27 Juli 2014

Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 2-

Apa yang membuat perjalanan menjadi begitu kuat untuk diingat dalam waktu yang lama?

Seorang teman pernah bertanya seperti itu ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Madura ketika praktek lapangan selama lima hari.. lalu seorang teman lain menjawab: “setiap perjalanan itu spesial kalau kita bisa merasakan setiap hal kecil yang terlewatkan, karena selalu ada cerita berbeda disetiap momen kebersamaan”..

Begitu juga di perjalanan ke Lawu ini, apa yang membuatnya jadi tidak mudah untuk dilupakan? Sebenarnya jawabannya bisa sangat banyak. Hal-hal kecil seperti: hujan yang turun dari awal sampai akhir perjalanan, harga makanan yang mahal disetiap kita berhenti di warung makan, beberapa barang yang hilang disana (jam tangan, sepatu, dan masih ada lagi), tidak tepatnya jadwal yang kita rencanakan, warga sekitar sana yang masih punya kepercayaan kuat pada hal gaib, atau suasana yang berbeda antara kota Solo dan Jogja yang baru terasa ketika sampai Jogja lagi, dan masih banyak lainnya.

Tapi yang paling penting menurut saya adalah: TEMAN BERJALAN.



Ya, buat apa kita berjalan kalau tidak bisa berbagi kegembiraan, berbagi keluh kesah, dan berbagi keindahan disetiap langkahnya.. Sama seperti kehidupan kita, buat apa kita kita merasakan bahagia, kalau tidak untuk dibagikan.. karena kebahagiaan yang sebenarnya ada ketika kita sedang berbagi kesenangan-kesenangan kecil pada orang lain.. KKN misalnya *bentar, malah salah fokus nyet*

Mari dilanjut cerita nggembel ke Lawunya...... 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 07.00 WIB
PUNCAK HARGODUMILAH 

Kabut dan mendung nggak membuat banyak orang yang sudah berjuang mendaki dari kemarin mengurungkan niat sampai kepuncak. Hal ini terbukti dari masih ramenya orang-orang yang berada ditugu puncak ketika kita sampai sana. Karena kabut dan mendung yang sangat tebal itulah, kita tidak bisa melihat pemandangan yang biasanya disajikan oleh puncak gunung. Kita istirahat sebentar di puncak sambil foto-foto (sudah jelas, foto-foto adalah kegiatan termainstream di puncak gunung).  Sejauh mata memandang, hanya kabut tebal berwarna putih yang mendominasi, sambil sesekali titik-titik hujan kecil turun bergantian.

Disini, nafas semakin terlihat jelas, kacamata menjadi beruap, dan tangan kembali kehilangan rasa secara perlahan. Pagi itu kita berada di puncak gunung yang katanya paling dingin se-jawa. Sampai kemudian merasa cukup puas, kita semua melangkah turun.

pucuk
 
bersepuluh nih.. 
 
iya, rame ya 
 
poto ternatural sejauh ini..


SARAPAN DIBAWAH PUNCAK 

Turun dari puncak kita berhenti disebuah dataran yang ada bangunan yang atap dan dindingnya seng. Disamping bangunan tersebut, kita nggelar matras lalu menyiapkan makanan buat sarapan. Apa yang kita masak? Sudah pasti mi dan air panas untuk kopi. Ditengah-tengah masak, lagi-lagi hujan yang tidak terlalu deras turun. Terpaksa kita pindah ke rumah seng yang ada disamping gelaran matras tadi. Karena bangunan ini sempit, yang didalam hanya yang masak, sedangkan yang lain ada diluar, neduh dipinggiran, dibawah atap yang masih bersisa. Semakin lama, hujan semakin deras. 

Sayup-sayup terdengar lagu Efek Rumah Kaca – Hujan di Bulan Desember, yang secara tak terduga diplay sama Imam. Rasanya pas aja sama suasana saat itu, sepanjang jalan kita selalu ketemu hujan. Dan pagi itu ketika kita berhenti neduh disebuah bangunan kecil dibawah puncak Lawu, sambil menunggu sarapan siap, kita terpaksa mendengar lagu ini diulang-ulang dibawah hujan.
 ada yang berusaha ngidupin kompor, ada yang lagi foto-foto.. orang memang beda-beda
 
sebelum sarapan

Sayang sekali saya lupa obrolan apa yang ada sembari kita sarapan pagi itu. Yang jelas kita makan mi secara bergantian, yaitu sepiring mi yang dimakan berputar bergiliran setiap satu suap. Bukan, bukan karena logistiknya yang terbatas, yang terbatas adalah piring dan nestingnya. Cuma ada satu piring dan dua nesting yang dipakai untuk masak mi dan air.

Kita menghabiskan satu jam sebelum kembali ke haribaan Mbok Yem. Sampai di Mbok Yem kita langsung re-packing bersiap untuk turun. Hujan masih belum reda, dari dalam warung Mbok Yem kita sudah pake mantel yang nantinya akan terus terpakai sampai base camp. 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 09.00-18.00 WIB
PERJALANAN TURUN, MBOK YEM-BASECAMP 

Seperti biasa, perjalanan dimulai dengan berdoa terlebih dulu, awalnya kita jalan bareng bersepuluh. Lama-kelamaan, terbagi jadi dua kelompok jalan, saya nggak begitu ingat, yang pasti saya ada di depan. Hujan masih cukup deras, yang mebuat saya lama-kelamaan merasakan sesuatu yang tidak beres juga. Saya merasa lemes, padahal sepanjang perjalanan saya nyemil coki-coki sama gula jawa. Saat itu saya cuma takut dehidrasi, masalahnya air yang ada tinggal sedikit, dan itu buat jaga-jaga kalau ada yang kena hypotermia atau bener-bener dehidrasi, khususnya buat yang cewek.
 

antara Mbok Yem ke Pos lima, dibawah hujan


Setelah pos empat, Imam yang kejatah membawa salah satu dome di carriernya ngajak saya untuk jalan lebih cepat dan mendahului yang lain. Karena baju mulai basah semua dan mulai kedinginan, saya iya-iya aja.  Otomatis mulai sebelum pos 3 saya dan Imam misah dari rombongan dan jalan lebih dulu. Awalnya saya nggak enak sama yang lain, khususnya Anggoro dan Lulut yang bela-belain ada dibelakang buat mbarengi temen-temen yang cewek. Sementara saya dan Imam malah minggat duluan. Cuma saat itu saya juga kasihan sama imam yang membawa bawaan berat dan tanpa pakai mantel.
 
 foto sebelum misah 

Dengan keadaan seperti itu, saya dan Imam jarang berhenti buat istirahat, hampir setiap pos dilalui dengan berhenti sebentar kalau nggak tetep jalan. Karena kita tau semakin lama berhenti, akan semakin kedinginan. Jalan (lebih tepatnya setengah lari) juga nyalip-nyalip orang yang sama-sama turun.

Emang kalau dipikir-pikir pas sudah dibawah sebenarnya tadi itu gila. Dengan keadaan hujan deres, jalan yang sangat licin, dan ditambah jalannya jalan bebatuan rasanya kita sudah kepeleset dari awal kalau Tuhan tidak melindungi kita. Perjalanan dari pos ke pos juga cepet banget, saya cuma ingat dari pos tiga ke pos 2 Cuma setengah jam, padahal pas naik sekitar satu setengah jam.

Momen paling berat ada diantara pos dua ke pos satu, yang merupakan jalan paling panjang diantara yang lain. Jadi, karena saya sudah sangat capek saya sering berdelusi tiap lihat tikungan. Saya selalu melihat atap putih mirip seperti atap pos satu, yang kenyataannya setelah dekat ternyata cuma batu gede, kalau nggak gubuk-gubuk yang saya ceritakan diawal.
 

Tapi keadaan yang paling kritis ada di sebelum pos satu, si Imam ternyata berhenti dan nunggu saya. Bukan, bukan karena pengen bareng lagi, tapi karena kehausan dan sudah kehabisan air. Kritisnya ternyata air yang saya bawa cuma bersisa seperempat botol gede aqua. Karena sama-sama haus akhirnya kita sepakat untuk menahannya sampai pos satu, dan mulai ngobrak-abrik carrier berharap nemu coklat atau gula jawa. Yang ternyata sudah nggak ada sama sekali.

Sampai pos satu kita langsung duduk, yang anehnya kita nggak berusaha neduh, kita duduk dipinggir jalur pendakian, dan masih hujan-hujanan. Mungkin kita sudah nggak mikir itu, dan langsung duduk gitu aja. Sampai pos satu kita masih belum kepikiran rombongan yang ada dibelakang, naluri bertahan hidup kita lebih fokus ke diri sendiri ternyata.. ini nggak jahat, ini alami.

Dari pos satu ke base camp jalan kita sudah mulai pelan, dan mulai sering berpapasan dengan pendaki lain yang naik. Kita sampai basecamp sekitar jam dua siang. Diluar dugaan basecamp rame banget, kita pun bongkar-bongkar carrier digubug diatas gapura masuk Cemoro Sewu, dan mendirikan dome buat mengamankan barang-barang. Kita masih juga belum mikir rombongan diatas. Naluri kita mengatakan, kita harus cari warung, dan makan secara membabi buta-tuli-bisu saat itu juga. 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 14.00 WIB
NGE-CAMP DIATAS GAPURA CEMORO SEWU 

Selesai mandi ((mandi)) setelah tiga hari nggak mandi, kita langsung ke warung makan. Kehilangan pertama terjadi, jam tangan merk ei*er punya Imam ketinggalan di kamar mandi umum dan nggak ada setelah dicek balik. Selesai makan dan minum teh anget, kita baru kepikiran rombongan belakang, tapi belum yang khawatir banget, baru sebatas “udah sampai mana ya mereka..” kemudian makan lagi.

Sambil nunggu yang lain, kita iseng bikin api didepan dome buat anget-anget, padahal kita bawa kompor sebenarnya. Cuma, karena pengen mempraktekan survival cara bikin api, kita mulai mengumpulkan kayu bekas dan sampah plastik. Masalah pertama adalah kita nggak bawa korek, yang dapat diatasi dengan cepat setelah minjem di tenda sebelah. Masalah kedua adalah: kayu dan sampahnya basah semua, yang dapat diatasi dengan mengeringkannya diatas kompor hidup sambil ngrebus air. Masalah ketiga adalah gas di koreknya habis, sebagai peminjam yang bermartabat akhirnya saya beli korek baru buat ngganti, dengan kata lain: “ahelah, kenapa nggak dari tadi beli koreknya..”

Beberapa jam disini, kita mulai membicarakan teman-teman yang masih diatas. Lama-lama kepikiran juga, bagaimana keadaan mereka diatas, si Anggoro sudah boker apa belum.. si Gilang sudah selfi apa belum.. pokoknya kita mulai khawatir.

Hampir jam lima sore kita mulai ngobrol serius, termasuk pembicaraan tentang kemungkinan terburuk dan segala asumsi-asumsi yang tercipta karena kekhawatiran kita. Kita mulai nanya ke setiap orang yang baru turun, jawabannya hampir sama (yaitu nggak tau) ketika kami nanya “mbak/mas, ketemu sama rombongan delapan orang, empat cewek empat cowok, cowok yang satu gede agak botak, terus cewek yang dua pake jilbab?”..

Kita hampir sepakat untuk nyusul keatas lagi, saya mulai bawa air buat bekal, dan imam mulai pake sepatu lagi. Yang akhirnya dibatalkan ketika di tikungan pertama kita tanya seorang mbak-mbak dan dijawab: “oh, lihat mas, saya ketemu mereka di pos satu, cuma mereka berhentinya lama banget. Mereka masak disana, dan itu mas, logistik mereka banyak banget.”.. mendengar jawaban itu rasanya campur aduk. Antara seneng, lega sama “kampret, kita yang disini cemas, disana malah pesta nyeduh mi”.

Mereka sampai bawah sekitar jam setengah enam sore. Dan iya, rasanya bener-bener lega campur seneng ketika melihat mereka dari jauh dan semakin mendekat. Ah.. rasanya nggak pernah sejijik ini melihat kehadiran Anggoro, Lulut, Gilang dan yang lainnya datang.
 

Magrib, ketika mereka tiba 

Kehilangan kedua terjadi, Gilang yang pas turun memakai sepatu punya saya kelihatan kebingungan. Ternyata dia tidak menemukan sepatu itu, katanya sepatu dilepas di tengah jalan karena sol bawahnya mengelupas. Tapi di carriernya nggak ada. Dan bener, sepatu itu memang hilang. Saya harus mengikhlaskan sepatu dengan merk yang mulai langka ini. Bukan apa-apa, sepatu ini saya beli hasil dari kerja di proyek selama dua minggu ikut bapak saya. Dan karena saya nggak mikir banget, rasanya biasa saja sepatu ilang ini dibuat bercandaan.
 
sepatunya itu lho.. hft


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 19.00 WIB
BASECAMP CEMORO SEWU 

Singkat cerita mereka sudah mandi dan beres-beres, karena sudah semakin gelap, kita mulai merapikan barang-barang lagi buat dipindahkan ke basecamp yang mulai sepi. Kita dapet info kalau sore tadi angkot istimewa mulai nggak ada, gosipnya karena cuaca yang sangat buruk dan kabut tebal. Rencana berubah, kita akhirnya nginep lagi di basecamp. Sekitar jam tujuh malam saat kita makan diwarung samping basecamp, mbak Lulul dan Mbak Andriana pamit pulang duluan. Saya sempat shock, kuat juga mereka setelah seharian turun gunung, langsung balik motoran.

Apa yang spesial dari warung makan disini?.. pokeran dimeja warung setelah selesai makan sampai warungnya hampir tutup...
 
lokasi TKP dikala pagi

Kenyataan bahwa rombongan belakang jalannya lama ternyata disebabkan banyak hal, dan semuanya terungkap dalam obrolan malam itu. Di jalan, rombongan ini terbagi menjadi dua lagi. Didepan ada Gilang, Mbak Ellen, Dimas, dan Dewi. Dan dibelakang ada Lulut, Anggoro, mbak Lulul dan Mbak Andriana. Katanya mbak Ellen sempat jatuh (yang kronologisnya seperti apa juga saya nggak begitu tau). Sedangkan Dewi katanya juga kena hypotermia karena dari atas nggak pake mantel (cuma pake jaket).

Sedangkan di kelompok belakang, karena kondisi fisik yang menurun mereka jalannya juga pelan. Sebenarnya banyak cerita yang mereka punya, tapi karena saya nggak tau dan mau menghubungi mereka juga agak susah berhubung tulisan ini dibuat pas libur lebaran, akhirnya cuma seadanya seperti ini.

Malem itu kita sempat main magic-magic an juga sama bapak penjaga basecamp. Ini antara bapaknya emang pinter sulap, atau kita yang gampang dibodohi.. tapi, males lah mau cerita, yang jadi bully an saya soalnya. 


SENIN, 23 DESEMBER 2013 07.00-08.00 WIB
BASECAMP CEMORO SEWU 

Tidur nggak pernah senikmat itu, karena terlalu capek bangun-bangun sudah pagi aja. Nggak, kita nggak langsung bangun beres-beres lalu balik. Begitu membuka mata, kita ngobrol, bercanda sambil masih tiduran didalam sleeping bag. Berasa di kosan sendiri aja, padahal basecamp mulai rame, tapi kita nggak begitu peduli kayaknya waktu itu.
 

penampakan Basecamp.. ngambil dari blognya mas Priyo lagi.. hehe

Sekitar jam delapan kita mulai beres-beres, cuci muka, dan packing lagi. Kita sempat ngomong ke bapaknya soal sepatu hilang. Dan nggak disangka, bapaknya langsung reaktif dan berniat untuk menggeledah semua dome yang ada diatas gapura. Yang langsung kami cegah, karena rasanya emang nggak perlu. Setelah itu kita pamit untuk pulang ke bapaknya. Damn, pamit dengan orang yang baru dikenal nggak pernah sedrama ini, dibalik mukanya yang sangar bapak ini baik dan perhatian ke orang-orang yang ada di basecamp. 


SENIN, 23 DESEMBER 2013 09.00-13.00 WIB
CEMORO SEWU-STASIUN BALAPAN 

Kita berangkat dengan angkot istimewa yang kali ini kena tarif biasa, soalnya nggak nyarter. Konsekuensinya kita dempet-dempetan dengan penumpang lain yang mayoritas ibu-ibu dan anak kecil yang mau ke pasar.

Sampai di terminal Tawangmangu saya langsung bergegas ke warung-sate-nggak-bayar dan langsung mbayar sate yang kemarin itu. takut kalau mendadak warungnya pindah. Dan karena saya kewarung itu saya hampir ketinggal bis, ternyata yang lain sudah naik semua.. kmprt.

Karena dasarnya kita ngantukan semua, sepanjang perjalanan dari Tawangmangu ke Terminal Tirtonadi kita tidur. Menjelang sampai kota Solo saya bangun, dan ternyata yang lain juga bangun. Kota Solo nggak beda jauh sama Jogja, yang beda di Solo lebih asri dan lebih tertata.. *bukan paragraf berbayar*

Kita nggak turun di terminal Tirtonadi, tapi di sebelum lampu merah yang kalau belok kiri langsung sampai ke stasiun Balapan. Ternyata pak kernet pengertian dengan bawaan kita dan nawari turun disitu yang lebih dekat dibanding turun di terminal. Sampai stasiun kita langsung beli tiket Prameks dan nyari makan, belum makan dari pagi soalnya.
 

stasiun Individual Racing (Solo balapan)

Tragedi makanan mahal kembali terjadi, kali ini kita jadi korban semua. Awalnya kita sengaja milih warung tenda pinggir jalan yang kelihatannya murah, duit tinggal berapa lembar soalnya. Saya lupa menunya apa, kayaknya soto kalo nggak salah.. iya, soto adalah makanan yang paling sering kita makan sepanjang perjalanan ini. Yang jelas saat itu yang paling bikin shock adalah harga krupuk sebatang seribu. Yang lainnya saya lupa, tapi memang mahal semua kayaknya.
 
ini TKP nya.. btw cuma kelihatan punggungnya aja bersinar banget ya

Kira-kira jam setengah dua kita berangkat dari stasiun Balapan ke Jogja. Kali ini kita lebih banyak diam dan saya lebih milih melihat-lihat keluar jendela sambil duduk miring. Ternyata ada banyak pemandangan yang terlewatkan saat perjalanan berangkat hari Jumat. Didominasi oleh sawah-sawah yang luas dan rumah-rumah di perkampungan.. ah, saya jadi ingat rumah.
 
di PRAMEKS
 
kelakuan..


SENIN, 23 DESEMBER 2013 15.30 WIB
STASIUN LEMPUYANGAN-KOS-KOSAN KUNINGAN 

Sekitar jam setengah empat Prameks yang kita naiki sampai di Lempuyangan. Jalanan basah, ternyata disana baru saja hujan. Ketika kita sampai parkiran motor, kita menemukan kenyataan bahwa salah satu motor dari kita bocor bannya. Akhirnya, dua orang (Dimas dan Lulut) terpaksa tinggal lebih dulu di Lempuyangan untuk menambal ban.
 
ah ketemu lagi.. Lempuyangan

Saya dan yang lain ke kos-kosan Kuningan terlebih dulu untuk naruh barang dan ke Lempuyangan lagi dengan misi untuk ngambil barang mereka berdua. Sayangnya gagal, karena saya dan Imam nggak menemukan mereka. Akhirnya kita balik ke kos-kosan Kuningan lagi, dan mendapati kenyataan bahwa mereka sudah ada disana, duduk-duduk nyante sambil nyemil. Kmprt.

Bolak-balik dari Kuningan-Lempuyangan dan merasakan suasana jalanan Jogja cukup membuat saya merasa di “rumah” lagi, yaitu di JOGJA. Kita merasakan macet sepanjang jalan Sagan lagi, ketemu angkringan depan kolam renang FIK lagi, dan merasakan hiruk-pikuk jogja lagi.

Iya, kita sudah pulang. Kemanapun kita pergi, kita pasti merasakan pulang kalau sudah di Jogja lagi. THERE IS NO PLACE LIKE HOME... dan HOME IS WHERE THE HEART IS.. ah, kata-kata ini benar semua.

Kita sudah pulang, ke tempat kita seharusnya pulang.. untuk berangkat pergi lagi, di kesempatan lain.



another epic picture

END

2 komentar:

  1. Kmprt!! Scene demi scene ceritanya bikin ngakak.. andai sekarang aku punya banyak waktu seperti kalian. Empat hari dalam seminggu aja, Jum'at sampai Senin. Ah, sepertinya ini begitu mustahil :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak harus Jumat sampai Senin, dan nggak harus punya banyak waktu.. ada kesempatan waktu, ambil untuk bersenang-senang keluar.. kita ada rencana besok habis KKN (insya allah) mau ke Gede-Pangrango akhir Septemberan kalo nggak awal Oktober.. mau ikut?!

      Hapus