16 Oktober 2014

Is it Just Me, Or?

“....Yang perlu diingat; kita pernah muda bareng, dan
sempat menua bersama beberapa saat. Tanggal-tanggal di setiap
foto itu tidak diciptakan secara percuma, tanggal-tanggal itu sengaja
dibuat sebagai pengingat; bahwa waktu benar-benar berjalan
dan tidak bisa diajak putar balik....”-
(dari salah satu paragraf di postingan ini)

***

Tadi siang draft usulan judul skripsi saya selesai. Tinggal di print dan diajukan ke tim verifikasi jurusan > kemudian di acc > diarahkan ke dosen pembimbing dan dosen narasumber > bimbingan beberapa kali > seminar proposal skripsi > penelitian > sidang > wisuda > lulus > jadi wakil bupati Wamena. 

Tapi kita semua yakin, nggak akan segampang itu.

Aneh rasanya, tiba-tiba sudah semester tujuh. Sudah jarang kuliah bareng sekelas (seminggu cuma sekali). Sudah harus seiring ke perpus nyari buku atau skripsi, dan ngetik di microsoft word yang itu-itu lagi. Dari yang dulu pas masih semester awal sering olok-olokan waktu ketahuan ada di perpus sendiri, sekarang hampir semua teman berlomba-lomba bolak-balik perpus sendiri-sendiri. Rasanya, kebersamaan yang dulunya sempat dibangga-banggakan sudah hampir habis. Adakah yang merasa gini juga?  Is it just me, or?

Iya, aneh. Perasaan baru kemarin kita saling kenal di ospek jurusan, di escarpment, atau di makrab. Tau-tau sudah punya adek tiga angkatan. Rasanya baru senin minggu lalu kita masuk kelas pertama. Yang saya telat setengah jam karena nggak tau jadwal kuliah. Sekarang rasanya kaya anak ilang waktu mondar-mandir di sekitar kelas, karena masih banyak kuliah bareng angkatan bawah yang harus diulang. Time goes running so fast, or me just walking very slow?

Rasanya juga baru seminggu kita kuliah bareng-bareng di kelas. Sama-sama tertawa pada candaan tentang dosen-dosen, tentang orang-orang aneh di kampus, atau diskusi-diskusi sok berat setelah makan di warung biasanya sambil menghabiskan sebatang-dua batang rokok. Tau-tau sudah hampir empat tahun rutinitas-rutinitas itu dilalui bareng. Belakangan, saya sering terngiang-ngiang tentang apa yang dibicarakan atau kekonyolan apa yang dulu sering terjadi kalau saya ada di tempat-tempat itu. Secara tidak kasat mata, banyak cerita yang terukir ditempat-tempat bersejarah tadi.

latihan buat makrab pertama, tahun 2011

Setiap satu kata ketikan pada file draft judul yang saya kerjakan akhir-akhir ini, saya jadi sering teringat; dulu, mengerjakan sesuatu tidak pernah sesulit ini. setiap deadline tugas adalah satu alasan lagi untuk kumpul bareng. Walau tanpa embel-embel tugas sebenernya tetep kumpul juga. Semua tugas selesai dalam satu klik copy>paste. Setiap tugas yang jadi tujuan, hasil akhirnya adalah turnamen PES sampai pagi. Sekarang, semuanya sudah harus dikerjakan dan dihadapi sendiri-sendiri. Sudah bukan waktunya berkelompok dan bersama-sama lagi. Atau yang paling pedih, mungkin masanya sudah habis untuk itu.

Ada halaman persembahan di setiap skripsi, setidaknya saya selalu menemukannya di setiap skripsi yang saya buka belakangan ini. Karena skripsi adalah perjuangan si-penulisnya, biasanya halaman persembahan tersebut untuk orang-orang yang berpengaruh positif dalam perjuangannya. Nanti, di setiap halaman persembahan kita masing-masing, pastikan nama kita semua tertulis rapi. Sekedar pengingat, kita pernah berjuang bersama-sama. Ada sesuatu yang sama yang pernah kita kejar bersama: cita-cita.

Malam ini selain ngedit-ngedit draft dikit dan nulis ini, saya juga membayangkan beberapa malam-malam tidak penting yang sudah lama berlalu. Dimana mau kumpul tinggal sms dan langsung kumpul satu-persatu. Tanpa harus ada alasan yang menyertainya. Beberapa angkringan dan burjonan, atau kafe murah yang sering ada jadwal nonbarnya adalah saksi kunci. Bahwa kebersamaan sekelompok manusia lama-kelamaan akan hilang juga seperti yang lainnya. Pada akhirnya makin sedikit yang bisa diajak kumpul, sampai akan tiba saatnya untuk ngajak kumpul duluan pun takut ganggu.

People come and go, memories from time well spent with them stay. Always stay.

Kita baru berada ditahap dimana kita sedang berusaha mengatur jalan sendiri-sendiri dan mengejar ketertinggalan dari yang lainnya. Mungkin kita sedang berada dalam fase hampir menemukan diri kita lagi setelah lama mencarinya. Terasa sangat individual, jelas karena kita bukan anak sekolahan lagi.

Tapi, bersamaan dengan itu. Kita juga semakin bertambah tua, semakin nyaman dengan dunia masing-masing sampai kemudian pelan-pelan melupakan hal penting dari ini semua: pertemanan. Pertemanan jaman kuliah adalah pertemanan yang bukan hanya pertemanan an sich dalam satu arti saja. Wajar kalau akan membekas; karena kita pernah berusaha, bernasib sama, dan memperjuangkan sesuatu bersama-sama.

Bersamaan dengan itu, pertemanan kita lama-lama juga akan merenggang karena waktu dan jarak. Lama kelamaan untuk sekedar ngobrol di grup chat saja kita harus punya topik penting. Dari yang dulunya tidak butuh apapun untuk bisa ngobrol dan tertawa bersama. Dari yang tiap hari ketemu sampai akhirnya cuma bisa senyum dan ketawa-ketawa sendiri lihat foto-foto bareng nan rusuh di folder.

 
setiap keluarga selalu punya obrolan khas-nya masing-masing

Yang perlu diingat; kita pernah muda bareng dan sempat menua bersama beberapa saat. Tanggal-tanggal di setiap foto tidak diciptakan secara percuma, tanggal-tanggal itu sengaja dibuat sebagai pengingat; bahwa waktu benar-benar berjalan dan tidak bisa diajak putar balik.

Kita sudah berpengalaman dalam perpisahan dengan teman-teman atau sahabat kita sejak dari SD, SMP, sampai SMA. Yang pada awalnya be afraid to face the world without they are-lalu kangen pengen kumpul lagi-sampe jarang komunikasi-jarang ketemu-dan kemudian bener-bener ngilang. 

People come and go, memories from time well spent with them stay. Mungkin kita cuma kebetulan jalannya lagi ketemu di sekolah, di  kuliah ini. Suatu saat nanti akan pisah juga, dan semoga jalannya sempet singgungan lagi nantinya. 

Setidaknya kita masih punya waktu beberapa saat lagi sebelum benar-benar pisah setelah lulus masing-masing suatu hari nanti. Masih ada banyak waktu untuk berkumpul disela-sela mimpi yang harus kita kejar sendiri-sendiri. 

Saya masih ingat sama temen SMA yang pernah nulis kaya gini waktu mau buka bersama sekitar taun 2012: “kalo ada yang ngajak ngumpul, usahakan kumpul biarpun lagi nggak punya duit atau waktu dikit. Who knows it’s their last, or yours”. Beberapa bulan sebelum dia meninggal karena kecelakaan.

Who knows it’s their last, or yours?

or me?

14 Oktober 2014

Garung-Sumbing

Ada yang tidak akan cukup jelas diulang dalam tuturan apapun
 
Pada bisu angin senjamu berhembus,
membisikkan hampa.

Pada tenang daunmu melambai-lambai,
saling beradu pasrah dengan kehidupan sepi lainnya.

Pada sejuk udaramu,
yang mesra mencium setiap doa.

Pada tenang bayangan batuan menjulang,
yang sering menyamar jadi ketakutan.

Pada setiap belai lembut kabutmu,
mengusap dan menghapus semua keringat putus asa.

Pada sunyinya malam bercerita,
soal bintang-bintang, langit hitam, atau bulan timbul tenggelam.

Pada hutan-hutan lebat seberang jurang-jurang curammu,
yang sengaja digelapkan tanda tanya.

Pada suara-suara asing entah apa,
yang ramah di setiap obrolan dalam batin.

Pada lekuk tajam sungaimu,
yang sering membelokkan arus, arus pemikiran.

Pada rumput-rumput, bunga-bunga, dan harapan
yang menghijau dan bermekaran.

Pada ransel-ransel penuh muatan,
yang cerewet bertanya-tanya kapan atau dimana pemberhentian berikutnya.

Pada langkah-langkah kaki lelah,
dan setiap jejak dibelakangnya.
Ada yang tidak akan cukup jelas diulang pada tuturan apapun.

Terutama pada kenyataan,
bahwa aku dan kamu sama.
Kita adalah bagian kecil.
Dari semesta.

(Garung, 2 Oktober 2014)


8 Oktober 2014

ampas kopi..


Berbutir-butir, warnanya pekat, terasa pahit. 
Seperti ampas kopi.
Seperti rindu tidak tersampaikan.

Diaduk-aduk dan dibuat jatuh perlahan.
Seperti ampas kopi. 
Seperti harapan.

Diaduk-aduk, diguncang, tidak dianggap. 
Tapi tak benar-benar larut dan menghilang.
Seperti ampas kopi. 
Seperti kenangan.

Disesalkan karena kepahitannya.
Tanpa tau nikmat seperti apa disetiap sesapnya.
 
Seperti ampas kopi. 
Seperti hidup. 

Sering terabaikan, terkadang memusingkan, dan ibu bilang tidak baik jika berlebihan. 
Tapi efek candunya luar biasa membuat ketagihan. 
Seperti minum kopi. 
Seperti mencintaimu.


mengampas dan mengendap didasar gelas
pada 7 Oktober 2014,
menjelang dini hari

5 Oktober 2014

Ke Gunung Sumbing, Mimpi selama KKN, dan Mbah Gesang


Nggor.. aku wis ra kuat nggor, sikilku wis raiso dinggo mlaku..gendong aku nggor 
(Mbah Gesang, sepuluh meter turun dari pos satu)

***

Rabu pagi tanggal 1 Oktober 2014 jalanan disekitar kampus UNY dan beberapa tempat fotokopian terlihat lebih ramai dan sibuk dari biasanya. Semesta setuju, penyebabnya adalah deadline pengumpulan laporan KKN yang berakhir hari itu.

Huru-hara dan kesibukan juga memburu beberapa diantara kita; sekelompok mahasiswa pura-pura yang juga baru saja menyelesaikan KKN beserta laporan dengan segala kepalsuan dan manipulasi didalamnya. Saya yang baru menyelesaikan laporan tersebut malam sebelumnya juga terpaksa ikut ambil bagian dalam huru-hara ini. Ngantri ngeprint, njilid, dan mengumpulkan laporan KKN.

Juga, huru-hara adalah deskripsi yang pas untuk menggambarkan persiapan menjelang keberangkatan ke Gunung Sumbing.

Semua berawal dari rencana keikutsertaan salah satu teman kami. Maaf, maksudnya SATU-SATU nya MASKOT, IKON, SIMBOL, LEGENDA, DEWA, SESEPUH, MAHAGURU, MITOS, TITISAN LELUHUR SUKU MAYA, YANG SUKA NGOMONG NGACO; yang bernama MBAH GESANG.. YANG BERNAMA MBAH GESANG. Sengaja diulang, biar panjang.

 BLADE 

Iya, mbah gesang adalah maskot dan ikon bagi dunia pertemanan (?) kami. Dan baru sekali ini mau ikut ndaki. Sebenarnya biasa saja kalo yang mau ikut ndaki pertama kali itu orang lain. yang jadi masalah adalah; MBAH GESANG itu sendiri. Kita harus siap dengan segala keunikan, keanehan, dan ke-absurdannya . Kita nggak boleh terpancing kalo mbah Gesang bertingkah. Begitu emosi, langsung tendang ke jurang terdekat. 

Sebelum berlanjut, perkenalkan dulu.. kami adalah: Anggoro, Aji, Mbah Gesang, Boweng, Imam, dan saya. Sekelompok  anak muda sehat penuh energi dan berotak sedikit geser yang sudah memendam niat selama dua setengah bulan buat main ke gunung (lagi). Kesibukan, tekanan, dan kejenuhan selama KKN membuat hasrat untuk merasakan kebersamaan di alam lagi meletup-letup hebat akhir-akhir ini. Dan tanggal 1 Oktober kemarin, kita coba merealisasikannya.

Persiapan dan perencanaan perjalanan ini cukup mendadak dan terbilang penuh resiko. Resiko gagal karena kita berangkat pada saat deadline pengumpulan laporan KKN, dimana sebagian besar dari kita masih belum beres laporannya sampai menjelang H-1 berangkat. Termasuk saya, yang nglembur malamnya. Tapi, dengan sedikit dipaksakan dan ngemis-ngemis bantuan teman-teman sekelompok KKN lain akhirnya kita berangkat. 

 ***

Rencananya kita naik Gunung Sumbing dari basecamp Garung yang ada di Parakan, Wonosobo. Kita berangkat dari Jogja jam satu siang karena nunggu Boweng selesai kuliah dulu (kuliah disaat yang lain mbolos kuliah, faigk banget). Kemudian sampai di Secang, Magelang (rumah Anggoro) jam setengah tiga. Masih harus nunggu lagi Aji (sepupu Anggoro, anak UGM). Kita baru benar-benar berangkat menuju Garung jam empat, setelah sebelumnya packing ulang dan nambah logistik.

Perjalanan dari Secang ke Garung lumayan lama karena macet sore-sore pada jam pulang kerja. Karena saya mbonceng, saya jadi punya waktu untuk ngelamun dan mikir banyak hal nggak penting. Salah satunya tentang kemacetan ini; ternyata di belahan kota yang lain juga hampir sama semua; orang-orang berkerumun, ramai-ramai berebut kesempatan di tempat dan waktu yang sama. Di jalan, di pasar, di kehidupan yang seolah-olah sempit karena pandangan kita hanya tertuju pada satu titik yang sama. Dan kita melewati masalah itu semua disaat kita dalam perjalanan mencari damai ke tempat sepi. Di Gunung. 

pose di rumah Anggoro, yang sejuk dan sekitarnya prospektif buat jadi losmen

 ***

Sampai di Garung jam lima duapuluh menit. Basecamp masih lumayan sepi, kita hanya menemukan dua orang yang sudah turun dan mau pulang, inilah keuntungan mendaki ditengah minggu. Karena waktunya tanggung, kita memutuskan untuk mulai perjalanan pendakian sekalian sehabis Sholat Maghrib dan Isya yang di jamak.

Sebelum setengah tujuh kita sudah siap dengan carrier, senter, kaos tangah, dan masker. Seperti biasa, perjalanan di mulai dengan berdoa dan beberapa instruksi standar lainnya terkait dengan kondisi fisik dan perjalanan, karena salah satu dari kita adalah pemula. Dan tepat jam setengah tujuh kita mulai melangkahkan kaki, niat, doa, dan keyakinan.

Formasi awalnya: Surya berada paling depan sambil membawa peta jalur dan senter, Mbah Gesang tepat di belakang Surya, Anggoro dan Aji selanjutnya, sedangkan saya, Imam, dan Boweng adalah kaum terbelakang (ngesoters).

 di basecamp, sebelum berangkat


BASECAMP-POS 1  

Jalan dari Basecamp sampai pos 1 adalah tatanan batuan kecil seperti jalan setapak karena sampai menjelang pos 1, kanan kiri jalur adalah perkebunan tembakau-super-kwalitet-unggul-sedjak-1902. Dari perjalanan awal ini sebenarnya sudah bisa diketahui tipikal jalur Garung, yaitu: gile, nanjak terus nyet.. 

jalur pendakian (lama) Garung, yang baru sedang ditutup

Beberapa ratus meter jalan, kita semua berhenti. bukan karena sudah pengen istirahat, tapi karena kita ganti celana, yang akhirnya kita make kolor semua (kecuali mbah gesang, karena kolor akan meleleh jika terkena kulitnya). Alasan ganti kolor yaitu; Karena jalannya nanjak terus. Sepanjang perjalanan, Mbah Gesang mulai menunjukkan kengacoan dan gejala penyesuaian fisik yang ekstrim (ditengarai karena pengaruh keLEGENDannya).

Di salah satu tikungan akhirnya kita istirahat bentar untuk pertama kali. Sebenarnya bukan cuma Mbah Gesang, kita semua juga kaget dengan trek-nya yang nanjak terus dan lumayan curam. Melihat kondisi ini, Surya nawari untuk membawakan daypacknya Mbah Gesang. Yang langsung dipisuhi dari dalam hati oleh yang lain karena pasti daypack tersebut akan digilir membawakannya.

Sepanjang perjalanan sampai pos 1 obrolan kita terarah pada Mbah Gesang dengan segala macam sarkasme untuk Mbah Gesang, yang tidak bisa ditangkap oleh otak genius Mbah Gesang. Entah kenapa, sampai pos 1 kita nggak berhenti tertawa. Kita mulai menyimpulkan penyebabnya; antara sarkasme pada Mbah Gesang yang terlalu anzeeeng atau karena coki-coki yang dibawa Anggoro mengandung Kokain. 


POS 1-CAMP SITE SEBELUM PESTAN 

Di pos 1 kita istirahat sebentar. Tatanan batu-batu kecil habis tepat didepan pos 1, setelah itu jalannya adalah jalan tanah yang kering, berdebu, licin, dan makin menanjak. Obrolan dan candaan yang nggak putus-putus mulai berhenti di sini. Selain sudah mulai lelah, kita juga harus pake masker dan tetep fokus pada perjalanan.
 

Cahaya bulan membuat keringat dan wajah-wajah lelah nampak cukup jelas. Cahaya bulan tersebut juga membagi dirinya dengan daun-daun pepohonan. Yang memendarkan bayangan yang sama; suram dan samar-samar. Batu-batu besar yang menyela diantara pepohonan juga memantulkan cahaya bulan, membuatnya terlihat seperti relief-relief raksasa berwarna kelam tapi tetap gagah. Malam itu, bulan menampakkan setengah dari dirinya.

Untuk beberapa saat, kita masih sabar menunggu bertemu dengan pos 2. Tapi lama-kelamaan kelelahan, dehidrasi, dan kelaparan mulai memicu sedikit kepanikan. Masalahnya, didalam peta perjalanan, antara pos 1 dengan pos 2 lumayan dekat. Tapi, perjalanan yang panjang setelah pos 1 membuktikan kalo peta itu bisa saja salah. Setelah pos 1 kita banyak berhenti. Stok permen, coki-coki, dan gula jawa untuk tambahan kalori mulai menipis.

Selama perjalanan dari pos 1 itu kita tidak juga ketemu pos 2, akhirnya kita berhenti di salah satu tikungan yang ada bekas apinya. Karena kita sudah merasa lumayan payah, kita masak mi dan energen. Disitu, udara juga mulai mendingin. Musik SKA-REGGAE dari sebuah band dari Rusia mengalun tenang dari HP nya Imam. Karena kedinginan, beberapa dari kita mulai berpogo mengikuti musik yang memang asik buat joget-joget mirip orang mau lari tapi ketahan utang.

setelah itu perjalanan dilanjutkan. 


SAMPAI DI CAMPSITE SEBELUM PESTAN 

Saking jauhnya berjalan, kita sudah melupakan pos 2 dan berharap sudah kelewatan. Waktu itu kita benar-benar kehilangan petunjuk kita berada dimana. Apakah sudah lewat pos 2, atau masih belum sampai. Tepat jam setengah satu dinihari kita sampai di sebuah tempat datar yang disana sudah berdiri dua dome. Karena kondisi fisik sudah payah, jarak tempuh ke puncak masih jauh, kedinginan, dan ketakutan tidak menemukan tempat ngecamp lagi akhirnya kita mendirikan dome disitu. Tanpa ritual lain, kita semua langsung tidur.


 tenda biru yang jadi saksi bisu *halah

Belum pernah saya tidur senyenyak ini di gunung. Tanpa kebangun, tanpa kedinginan, tau-tau sudah jam 6 aja. Ternyata kita ngecamp di sebelum PESTAN, yang artinya kita sudah melewati pos 2 dan pos 3. Dan pemandangan di depan camp langsung berhadapan dengan Gunung Sindoro yang saat itu masih ditutup.

Sindoro, dari jauh

juga 


CAMPSITE-WATU KOTAK 

Setelah sarapan mi instan, energen, sebatang samsu, dan sekaleng sarden-dua kentang buat bertujuh, dan nulis beberapa pesan di kertas buat dipoto di puncak. Kita bersiap melanjutkan perjalanan, merapikan dome dan packing carrier masing-masing. Oiya, nggak lupa kita pake outdoor gear baru yang belum banyak dipakai dan masih belum mainstream, yaitu: SUNBLOCK 30 spf.

di PESTAN.. bukan, bukan ketan, anda salah baca

di atasnya PESTAN

 Mencoba jadi penguasa rimba

Perjalanan mulai melewati jalur batu-batuan besar, nanjak curam, dan masih berdebu. Kita sampai di Watu Kotak (Batu Kotak, walaupun sebenernya nggak kotak-kotak banget) jam sebelas-an. Di situ kita berhenti cukup lama. Karena selain sudah mulai lelah, kita mulai bisa melihat awan dari atas (yang sering dibilang samudra diatas awan).

Samudera diatas awan? maksudnya ini kali.. 


WATU KOTAK-PUNCAK 

Jalannya masih sama, berbatu dan menanjak curam. Karena berpikir sudah terlalu lelah dan masih harus melakukan perjalanan turun hari itu juga. Kita memutuskan untuk meninggalkan semua carrier di salah satu semak-semak yang diyakini nggak ada orang yang akan memakai istirahat. Setelah itu kita jalan lagi. Ajaib, badan jadi kerasa enteng.

Tidak butuh waktu lama buat sampai di pertigaan ke puncak Kawah. Dari pertigaan, jalan menjadi landai menelusuri lereng. Perjalanan dari pertigaan itu, diiringi awan-awan putih tebal bergulung-gulung yang seperti diatur untuk mengantarkan langkah kaki kita menuju puncak. Terlihat lembut, halus, entah kenapa saya jadi kepikiran avatar.

 om.. minggir om.. mau moto plangnya malah situ ikutan pose.. 

Ternyata jalan dari pertigaan ke puncak Kawah lumayan dekat. Kita kaget waktu tiba-tiba sudah sampai di bibir kawah. Gunung Sumbing ini masih aktif, yang ditandai masih mengeluarkan belerang beserta aromanya.


 sisi barat kawah

 sisi timur

 bibir kawah

Kawah Sumbing lumayan besar. Di sisi utara, saudara Sumbing (gunung Sindoro) terlihat jelas. Bergeser kebarat, tampak Slamet yang dari kejauhan masih mengeluarkan asap. Mengisi pemandangan antara Slamet dan tempat saya berdiri, gulungan awan-awan membuat gunung Prau dan dataran tinggi Dieng cukup tersamar.

Di sebelah timur, gunung Merbabu dan Merapi bergantian menampakan diri, diganggu awan-awan genit yang juga menggoda saya dengan imajinasi tentang bagaimana kalau saya bisa melayang-layang diatasnya. Berguling-guling dari satu puncak ke puncak lainnya.

Setelah puas menikmati puncak, kita melangkah turun. Meninggalkan jejak dan rasa syukur tak terbatas di sana.

 pesan dari Mbah Gesang bagi kalian.. orang-orang OT

yang moto kurang ajar 


PERJALANAN TURUN 

Seperti biasanya, perjalanan turun gunung menjadi berkali-kali lipat lebih cepat daripada saat naik. Kita mulai turun sekitar jam setengah tiga sore. Jam setengah empat kita sudah sampai Watu Kotak. Istirahat bentar, kemudian sekitar jam setengah lima kita malah sudah hampir sampai pos 2.

Ada beberapa kejadian pada saat turun ini. Mbah Gesang buru-buru turun karena sebenarnya dia ada janji dengan kakaknya di Jogja. Karena baru pertama ndaki, dia nggak memperhatikan manajemen tenaga dan perjalanan, asal cepat sampe aja. Sebenarnya dia ada didepan bareng Imam dan Surya. Dan saya, Anggoro, Aji, Boweng masih tetap dibelakang.

Sampai ketika saya yang berjalan paling depan dari rombongan belakang menemukan mbah Gesang di tengah perjalanan antara pos 3 ke pos 2 dengan keadaan yang amat sangat memprihatinkan; harapan hidup tipis. Sepatu dilepas (cekeran), jalan nggak lurus, ditanya nggak nyambung, muka bikin emosi (ini udah dari dulu sepertinya), dan nggak bawa air sama sekali. Setelah saya ajak istirahat dan makan-minum sedikit logistik yang masih tersisa, mbah Gesang saya suruh jalan duluan karena saya dan yang lain masih pengen berhenti (ngabisin sebatang dulu). Beberapa menit setelah Mbah Gesang pergi saya keinget; KMPRT, saya lupa ngasih air!

Jam setengah enam kita sampai pos 1. Kita ketemu Mbah Gesang lagi yang kondisinya nggak lebih baik dari sebelumnya. Jadinya, mulai pos 1 sampai Basecamp, kita bareng Mbah Gesang. Atau lebih tepatnya kita ngikut Mbah Gesang, kalau dia mau berhenti kita harus ikut, kalau dia mau jalan, kita juga harus ikut. Gitu.

Jalan sama Mbah Gesang yang kesadarannya tinggal 23 % ternyata cukup bikin emosi jiwa juga, ngomong apa dijawab apa. Mbah Gesang memang kelihatan bener-bener sudah kelelahan. Disaat-saat seperti itu, Cuma kesabaran Anggoro yang bisa menandinginya. Dari pos 1 sapai Basecamp, Anggoro nuntun jalan Mbah Gesang dan nyenteri dari belakang.

Kita sampai di basecamp sekitar jam setengah delapan malam. Dengan misuh-misuh tak tertahankan setelah sampai basecamp menemukan kenyataan bahwa Imam dan Surya sedang tidur.

abang lelah dek.. abang lelah 

 *** 

Tidak seperti biasanya. Dari naik sampai turun lagi, kita jarang terlibat obrolan serius selama perjalanan. Agak beda dari biasanya ketika ndaki yang hampir selalu ngobrol banyak hal filosofis, kehidupan, dan yang lainnya.. dengan sok-sokan ngerti apa yang diobrolkan tentu saja. Tapi, di perjalanan kemarin kita seperti lagi nggak butuh apapun kecuali kebersamaan dan bahan tertawaan yang sama, sesedehana itu.

 sesederhana ini


 ***
hai..