21 Juli 2014

Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 1-

Postingan ini harusnya di publish Desember 2013.

Cerita dimulai sekitar bulan Oktoberan ketika ada beberapa teman kami lainnya yang baru saja mendaki Lawu. Sebagai traveller dan pecinta alam pura-pura, mendadak kami jadi pengen kesana. Kemudian segera merancang rencana, mengumpulkan massa, dan tetap mengabaikan tugas dengan alasan yang kali ini jadi lebih kongkrit.

Pertama-tama yang setuju ikut: saya sendiri, Anggoro, Lulut, Gilang, Imam. Btw, mereka siapa?.. mereka adalah teman seperjuangan nggosu saya, mereka akan punya peran masing-masing dicerita nanti.. selain mereka, anggota perjalanan ke Lawu tambah dua orang cewek (yaitu Mbak Ellen sama Dewi) dan satu porter anak angkatan 2012 namanya DImas. Mbak Ellen dan Dewi ini awalnya teman sepermainan lulut, yang akhirnya jadi teman sepermainan kita juga. Sedangkan Dimas adalah adek kelas sejurusan.

Rencana segera disusun, waktu segera ditentukan, dan iuran segera ditagih secara brutal. Setelah melalui proses panjang, pada akhirnya kami memutuskan untuk jadi pergi ke Lawu setelah kuliah semester 5 selesai. Tepat pada hari terakhir kuliah, yaitu Jumat 20 Desember 2013. Dengan membolos kuliah pada hari itu.. YEAHH!!..

Rencananya ((rencananya)) kami berangkat Jumat siang setelah Jumatan naik Prameks yang jam 14.45 kemudian sampai di Solo pinda naik Bis ke Tawangmangu (Karanganyar), kemudian sampe di Terminal sana naik mobil angkot ke Base Camp Cemoro Sewu, dan malemnya nginep dulu di base camp. Sabtu pagi rencana nya mulai ndaki, sampai tempat ngecamp sore, terus malemnya ngecamp, muncak pagi berikutnya (minggu pagi), turun gunung dari pagi sampai siang, perjalanan pulang dari sore sampai malem, cari Prameks terakhir dan sampe Jogja Minggu malam.

Iya, terkadang rencana perjalanan cuma sebatas teori, karena perjalanan yang sesungguhnya akan terlalu membosankan kalau kita terus-terusan mematuhi rencana.


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 13.00-14.45 WIB
KOS-KOSAN KLEBENGAN - STASIUN LEMPUYANGAN, JOGJA

Nggak seperti biasanya, jumat itu dari malam sampai siang Jogja hujan deres nggak berhenti-berhenti. Agak ragu juga, jangan-jangan negara api mulai menyerang, tapi kok hujannya air, bukan api.. Jumat pagi diawali dengan beres-beres barang yang sudah dipacking sedari hari sebelumnya dan juga pamitan pada seluruh penghuni rumah dengan khidmat.

Karena teman-teman yang lain belum selesai packing dan masih dikosan masing-masing dari pagi, setelah Jumatan saya yang packing di kosan Lulut ditunjuk untuk berangkat pertama ke stasiun Lempuyangan buat membeli tiket. Saat itu saya merasa seperti kacung martir yang pertama kali berkorban untuk kebaikan seluruh anggota perjuangan.

Setelah misi membeli tiket tercapai, saya mulai cemas. Masalahnya adalah ketika pada saat itu waktu sudah menunjukkan jam 14.20, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan teman-teman. Sudah bolak-balik nelpon juga tanpa hasil. Tapi tepat 15 menit sebelum kereta berangkat, mereka datang juga.. stasiun Lempuyangan pun selamat dari ancaman huru-hara seorang gila yang diduga mau ngamuk.

Sepanjang perjalanan dari Jogja ke Solo kami lalui tanpa duduk sama sekali. kita juga misah, di gerbong depan ada saya, Imam, Lulut, Gilang. Sedangkan Anggoro, mbak Ellen, Dewi, sama Dimas nggak tau jadi ikut apa nggak.

di PRAMEKS


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 16.30 WIB
STASIUN SOLO BALAPAN-TERMINAL TIRTONADI, SOLO

30 menit kemudian mereka lemas

Iya, difoto itu kita terlihat senang tanpa beban. Padahal aslinya kita belum tau setelah keluar dari stasiun kita jalan kemana untuk sampai di terminal Tirtonadi. Gosipnya sih dari pintu keluar stasiun kita jalan ikut arah jalan, ada lampu merah belok kiri, nemu lampu merah lagi belok kiri lagi, habis itu lurus sampe terminal. Dan ternyata gosip memang gosip. Jadi pas kita jalan setelah lampu merah pertama itu kita menemukan kenyataan pahit kalo kita menyebrangi perlintasan rel KA dan disampingnya ada jalan gang kecil. Yang berarti: kenapa kita nggak lewat jalan gang yang menyusuri rel ini.. *elusdadaayam

kita lewat jalan yang merah, padahal ada gang kecil dijalan yang biru

Sampai di terminal sudah hampir jam 17.00, kita lumayan panik, oke lebih tepatnya BENER-BENER PANIK TAKUT NGGAK DAPAT BIS KE TAWANGMANGU. Soalnya pas kita sampe, terminal sudah sepi. Tapi untungnya kita nggak jadi nggembel beneran di terminal ini. Ternyata masih ada bis yang ke Tawangmangu, dan nama bisnya adalah RUKUN SAYUR (nggak, nggak ada bis Rukun Tetangga atau Rukun Warga, nggakusah aneh-aneh)

Bisnya sepi banget, ternyata kita yang pertama naik. Awalnya kita mikir, jangan-jangan ini bis emang khusus buat orang-orang yang mau ndaki Lawu dengan jumlah rombongan delapan orang dimana salah satunya adalah seorang awesome pake kacamata (itu saya). Tapi dugaan kita ternyata meleset. Di perjalanan, bis ini sering banget berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang.

JUMAT, 20 DESEMBER 2013 19.30 WIB
TERMINAL NGGAK TAU NAMANYA, TAWANGMANGU

Sepanjang perjalanan di bis saya tidur (jadi nggak bisa cerita banyak) dan sesekali terbangun oleh berisiknya suara dangdut koplo yang disetel di bis. Sekitar jam 19.30 kita sampai di terminal Tawangmangu (anggep aja namanya itu). Kita udah mengira ini kemalaman, ternyata belum. Begitu kita menginjakkan kaki di terminal untitled ini kita sudah disambut oleh bapak-bapak sopir angkot yang tanpa basa-basi menawarkan 100 ribu langsung jalan tanpa penumpang lain. Hih, dikira kita nggak tau harga biasanya apa.... 95 ribu.

Tapi karena kita pengen wisata kuliner dulu (baca: kelaparan) kita memutuskan untuk mampir makan di warung sekitar terminal. Dan akhirnya pilihan kita jatuh ke warung ini, warung yang ada tulisan: Soto Sapi Rp 3.500!! naluri gembel pun keluar, tanpa pikir panjang kita segera kesana.

dibilang juga apa

Sambil makan, nggak lupa kita melengkapi logistik kita seperti air mineral, makanan, rokok (sumpeh bukan saya), dan lainnya. Selesai makan kita langsung pergi takut kemalaman, dan tidak lupa sempat foto dulu sama bapaknya

 Pak, ampun, satenya sudah dibayar lho..
telah terjadi pembantaian, korbannya tercatat dua mangkok soto

Perjalanan dari terminal ke pos basecamp cemoro sewu secara mengejutkan sampai lebih cepat dari yang kita bayangkan. Ternyata jaraknya memang nggak terlalu jauh.. Pak, 95 rebu pak.. ternyata cuma segini... *shit*

Di dalam angkot istimewa ini tragedi-sate-nggak-mbayar terungkap. Pas kita ngobrol-ngobrol soal makanan tadi yang memang murah itu saya ditanya sate paru yang tadi itu harganya berapa? Murah juga apa nggak?.. selesai pertanyaan itu terlontar, tiba-tiba bumi terasa gelap (soalnya sudah malam)..  ternyata saya belum bayar sate tersebut, padahal saya ngambil dua.. *nangis garuk tanah*


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 20.30 WIB
BASE CAMP CEMORO SEWU

Sampai di base camp Cemoro Sewu, kita langsung masuk base camp buat naruh barang. Kita beruntung, base camp sepi. Cuma ada dua orang yang mau berangkat juga, yang ternyata  anak Atmajaya, dan namanya siapa lupa..

Setengah jam kita disana, hujan turun lagi. Hujan ditempat yang baru membawa suasana yang berbeda dengan orang-orang sekitar yang berbeda juga. Cuma yang sama dari hujan dimana saja adalah kemampuannya yang bisa membuat manusia dibawahnya berpikir dan berimajinasi, hingga dimana-mana tercipta lagu, puisi, elegi, juga cerita tentang hujan.

Satu jam pertama disini kita lalui dengan ngobrol soal: pendakian besok-tugas-kuliah-makanan apa yang enak disini-tugas-kuliah. Buset, sudah di Cemoro Sewu obrolannya masih soal tugas-tugas juga. Akhirnya kita sepakat setelah ini nggak ada lagi yang ngomong soal tugas. Yang nggak sengaja ngomongin tugas, halal dihukum nggak di TA selama satu semester sama sekali.

Sekitar jam sepuluh malam, kembali terjadi tragedi yang berkaitan dengan makanan. Kali ini korbannya Lulut. Jadi karena udara dingin bisa menyebabkan kelaparan, kita cari-cari warung disekitar Cemoro Sewu yang masih buka. Singkat cerita kita makan soto, pas yang lain makan soto, dia sok-sokan antimainstream dengan nggak ikut pesen makan. Tapi imannya tergoyahkan ketika yang lain menyantap soto dengan penuh nafsu hewan memangsa perawan . Akhirnya orang ini ikut-ikut pesen, cuma bedanya dia pesen POPMIE biar tetep anti mainstream. Nah tragedinya ketika saya, imam, dan gilang yang makan soto sama teh panas mbayar Rp 10.000. sementara Lulut makan POP MIE dan minum apa saya lupa mbayar Rp 9.000. Jadi antara soto yang ada nasi-daging-dan telurnya dengan POP MIE cuma selisih seribu aja.. *ketawa jahat*

Tidur di base camp Cemoro Sewu sebenernya enak, enak banget. Cuma yang bikin nggak tahan adalah dinginnya.. anginnya juga lumayan, lumayan buat ngipasi laptop yang kipas internalnya mati.


SABTU, 21 DESEMBER 2013 05.30 WIB
BASE CAMP CEMORO SEWU-PERJALANAN KE POS 1

Kita semua sudah bangun, sambil mengumpulkan nyawa kita bergantian ke kamar mandi. Nggak, kita nggak mandi, mandi pagi di tempat seperti ini hanyalah ilusi. Setelah itu kita cari sarapan bareng. Niat jahat saya mucul, saya menunjuk kearah warung yang tadi malam dan sempat usul makan disana lagi buat menjerumuskan yang belum makan disana. Tapi niat jahat ini tidak berjalan mulus ketika pada saat yang bersamaan mbak Ellen bilang “mana sih, itu yang warungnya tutup itu ya?”..  *mission failed*

 jalanan depan base camp cemoro sewu, berkabut

Akhirnya kita sarapan diwarung lain. Iya, disini banyak warung makan, dan mahal-mahal. Selain mahal-mahal, ada satu kesamaan lain di setiap warung. Yaitu selisih waktu antara pesen sampe makanan diantar membutuhkan waktu lama.
Selesai makan kita packing dan bersiap-siap untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya: Mendaki Lawu. Sebelum berangkat nggak lupa foto-foto dan berdoa dulu buat keselamatan kita. Oh iya, sebelum berangkat kita sempet ketemu sama dua cewek yang juga mau ndaki, cuma 2 orang, cewek semua pula.

Sekitar jam delapan kita memulai perjalanan. Seperti biasa, awal perjalanan kita masih semangat, ngobrol-ngobrol dan ketawa-ketawa. Sebuah keadaan yang akan berubah dalam dua jam kedepan. Ternyata jalur mendaki Lawu nanjak terus, walaupun jalannya lebar dan rapi oleh susunan oleh batu-batu tetep saja nanjaknya nggak nahan...

sebelum penghajaran dengkul

Dari base camp sampe pos satu kita menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam. Sepanjang perjalanan kanan kiri trek pendakian dikelilingi oleh pepohonan (iya pohon bukan kaki lima) hutan pinus dan cemara, batu-batuan gede, dan beberapa gubuk yang saya nggak tau untuk apa. Sebenarnya hutan di sepanjang base camp sampe pos satu cukup lebat, tapi sayangnya masih kurang kalau dibandingkan hutan di Merbabu.

Hujan turun sebelum sampai pos satu. Sampai si pos satu ini kita ketemu lagi dengan 2 cewek yang sempat ketemu sebelum naik. ternyata mereka lagi neduh dari hujan juga. Disana akhirnya kita kenalan. Inilah mereka, dua cewek itu:

Mbak Andriana dan Mbak Lulul

Ternyata Mbak Andriana nama depannya bukan Raisa, padahal kalo iya waktu itu mau saya ajak LDR kayak lagunya. Halah.

Akhirnya mereka sepakat untuk jalan bareng dengan kita. Dan rombongan delapan orang ini resmi nambah dua orang dari pos satu sampe turun besoknya.


PERJALANAN POS 1-POS 2

Dari pos satu kita jalan pas hujan berhenti. Masih seperti perjalanan menuju pos satu, kelompok jalan terpecah jadi dua. didepan ada saya, Imam, Gilang, Dewi, Dimas sementara di belakang ada Anggoro, Lulut, Mbak Ellen, mbak Lulul sama mbak Andriana. Baru juga beberapa menit kita jalan hujan turun lagi, kali ini lumayan deres dan pake mantel lagi.. perjalanan dari pos satu ke pos dua ternyata lumayan panjang, maksudnya bener-bener PANJANG. Treknya juga nanjak terus dengan jarak antar batu yang jadi semacam anak tangga lumayan lebar-lebar..RIP: dengkul.

Disebuah tikungan, kita sempat mengalami fenomena yang AWSOME karena baru sekali ini mengalaminya, yaitu turunnya kabut yang secara jelas melewati tubuh kita. Jadi terasa banget pergantian udara yang kita hirup dan rasakan pada saat kabut ini melewati kita. SEGER. KHAS. UDARA. DIGUNUNG.

sebelum kabut menelisik melewati jiwa

Antara pos 1 ke pos 2 ini kita banyak berhentinya buat istirahat. Capek nyet.


PERJALANAN POS 2-POS 3

Karena hujannya lumayan deres, kita berhenti lumayan lama di pos 2. Ternyata yang neduh disana banyak, dan posnya jadi penuh. Selama ada dipos 2 ini kita nggak berhenti ngobrol dan bercanda tentu saja. Lumayan, orang-orang yang ada dipos 2 jadi terhibur (terbukti mereka ikut ketawa setiap saya, imam dan lulut ngobrol dan ejek-ejekan nggak mutu).

Kita mulai jalan lagi saat hujan mulai lumayan reda. Tapi ditengah jalan hujan kembali menderas, karena kita tidak mau membuang waktu dan untuk menghangatkan badan, kita jalan terus. Jalurnya masih berbatu, dan kali ini batu-batuan yang disusun menjadi seperti anak tangga dengan jarak yang lumayan tinggi antar batuannya. Oh iya.. karena hujan deras, hutannya mulai lebat, dan sepi, suasananya jadi agak mistis. Suara hujan, suara hewan-hewan disekitar jalur pendakian, dan suara-suara yang lain yang membuat suasana jadi seperti itu, asik.


PERJALANAN POS 3-POS 4

Singkat cerita, dengan penuh perjuangan, kita sampai di pos 3, masih seperti pos 1 dan pos 2, bangunannya adalah bangunan setengah tertutup dan ada atap yang tinggal separo. Di pos 3 ini lumayan sepi. Kita berhenti lumayan lama buat ngopi dan nyeduh mi. Di pos 3 ini mulai tercium aroma yang aneh. Bukan, itu bukan aroma teman-teman saya yang dua hari nggak mandi, itu adalah aroma belerang yang berasal dari kawah Candradimuka (terlihat jika melalui jalur Cemoro Kandang).

 foto pos 3.. ngambil di blognya mas Priyo yang legendaris itu

Ada mitos bahwa kita tidak boleh bermalam di pos 3 ini, sebenarnya ini logis. Karena bau belerang itu bisa sewaktu-waktu meracuni siapa saja yang menghirup, bahaya kalau kita menghirupnya saat sedang tertidur. Di pos 3 ini kita di selip oleh dua pendaki yang bawa payung berdua. Nggak kepikiran sebenarnya ndaki bawa-bawa payung. Di gunung. pake payung. Berdua. Dibawah hujan. Romantis.. tapi sayang mereka laki semua. JIJIK.

Antara pos 3 sampai pos 4 masih sama jalannya, tatanan batu-batuan jadi sangat membosankan karena seperti naik tangga yang nggak ada ujungnya. Diluar dugaan, pos 4 adalah pos yang ternyata sebuah tikungan dengan tanah rata yang agak sempit, Cuma cukup satu dome kapasitas 6 orang mungkin. Tapi jelas tidak disarankan untuk nge camp disini, karena rawan kalau ada badai (katanya).


PERJALANAN POS 4-POS 5

Kayaknya kita memang berangkat di hari yang salah. Hujannya masih lumayan deras. Tapi menjelang sampai pos 5 hujan mulai mereda. Jalan sekitar setengah jam dari pos 4 kita mulai sampai di dataran yang lumayan luas, namanya pos 5. Posnya luas, tapi karena hujan, nggak ada dome yang didirikan disini.

Karena pengen menikmati kabut yang dingin, saya yang akhirnya gabung ke kelompok belakang (saya, anggoro, lulut, mbak ellen, mbak lulul, dan mbak andriana) berhenti dan nyeduh kopi lagi. Saya selalu suka perjalanan yang seperti ini, berhenti kapanpun kita mau berhenti, menikmati suasana yang kalau kita jalan terus akan terlewatkan.
sempet foto sama orang ini di pos 5, dan ternyata kaos yang dipake kopelan.. fak


PERJALANAN POS 5-Nginep di Warung Mbok Yem

Kabutnya lumayan tebal, jurang yang ada dipinggir jalur batuan jadi tidak terlihat sama sekali, jalan didepan juga, padahal saat itu masih sore sekitar jam empat-an. Karena pake senter juga akan percuma, akhirnya perjalanan dari pos 5 ke warung mbok Yem kita lalui dengan pelan (banget) sambil menggigil minta dipeluk Pevita Pearce. Antara pos 5 ke warung mbok Yem ini sebenarnya sudah mulai terlihat sabana dikanan kiri, tapi karena ketutup kabut, kita milih fokus ke jalan. Berharap nggak kepeleset dan lecet.

Karena mikir rombongan yang nyampe dulu sudah mendirikan dome, kita sante-sante aja jalannya. Tapi ketika sampai didepan warung mbok Yem, kita tidak melihat dome kita yang. Ternyata mereka nggak mendirikan dome dan langsung masuk ke warungnya mbok Yem.. kampret. Tapi keputusan ini tepat kok, soalnya di dalam warung masih lumayan sepi, dan masih ada space yang cukup buat kita bersepuluh nginep didalam. Akhirnya kita tidak jadi mendirikan dome.

Kenyataan bahwa kita nginep didalam warung mbok Yem ini sebenarnya diluar rencana kita. Awalnya kita merencanakan untuk ngecamp karena kita sudah membawa dua dome yang kapasitasnya sengaja dilebihkan. Dengan tujuan biar suasana gunungnya dapet. Tapi karena seharian hujan dan kondisi fisik teman-teman yang nggak memungkinkan lah yang membatalkan rencana spektakuler ini, tapi nggak papa.

Semakin malam, orang yang datang untuk nginep didalam warung mbok Yem semakin banyak dan rame. Sama seperti di base camp Cemoro Sewu malam sebelumnya, sebelum tidur kita tidak melewatkan ritual sakral dan suci, yaitu POKERAN. Main poker dibawah selimut hangat yang sama, saya sudah pernah merasakannya.. lalalala

ini di Mbok Yem Resort and Lounge

 aktivitas khas cewek


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 06.00 WIB
Warung Mbok Yem-PUNCAK

Pagi-pagi kita bangun, kita nggak sempat melihat sunrise, bukan karena kita nggak bangun pagi, tapi karena pagi itu mendung dan berkabut. Setelah packing makanan buat sarapan dijalan kepuncak dengan satu carrier, kita berangkat. Jalan dari mbok Yem ke puncak adalah jalan paling bagus yang kita lalui selama di lawu, sabana, edelweiss dan beberapa bunga khas puncak gunung lainnya. Yang sayangnya kabut pun tidak bisa menyembunyikan indahnya..

Sepanjang jalur ini kita menemui beberapa persimpangan antar jalur-jalur yang ada dan jalur kebeberapa puncak selain Hargodumilah. Setelah sekitar 15 menit jalan, kita sampai di puncak.

Excited? Jelas. Kecewa? Dikit. Excited karena kita sudah sampai tujuan dari perjalanan kita, kecewa dikit karena pada saat kita sampai puncak, semuanya berkabut.

  di sabana, yang berkabut
 
 sama


itu aslinya nggak sedingin yang ada di muka saya

*to be continued*

5 komentar:

  1. Gunung, kabut, dan hujan memang suatu kesatuan yg tdk bisa dipisahkan. Hikmahnya, kalian jadi bisa melihat sepasang lelaki yg berjalan dibawah payung. Romantis yaa.. Tapi ikut sedih juga pas udah sampai atas taunya berkabut, sama persis kayak pengalamanku naik merbabu akhir tahun kemarin. Tapi gak papa.. At least, kalian jadi tau kalau negeri kita itu sesungguhnya sangaaaat menakjubkan..
    Your experience is so inspired to me, and I hope that someday I can climb Lawu with your experience :)

    BalasHapus
  2. Aseeeek bener ceritanya. Ditunggu part 2 nya hihihi.

    BalasHapus
  3. Not with you, but with your experience.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah penonton kecewa.. :D
      not with me of course, actually with all my mates.. they're so emejing when we come together, trust me..

      Tapi harusnya pengalaman kami cukup jadi referensi aja, dan pengalaman selanjutnya harus lebih pecah..

      Hapus