mata, banyak cerita yang terukir ditempat-tempat bersejarah tadi.

latihan buat makrab pertama, tahun 2011

Setiap satu kata ketikan pada file draft judul yang saya kerjakan akhir-akhir ini, saya jadi sering teringat; dulu, mengerjakan sesuatu tidak pernah sesulit ini. setiap deadline tugas adalah satu alasan lagi untuk kumpul bareng. Walau tanpa embel-embel tugas sebenernya tetep kumpul juga. Semua tugas selesai dalam satu klik copy>paste. Setiap tugas yang jadi tujuan, hasil akhirnya adalah turnamen PES sampai pagi. Sekarang, semuanya sudah harus dikerjakan dan dihadapi sendiri-sendiri. Sudah bukan waktunya berkelompok dan bersama-sama lagi. Atau yang paling pedih, mungkin masanya sudah habis untuk itu.

Ada halaman persembahan di setiap skripsi, setidaknya saya selalu menemukannya di setiap skripsi yang saya buka belakangan ini. Karena skripsi adalah perjuangan si-penulisnya, biasanya halaman persembahan tersebut untuk orang-orang yang berpengaruh positif dalam perjuangannya. Nanti, di setiap halaman persembahan kita masing-masing, pastikan nama kita semua tertulis rapi. Sekedar pengingat, kita pernah berjuang bersama-sama. Ada sesuatu yang sama yang pernah kita kejar bersama: cita-cita.

Malam ini selain ngedit-ngedit draft dikit dan nulis ini, saya juga membayangkan beberapa malam-malam tidak penting yang sudah lama berlalu. Dimana mau kumpul tinggal sms dan langsung kumpul satu-persatu. Tanpa harus ada alasan yang menyertainya. Beberapa angkringan dan burjonan, atau kafe murah yang sering ada jadwal nonbarnya adalah saksi kunci. Bahwa kebersamaan sekelompok manusia lama-kelamaan akan hilang juga seperti yang lainnya. Pada akhirnya makin sedikit yang bisa diajak kumpul, sampai akan tiba saatnya untuk ngajak kumpul duluan pun takut ganggu.

People come and go, memories from time well spent with them stay. Always stay.

Kita baru berada ditahap dimana kita sedang berusaha mengatur jalan sendiri-sendiri dan mengejar ketertinggalan dari yang lainnya. Mungkin kita sedang berada dalam fase hampir menemukan diri kita lagi setelah lama mencarinya. Terasa sangat individual, jelas karena kita bukan anak sekolahan lagi.

Tapi, bersamaan dengan itu. Kita juga semakin bertambah tua, semakin nyaman dengan dunia masing-masing sampai kemudian pelan-pelan melupakan hal penting dari ini semua: pertemanan. Pertemanan jaman kuliah adalah pertemanan yang bukan hanya pertemanan an sich dalam satu arti saja. Wajar kalau akan membekas; karena kita pernah berusaha, bernasib sama, dan memperjuangkan sesuatu bersama-sama.

Bersamaan dengan itu, pertemanan kita lama-lama juga akan merenggang karena waktu dan jarak. Lama kelamaan untuk sekedar ngobrol di grup chat saja kita harus punya topik penting. Dari yang dulunya tidak butuh apapun untuk bisa ngobrol dan tertawa bersama. Dari yang tiap hari ketemu sampai akhirnya cuma bisa senyum dan ketawa-ketawa sendiri lihat foto-foto bareng nan rusuh di folder.

 
setiap keluarga selalu punya obrolan khas-nya masing-masing

Yang perlu diingat; kita pernah muda bareng dan sempat menua bersama beberapa saat. Tanggal-tanggal di setiap foto tidak diciptakan secara percuma, tanggal-tanggal itu sengaja dibuat sebagai pengingat; bahwa waktu benar-benar berjalan dan tidak bisa diajak putar balik.

Kita sudah berpengalaman dalam perpisahan dengan teman-teman atau sahabat kita sejak dari SD, SMP, sampai SMA. Yang pada awalnya be afraid to face the world without they are-lalu kangen pengen kumpul lagi-sampe jarang komunikasi-jarang ketemu-dan kemudian bener-bener ngilang. 

People come and go, memories from time well spent with them stay. Mungkin kita cuma kebetulan jalannya lagi ketemu di sekolah, di  kuliah ini. Suatu saat nanti akan pisah juga, dan semoga jalannya sempet singgungan lagi nantinya. 

Setidaknya kita masih punya waktu beberapa saat lagi sebelum benar-benar pisah setelah lulus masing-masing suatu hari nanti. Masih ada banyak waktu untuk berkumpul disela-sela mimpi yang harus kita kejar sendiri-sendiri. 

Saya masih ingat sama temen SMA yang pernah nulis kaya gini waktu mau buka bersama sekitar taun 2012: “kalo ada yang ngajak ngumpul, usahakan kumpul biarpun lagi nggak punya duit atau waktu dikit. Who knows it’s their last, or yours”. Beberapa bulan sebelum dia meninggal karena kecelakaan.

Who knows it’s their last, or yours?

or me?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar