13 Juli 2014

Rumah Untuk Pulang (dan untuk berangkat pergi)

Postingan ini ditulis dibawah hujan malam minggu, di dalam rumah yang penghuninya sedang larut didepan laptop masing-masing, di sebuah desa di Magelang bagian utara. Tepat lepas dini hari. Dengan iringan lagu Banda Neira - Di Beranda.

Dari semua postingan yang pernah dimuat di blog ini, baru postingan ini yang ditulis di tempat yang tidak biasa macam ini. postingan-postingan lain biasanya ditulis kalau tidak dikamar, dikamar adek saya, didapur, dikelas, diperpus, dipinggir jalan pas lagi neduh dari sepedaan (pake hp), atau kalau nggak biasanya ditulis tangan dibeberapa blocknote kalau lagi pengen nulis berat-berat..

Iya, saya sedang berada di rumah salah satu teman saya, yang sudah beberapa bulan tidak berpenghuni. Jadinya, kami beberapa orang mahasiswa yang berlokasi KKN di daerah sini (Magelang, red) tinggal disini selama KKN ini. Dan saat saya menulis ini, sudah hampir dua minggu saya tinggal disini. Di sebuah rumah yang (memang) bukan rumah saya seperti biasanya.

Awalnya saya biasa saja tinggal disini, soalnya saya tinggalnya masih sama-sama dengan teman-teman sepergilaan saya sehari-hari dikampus dan dikontrakan atau dikosan mereka, nggak akan kenapa-kenapa lah pikir saya awalnya. Dan walaupun memang benar sampai saat ini tidak pernah terjadi masalah apapun (semoga sampai hari terakhir nanti).

Saya baru merasakan perbedaan antara kehidupan saya di Jogja sehari-hari dengan disini ketika saya sedang selo dan tidak ngapa-ngapain. Ketika siang-siang pergantian kegiatan dari kegiatan di sekolah ke kegiatan di masyarakat. Dari sekolah, saya dan 2 teman sekelompok, (kami tinggal 7 orang, yang 4 lainnya berbeda kelompok dan lokasi sekolah).

Sebagai gambaran, di Jogja walaupun saya juga jarang dirumah, paling kalau sampai dirumah selepas jam delapan malam, dan besoknya berangkat pagi.. Tetapi saya merasa missing an connection dengan lingkungan saya sehari-hari (and the point is this). Jalanan Jogja yang sangat saya akrabi, dengan orang-orangnya disana, angkringan disamping rumah, teman-teman sekampung dan setongkrongan, suasana seperti dirumah sendiri yang selalu saya dapati disetiap sudut manapun di Jogja (atau entah cuma perasaan saya saja).

Saat-saat seperti ketika sampai rumah teman saya, ganti pakaian, dan melihat suasana rumah yang sepi, saya jadi terpikir rumah saya sendiri dengan segala suasana ribut-ribut dan hiruk pikuknya sehari-hari, suara ibu saya, adek dan bapak saya tentu saja, suasana ketika keponakan-keponakan saya dibawa pulang oleh ibu saya untuk main kerumah, yang pasti sangat ramai.
Ngomong-ngomong soal rumah, akhir-akhir ini saya (entah kenapa) merasa agak sentimentil kalau membicarakan atau membahasnya.

Sebagian orang mendefinisikan rumah adalah sebuah bangunan yang bisa ditempati untuk berlindung, itu secara fisik. Lalu secara psikis? saya bisa mengarang, rumah lebih dari tempat pulang dan melepas lelah.. rumah adalah tempat memulai dan mengakhiri setiap perjalanan, dimana kehangatan, cinta, dan penghargaan berada didalamnya.

Mungkin karena (dengan cengengnya) saya merasa hampir dua minggu meninggalkan rumah, yang padahal cuma berada satu setengah jam perjalanan dari rumah. Saya akan malu pada teman-teman saya (kalau mereka tau) yang dari Medan, Palembang, atau lainnya. Yang rela tidak pulang kerumahnya bertahun-tahun, bahkan pada saat hari raya.. sedangkan, dari lahir sampai sekarang saya adalah anak rumahan. Mungkin itu yang jadi alasan.

Bagi saya, definisi rumah adalah yang seperti tulisan diatas, bagi orang lain bisa berbeda. lalu bagaimana dengan orang yang (excuse me) tidak punya rumah dari kecil. Bagaimana mereka mendefinisikan tempat pulang, tempat berangkat, atau tempat melepas lelah?.. Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki rumah secara fisik, tetapi dia tidak pernah merasa memiliki rumah, karena dia memang merasa hidup sendirian, tidak punya keluarga barangkali, tidak ada tempat atau kehangatan yang bisa didatangi ketika dia mulai merasa gersang, lelah terhadap dunia..

Dimanapun kita berada, bagaimana kalau kita bangun saja rumah di setiap tempat yang kita lalui? Menjadi rumah-rumah kecil yang hangat meski suatu hari pasti akan ditinggalkan juga.. Mengapa kita tidak mencoba menghangatkan kembali rumah yang dingin? Dengan tangan-tangan membentang yang siap menerima pelukan, dengan cerita-cerita yang siap menerima keluh kesah, dan dengan senyuman-senyuman disetiap langkahnya..

Mengapa kita tidak membangun rumah-rumah hangat didalam hati kita masing-masing, untuk orang lain.. Rumah hangat dengan bentangan tangan, dengan cerita-cerita melarutkan, atau dengan kelucuan-kelucuan (tentang dunia, tentu saja) yang bisa dibagikan..

Rumah yang menerima, siapapun yang ingin pulang..

Entahlah.. saya terngiang-ngiang lirik lagu Di beranda ini
"…Dan, jika suatu saat buah hatiku, buah hatimu untuk sementara waktu pergi. Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah, kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah…"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar