27 September 2014

Merbabu, 17 Agustusan, dan Pendakian Pertama Mereka



...”Hidup mahasiswa! hidup mahasiswa Indonesia!!!”...

Slogan ini terdengar khas saat diteriakkan secara bersama-sama. Saya selalu bisa merasakan getaran dan semangatnya ketika mendengar kemudian menirukan teriakan ini dulu pas OSPEK. Walaupun sebenarnya saya juga tidak tau betul apa arti slogan ini.

“Hidup mahasiswa”.. apakah sekarang ini mahasiswa sedang mati tidak bergerak, sehingga perlu ditegaskan kalau mahasiswa ternyata masih hidup. Meskipun keberadaannya tidak begitu terlihat dan terasa seperti angkatan 66 atau 98 dulu. Entahlah, hipotesis yang ngawur dari saya.

Pagi 16 Agustus 2013, lingkungan kampus FIS UNY terlihat ramai dan beberapa kali terdengar pekikan lantang “hidup mahasiswa Indonesia!” seperti tadi. Adalah technical meeting OSPEK tingkat fakultas dan jurusan yang menjadi penyebab keramaian tersebut terjadi. Sebagai panitia bagian dokumentasi OSPEK jurusan, saya juga terlibat dalam keramaian tersebut. Hal yang biasa sekali waktu itu, menjadi panitia dalam kegiatan hima maupun fakultas. Yang berbeda, saya tidak ikut-ikutan latah teriak “hidup mahasiswa!” seperti yang lain.

Seperti biasanya, technical meeting OSPEK seperti ini dimulai pagi kemudian berakhir sore hari. Dan sebagai panitia, saya harus tetap berada disana sampai selesai. Padahal, hari itu juga saya dan beberapa teman lain (yang sama-sama panitia juga) sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Merbabu via Selo. Dan, mau tidak mau sebelum technical meeting selesai, pantang bagi kita cabut duluan.

bersama maba-maba yang manut-manut 

Sekitar jam 3 calon maba bubar dan technical meeting sudah selesai, lalu diikuti membereskan semua perlengkapan dan kumpul evaluasi (yang lebih banyak ejek-ejekan gilanya daripada seriusnya). Ya, sebuah kebiasaan yang pasti selalu dirindukan setiap pengurus hima Geografi; kumpul sore-sore di rerumputan taman belakang gedung FE, dengan agenda penting di tangan  yang (selalu) dibahas secara nir-serius, sambil tentu saja lirak-lirik cewek-cewek FE yang sliweran, dan berlanjut dengan gitaran sampai jam 10 malam.

 ***
Tapi, kumpul sore itu tidak berlanjut sampai 10 malam seperti biasanya. Tentu saja karena beberapa dari kita sudah punya rencana sendiri kemana akan menghabiskan malam 17 Agustus itu. Selesai evaluasi, kita langsung packing ulang carrier yang sedari pagi ditinggal di hima, sambil juga menunggu teman-teman lain kumpul. Pada akhirnya, yang ikut ada 9 orang; saya, Anggoro, Lulut, Gilang, Imam, Ali dan Kiki (waktu itu mereka masih pacaran), Norton dan Arif (keduanya anak Sejarah).

Sekitar setengah 5, tanpa teriakan “hidup mahasiswa Indonesia!” kita meninggalkan ormawa FIS dengan semangat yang (pastinya) lebih lantang daripada teriakan tersebut.

Perjalanan yang hampir bareng dengan jam pulang kantor ini membuat kita ikut terjebak antrian kendaraan di beberapa titik macet. Beberapa kali pula kita melihat orang-orang dengan carrier di punggung yang mengemudikan motornya searah dengan kita. “tirakatannya bakal ramai nih”, celetuk Imam waktu itu, saya iya-iya saja.

Sekitar jam setengah 8 itu kita sampai basecamp, Lalu jam 9 kita memulai perjalanan naik melalui jalur Selo ini. Bagi sebagian besar dari kita, ini adalah pendakian pertama. Beberapa puluh meter memasuki gerbang jalur pendakian, Kiki muntah-muntah, dia sempat menyerah dan bilang tidak mau melanjutkan perjalanan lagi. Setau kita karena masuk angin, belakangan saya tau ini gelaja mountain sickness yang biasanya terjadi karena kurangnya aklimatisasi (penyesuaian). Setelah agak sehat perjalanan dilanjutkan lagi, kali ini daypack Kiki dibawa Ali.

Perjalanan malam yang diawali dengan insiden kurang menyenangkan tersebut tidak terlalu mempengaruhi suasana gila seperti biasanya, hanya kecepatan perjalanan yang agak dikurangi. Selain karena kondisi fisik Kiki, pada dasarnya kita semua juga selalu jalan pelan. Ngesoters, jalan 5 menit istirahat 10 menit. Karena ramai, sering kita saling bergantian mendahului dan melewati beberapa kelompok lain, tentu saja kemudian timbul obrolan-obrolan baru dengan kelompok-kelompok ini.

Jam 12 kita sampai di pos 3 Watu Tulis, disana ternyata sudah penuh tenda. Sebenarnya ada sedikit space yang bisa ditempati buat mendirikan tenda. Tapi, mendirikan tenda tepat di pinggir tebing yang nantinya berhadapan langsung dengan angin kencang yang bisa menerbangkan tenda  merupakan pilihan yang buruk.

Lalu terpaksa kita melanjutkan perjalanan, sambil menahan angin dan rasa ngantuk yang semakin menampar-nampar badan. Tanjakan dari Pos 3 ke Sabana 1 ini tidak main-main, sepanjang perjalanan kita belum menemui yang seperti ini sebelumnya. Tanjakan dengan elevasi yang menantang dan licin memaksa buat terjaga lagi, tidak ada kantuk lagi. Sejam kemudian, kita sampai di Sabana 1 dan akhirnya bisa mendirikan tenda disana, diantara tenda-tenda lain yang sudah lebih dulu ada.

Jam 1 pagi, tanpa banyak cakap kita bergegas tidur untuk kemudian berharap bisa bangun sebelum fajar. Beruntungnya, setengah 5 saya terbangun dan langsung membuka tenda, belum terlalu terang, tapi matahari sudah mengintip dan sinarnya menggaris mengikuti cakrawala. “Pagi yang terberkati”, batin saya..



pagi yang indah..

Saya sampai lupa membangunkan yang lain. Saat berjalan mendekati tenda, saya mendapati Norton terpaku disamping tenda, duduk bersila menghadap jurang, menghadap terbit fajar. Mukanya serius dan tidak seperti biasanya, keindahan Matahari terbit membiusnya. Tiba-tiba saya jadi sadar, ternyata semalam tadi kita tidur membelakangi jurang.

Sekitar jam 5 semuanya sudah bangun, kecuali Anggoro dan Imam. Dua orang ini memang sudah pernah naik Merbabu via Selo. “Sana ke puncak, aku nunggu disini”, kata Anggoro. Sedangkan Norton masih saja bersila disamping tenda, ketika diajak dia cuma bilang “aku nggak muncak, ntar kalian tak masakin aja”. Jadinya, perjalanan ke puncak minus Anggoro, Imam, dan Norton.

di tanjakan pertama setelah Sabana 1

Melewati tanjakan bukit pertama setelah Sabana 1 langkah kita masih begitu yakin dan semangat sekali. Belum tau kalau dibalik bukit ini kita masih harus melewati beberapa bukit lagi sampai puncak (saya lupa ada berapa). Karena ramai dan perbedaan kecepatan, akhirnya kelompok ini terpecah jadi dua, Saya dan Arif didepan, sisanya dibelakang. Ternyata Arif ini jalannya memang cepat, saya agak menyesal jalan duluan meninggalkan  empat teman dibelakang.

Akhirnya saya jalan sendiri, tidak bareng Arif dan yang di belakang belum kelihatan juga, padahal saya sengaja melambatkan langkah. Sekitar sejam kemudian saya putuskan buat menunggu teman yang lain. Duduk sendirian dipinggir jalur pendakian, menghadap Merapi yang gagah. Hampir sejam. Kampret, mereka lama juga ternyata. Saya sempat mikir, jangan-jangan mereka nyerah dan balik ke tenda, atau jangan-jangan mereka sudah lewat dan saya tidak melihatnya. Saat itu saya juga sempat kepikiran balik kebawah, mengingat jarak ke puncak masih lumayan jauh dan masih melewati satu punggungan bukit lagi (kata orang lewat yang saya tanyai).

 
...yang gagah

Saya tidak jadi turun, beberapa saat kemudian keempat teman saya yang ditunggu-tunggu ini datang juga. Dengan wajah kusut dan lelah. Pada dasarnya alasan mereka mengapa jalannya lama sekali bukan pada kondisi fisik mereka, tetapi karena terlalu banyak foto-foto di sepanjang jalan. Setengah jam setelah ketemu, kita melanjutkan perjalanan ke puncak. Kurang lebih jam 10 kita sampai puncak, dan mendapati puncak masih ramai pendaki yang baru saja melaksanakan upacara 17 Agustus.

 
orang-orang yang saya tunggu

Meskipun tidak sempat merasakan upacara bendera di ketinggian 3000 mdpl lebih itu, kita sangat berbahagia dan bersyukur sekali bisa sampai puncak. Sebagai gantinya, kita mengadakan upacara bendera kecil berempat lengkap dengan bendera merah putih pinjaman dan nyanyian lagu Indonesia Raya nya. Dibawah langit dan matahari 17 Agustus puncak Gunung Merbabu..


Ya, setidaknya, semangat dan kecintaan kita terhadap tanah air tidak hanya dalam teriakan dan slogan didepan mahasiswa baru saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar