27 Juli 2014

Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 2-

Apa yang membuat perjalanan menjadi begitu kuat untuk diingat dalam waktu yang lama?

Seorang teman pernah bertanya seperti itu ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Madura ketika praktek lapangan selama lima hari.. lalu seorang teman lain menjawab: “setiap perjalanan itu spesial kalau kita bisa merasakan setiap hal kecil yang terlewatkan, karena selalu ada cerita berbeda disetiap momen kebersamaan”..

Begitu juga di perjalanan ke Lawu ini, apa yang membuatnya jadi tidak mudah untuk dilupakan? Sebenarnya jawabannya bisa sangat banyak. Hal-hal kecil seperti: hujan yang turun dari awal sampai akhir perjalanan, harga makanan yang mahal disetiap kita berhenti di warung makan, beberapa barang yang hilang disana (jam tangan, sepatu, dan masih ada lagi), tidak tepatnya jadwal yang kita rencanakan, warga sekitar sana yang masih punya kepercayaan kuat pada hal gaib, atau suasana yang berbeda antara kota Solo dan Jogja yang baru terasa ketika sampai Jogja lagi, dan masih banyak lainnya.

Tapi yang paling penting menurut saya adalah: TEMAN BERJALAN.



Ya, buat apa kita berjalan kalau tidak bisa berbagi kegembiraan, berbagi keluh kesah, dan berbagi keindahan disetiap langkahnya.. Sama seperti kehidupan kita, buat apa kita kita merasakan bahagia, kalau tidak untuk dibagikan.. karena kebahagiaan yang sebenarnya ada ketika kita sedang berbagi kesenangan-kesenangan kecil pada orang lain.. KKN misalnya *bentar, malah salah fokus nyet*

Mari dilanjut cerita nggembel ke Lawunya...... 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 07.00 WIB
PUNCAK HARGODUMILAH 

Kabut dan mendung nggak membuat banyak orang yang sudah berjuang mendaki dari kemarin mengurungkan niat sampai kepuncak. Hal ini terbukti dari masih ramenya orang-orang yang berada ditugu puncak ketika kita sampai sana. Karena kabut dan mendung yang sangat tebal itulah, kita tidak bisa melihat pemandangan yang biasanya disajikan oleh puncak gunung. Kita istirahat sebentar di puncak sambil foto-foto (sudah jelas, foto-foto adalah kegiatan termainstream di puncak gunung).  Sejauh mata memandang, hanya kabut tebal berwarna putih yang mendominasi, sambil sesekali titik-titik hujan kecil turun bergantian.

Disini, nafas semakin terlihat jelas, kacamata menjadi beruap, dan tangan kembali kehilangan rasa secara perlahan. Pagi itu kita berada di puncak gunung yang katanya paling dingin se-jawa. Sampai kemudian merasa cukup puas, kita semua melangkah turun.

pucuk
 
bersepuluh nih.. 
 
iya, rame ya 
 
poto ternatural sejauh ini..


SARAPAN DIBAWAH PUNCAK 

Turun dari puncak kita berhenti disebuah dataran yang ada bangunan yang atap dan dindingnya seng. Disamping bangunan tersebut, kita nggelar matras lalu menyiapkan makanan buat sarapan. Apa yang kita masak? Sudah pasti mi dan air panas untuk kopi. Ditengah-tengah masak, lagi-lagi hujan yang tidak terlalu deras turun. Terpaksa kita pindah ke rumah seng yang ada disamping gelaran matras tadi. Karena bangunan ini sempit, yang didalam hanya yang masak, sedangkan yang lain ada diluar, neduh dipinggiran, dibawah atap yang masih bersisa. Semakin lama, hujan semakin deras. 

Sayup-sayup terdengar lagu Efek Rumah Kaca – Hujan di Bulan Desember, yang secara tak terduga diplay sama Imam. Rasanya pas aja sama suasana saat itu, sepanjang jalan kita selalu ketemu hujan. Dan pagi itu ketika kita berhenti neduh disebuah bangunan kecil dibawah puncak Lawu, sambil menunggu sarapan siap, kita terpaksa mendengar lagu ini diulang-ulang dibawah hujan.
 ada yang berusaha ngidupin kompor, ada yang lagi foto-foto.. orang memang beda-beda
 
sebelum sarapan

Sayang sekali saya lupa obrolan apa yang ada sembari kita sarapan pagi itu. Yang jelas kita makan mi secara bergantian, yaitu sepiring mi yang dimakan berputar bergiliran setiap satu suap. Bukan, bukan karena logistiknya yang terbatas, yang terbatas adalah piring dan nestingnya. Cuma ada satu piring dan dua nesting yang dipakai untuk masak mi dan air.

Kita menghabiskan satu jam sebelum kembali ke haribaan Mbok Yem. Sampai di Mbok Yem kita langsung re-packing bersiap untuk turun. Hujan masih belum reda, dari dalam warung Mbok Yem kita sudah pake mantel yang nantinya akan terus terpakai sampai base camp. 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 09.00-18.00 WIB
PERJALANAN TURUN, MBOK YEM-BASECAMP 

Seperti biasa, perjalanan dimulai dengan berdoa terlebih dulu, awalnya kita jalan bareng bersepuluh. Lama-kelamaan, terbagi jadi dua kelompok jalan, saya nggak begitu ingat, yang pasti saya ada di depan. Hujan masih cukup deras, yang mebuat saya lama-kelamaan merasakan sesuatu yang tidak beres juga. Saya merasa lemes, padahal sepanjang perjalanan saya nyemil coki-coki sama gula jawa. Saat itu saya cuma takut dehidrasi, masalahnya air yang ada tinggal sedikit, dan itu buat jaga-jaga kalau ada yang kena hypotermia atau bener-bener dehidrasi, khususnya buat yang cewek.
 

antara Mbok Yem ke Pos lima, dibawah hujan


Setelah pos empat, Imam yang kejatah membawa salah satu dome di carriernya ngajak saya untuk jalan lebih cepat dan mendahului yang lain. Karena baju mulai basah semua dan mulai kedinginan, saya iya-iya aja.  Otomatis mulai sebelum pos 3 saya dan Imam misah dari rombongan dan jalan lebih dulu. Awalnya saya nggak enak sama yang lain, khususnya Anggoro dan Lulut yang bela-belain ada dibelakang buat mbarengi temen-temen yang cewek. Sementara saya dan Imam malah minggat duluan. Cuma saat itu saya juga kasihan sama imam yang membawa bawaan berat dan tanpa pakai mantel.
 
 foto sebelum misah 

Dengan keadaan seperti itu, saya dan Imam jarang berhenti buat istirahat, hampir setiap pos dilalui dengan berhenti sebentar kalau nggak tetep jalan. Karena kita tau semakin lama berhenti, akan semakin kedinginan. Jalan (lebih tepatnya setengah lari) juga nyalip-nyalip orang yang sama-sama turun.

Emang kalau dipikir-pikir pas sudah dibawah sebenarnya tadi itu gila. Dengan keadaan hujan deres, jalan yang sangat licin, dan ditambah jalannya jalan bebatuan rasanya kita sudah kepeleset dari awal kalau Tuhan tidak melindungi kita. Perjalanan dari pos ke pos juga cepet banget, saya cuma ingat dari pos tiga ke pos 2 Cuma setengah jam, padahal pas naik sekitar satu setengah jam.

Momen paling berat ada diantara pos dua ke pos satu, yang merupakan jalan paling panjang diantara yang lain. Jadi, karena saya sudah sangat capek saya sering berdelusi tiap lihat tikungan. Saya selalu melihat atap putih mirip seperti atap pos satu, yang kenyataannya setelah dekat ternyata cuma batu gede, kalau nggak gubuk-gubuk yang saya ceritakan diawal.
 

Tapi keadaan yang paling kritis ada di sebelum pos satu, si Imam ternyata berhenti dan nunggu saya. Bukan, bukan karena pengen bareng lagi, tapi karena kehausan dan sudah kehabisan air. Kritisnya ternyata air yang saya bawa cuma bersisa seperempat botol gede aqua. Karena sama-sama haus akhirnya kita sepakat untuk menahannya sampai pos satu, dan mulai ngobrak-abrik carrier berharap nemu coklat atau gula jawa. Yang ternyata sudah nggak ada sama sekali.

Sampai pos satu kita langsung duduk, yang anehnya kita nggak berusaha neduh, kita duduk dipinggir jalur pendakian, dan masih hujan-hujanan. Mungkin kita sudah nggak mikir itu, dan langsung duduk gitu aja. Sampai pos satu kita masih belum kepikiran rombongan yang ada dibelakang, naluri bertahan hidup kita lebih fokus ke diri sendiri ternyata.. ini nggak jahat, ini alami.

Dari pos satu ke base camp jalan kita sudah mulai pelan, dan mulai sering berpapasan dengan pendaki lain yang naik. Kita sampai basecamp sekitar jam dua siang. Diluar dugaan basecamp rame banget, kita pun bongkar-bongkar carrier digubug diatas gapura masuk Cemoro Sewu, dan mendirikan dome buat mengamankan barang-barang. Kita masih juga belum mikir rombongan diatas. Naluri kita mengatakan, kita harus cari warung, dan makan secara membabi buta-tuli-bisu saat itu juga. 


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 14.00 WIB
NGE-CAMP DIATAS GAPURA CEMORO SEWU 

Selesai mandi ((mandi)) setelah tiga hari nggak mandi, kita langsung ke warung makan. Kehilangan pertama terjadi, jam tangan merk ei*er punya Imam ketinggalan di kamar mandi umum dan nggak ada setelah dicek balik. Selesai makan dan minum teh anget, kita baru kepikiran rombongan belakang, tapi belum yang khawatir banget, baru sebatas “udah sampai mana ya mereka..” kemudian makan lagi.

Sambil nunggu yang lain, kita iseng bikin api didepan dome buat anget-anget, padahal kita bawa kompor sebenarnya. Cuma, karena pengen mempraktekan survival cara bikin api, kita mulai mengumpulkan kayu bekas dan sampah plastik. Masalah pertama adalah kita nggak bawa korek, yang dapat diatasi dengan cepat setelah minjem di tenda sebelah. Masalah kedua adalah: kayu dan sampahnya basah semua, yang dapat diatasi dengan mengeringkannya diatas kompor hidup sambil ngrebus air. Masalah ketiga adalah gas di koreknya habis, sebagai peminjam yang bermartabat akhirnya saya beli korek baru buat ngganti, dengan kata lain: “ahelah, kenapa nggak dari tadi beli koreknya..”

Beberapa jam disini, kita mulai membicarakan teman-teman yang masih diatas. Lama-lama kepikiran juga, bagaimana keadaan mereka diatas, si Anggoro sudah boker apa belum.. si Gilang sudah selfi apa belum.. pokoknya kita mulai khawatir.

Hampir jam lima sore kita mulai ngobrol serius, termasuk pembicaraan tentang kemungkinan terburuk dan segala asumsi-asumsi yang tercipta karena kekhawatiran kita. Kita mulai nanya ke setiap orang yang baru turun, jawabannya hampir sama (yaitu nggak tau) ketika kami nanya “mbak/mas, ketemu sama rombongan delapan orang, empat cewek empat cowok, cowok yang satu gede agak botak, terus cewek yang dua pake jilbab?”..

Kita hampir sepakat untuk nyusul keatas lagi, saya mulai bawa air buat bekal, dan imam mulai pake sepatu lagi. Yang akhirnya dibatalkan ketika di tikungan pertama kita tanya seorang mbak-mbak dan dijawab: “oh, lihat mas, saya ketemu mereka di pos satu, cuma mereka berhentinya lama banget. Mereka masak disana, dan itu mas, logistik mereka banyak banget.”.. mendengar jawaban itu rasanya campur aduk. Antara seneng, lega sama “kampret, kita yang disini cemas, disana malah pesta nyeduh mi”.

Mereka sampai bawah sekitar jam setengah enam sore. Dan iya, rasanya bener-bener lega campur seneng ketika melihat mereka dari jauh dan semakin mendekat. Ah.. rasanya nggak pernah sejijik ini melihat kehadiran Anggoro, Lulut, Gilang dan yang lainnya datang.
 

Magrib, ketika mereka tiba 

Kehilangan kedua terjadi, Gilang yang pas turun memakai sepatu punya saya kelihatan kebingungan. Ternyata dia tidak menemukan sepatu itu, katanya sepatu dilepas di tengah jalan karena sol bawahnya mengelupas. Tapi di carriernya nggak ada. Dan bener, sepatu itu memang hilang. Saya harus mengikhlaskan sepatu dengan merk yang mulai langka ini. Bukan apa-apa, sepatu ini saya beli hasil dari kerja di proyek selama dua minggu ikut bapak saya. Dan karena saya nggak mikir banget, rasanya biasa saja sepatu ilang ini dibuat bercandaan.
 
sepatunya itu lho.. hft


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 19.00 WIB
BASECAMP CEMORO SEWU 

Singkat cerita mereka sudah mandi dan beres-beres, karena sudah semakin gelap, kita mulai merapikan barang-barang lagi buat dipindahkan ke basecamp yang mulai sepi. Kita dapet info kalau sore tadi angkot istimewa mulai nggak ada, gosipnya karena cuaca yang sangat buruk dan kabut tebal. Rencana berubah, kita akhirnya nginep lagi di basecamp. Sekitar jam tujuh malam saat kita makan diwarung samping basecamp, mbak Lulul dan Mbak Andriana pamit pulang duluan. Saya sempat shock, kuat juga mereka setelah seharian turun gunung, langsung balik motoran.

Apa yang spesial dari warung makan disini?.. pokeran dimeja warung setelah selesai makan sampai warungnya hampir tutup...
 
lokasi TKP dikala pagi

Kenyataan bahwa rombongan belakang jalannya lama ternyata disebabkan banyak hal, dan semuanya terungkap dalam obrolan malam itu. Di jalan, rombongan ini terbagi menjadi dua lagi. Didepan ada Gilang, Mbak Ellen, Dimas, dan Dewi. Dan dibelakang ada Lulut, Anggoro, mbak Lulul dan Mbak Andriana. Katanya mbak Ellen sempat jatuh (yang kronologisnya seperti apa juga saya nggak begitu tau). Sedangkan Dewi katanya juga kena hypotermia karena dari atas nggak pake mantel (cuma pake jaket).

Sedangkan di kelompok belakang, karena kondisi fisik yang menurun mereka jalannya juga pelan. Sebenarnya banyak cerita yang mereka punya, tapi karena saya nggak tau dan mau menghubungi mereka juga agak susah berhubung tulisan ini dibuat pas libur lebaran, akhirnya cuma seadanya seperti ini.

Malem itu kita sempat main magic-magic an juga sama bapak penjaga basecamp. Ini antara bapaknya emang pinter sulap, atau kita yang gampang dibodohi.. tapi, males lah mau cerita, yang jadi bully an saya soalnya. 


SENIN, 23 DESEMBER 2013 07.00-08.00 WIB
BASECAMP CEMORO SEWU 

Tidur nggak pernah senikmat itu, karena terlalu capek bangun-bangun sudah pagi aja. Nggak, kita nggak langsung bangun beres-beres lalu balik. Begitu membuka mata, kita ngobrol, bercanda sambil masih tiduran didalam sleeping bag. Berasa di kosan sendiri aja, padahal basecamp mulai rame, tapi kita nggak begitu peduli kayaknya waktu itu.
 

penampakan Basecamp.. ngambil dari blognya mas Priyo lagi.. hehe

Sekitar jam delapan kita mulai beres-beres, cuci muka, dan packing lagi. Kita sempat ngomong ke bapaknya soal sepatu hilang. Dan nggak disangka, bapaknya langsung reaktif dan berniat untuk menggeledah semua dome yang ada diatas gapura. Yang langsung kami cegah, karena rasanya emang nggak perlu. Setelah itu kita pamit untuk pulang ke bapaknya. Damn, pamit dengan orang yang baru dikenal nggak pernah sedrama ini, dibalik mukanya yang sangar bapak ini baik dan perhatian ke orang-orang yang ada di basecamp. 


SENIN, 23 DESEMBER 2013 09.00-13.00 WIB
CEMORO SEWU-STASIUN BALAPAN 

Kita berangkat dengan angkot istimewa yang kali ini kena tarif biasa, soalnya nggak nyarter. Konsekuensinya kita dempet-dempetan dengan penumpang lain yang mayoritas ibu-ibu dan anak kecil yang mau ke pasar.

Sampai di terminal Tawangmangu saya langsung bergegas ke warung-sate-nggak-bayar dan langsung mbayar sate yang kemarin itu. takut kalau mendadak warungnya pindah. Dan karena saya kewarung itu saya hampir ketinggal bis, ternyata yang lain sudah naik semua.. kmprt.

Karena dasarnya kita ngantukan semua, sepanjang perjalanan dari Tawangmangu ke Terminal Tirtonadi kita tidur. Menjelang sampai kota Solo saya bangun, dan ternyata yang lain juga bangun. Kota Solo nggak beda jauh sama Jogja, yang beda di Solo lebih asri dan lebih tertata.. *bukan paragraf berbayar*

Kita nggak turun di terminal Tirtonadi, tapi di sebelum lampu merah yang kalau belok kiri langsung sampai ke stasiun Balapan. Ternyata pak kernet pengertian dengan bawaan kita dan nawari turun disitu yang lebih dekat dibanding turun di terminal. Sampai stasiun kita langsung beli tiket Prameks dan nyari makan, belum makan dari pagi soalnya.
 

stasiun Individual Racing (Solo balapan)

Tragedi makanan mahal kembali terjadi, kali ini kita jadi korban semua. Awalnya kita sengaja milih warung tenda pinggir jalan yang kelihatannya murah, duit tinggal berapa lembar soalnya. Saya lupa menunya apa, kayaknya soto kalo nggak salah.. iya, soto adalah makanan yang paling sering kita makan sepanjang perjalanan ini. Yang jelas saat itu yang paling bikin shock adalah harga krupuk sebatang seribu. Yang lainnya saya lupa, tapi memang mahal semua kayaknya.
 
ini TKP nya.. btw cuma kelihatan punggungnya aja bersinar banget ya

Kira-kira jam setengah dua kita berangkat dari stasiun Balapan ke Jogja. Kali ini kita lebih banyak diam dan saya lebih milih melihat-lihat keluar jendela sambil duduk miring. Ternyata ada banyak pemandangan yang terlewatkan saat perjalanan berangkat hari Jumat. Didominasi oleh sawah-sawah yang luas dan rumah-rumah di perkampungan.. ah, saya jadi ingat rumah.
 
di PRAMEKS
 
kelakuan..


SENIN, 23 DESEMBER 2013 15.30 WIB
STASIUN LEMPUYANGAN-KOS-KOSAN KUNINGAN 

Sekitar jam setengah empat Prameks yang kita naiki sampai di Lempuyangan. Jalanan basah, ternyata disana baru saja hujan. Ketika kita sampai parkiran motor, kita menemukan kenyataan bahwa salah satu motor dari kita bocor bannya. Akhirnya, dua orang (Dimas dan Lulut) terpaksa tinggal lebih dulu di Lempuyangan untuk menambal ban.
 
ah ketemu lagi.. Lempuyangan

Saya dan yang lain ke kos-kosan Kuningan terlebih dulu untuk naruh barang dan ke Lempuyangan lagi dengan misi untuk ngambil barang mereka berdua. Sayangnya gagal, karena saya dan Imam nggak menemukan mereka. Akhirnya kita balik ke kos-kosan Kuningan lagi, dan mendapati kenyataan bahwa mereka sudah ada disana, duduk-duduk nyante sambil nyemil. Kmprt.

Bolak-balik dari Kuningan-Lempuyangan dan merasakan suasana jalanan Jogja cukup membuat saya merasa di “rumah” lagi, yaitu di JOGJA. Kita merasakan macet sepanjang jalan Sagan lagi, ketemu angkringan depan kolam renang FIK lagi, dan merasakan hiruk-pikuk jogja lagi.

Iya, kita sudah pulang. Kemanapun kita pergi, kita pasti merasakan pulang kalau sudah di Jogja lagi. THERE IS NO PLACE LIKE HOME... dan HOME IS WHERE THE HEART IS.. ah, kata-kata ini benar semua.

Kita sudah pulang, ke tempat kita seharusnya pulang.. untuk berangkat pergi lagi, di kesempatan lain.



another epic picture

END

21 Juli 2014

Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 1-

Postingan ini harusnya di publish Desember 2013.

Cerita dimulai sekitar bulan Oktoberan ketika ada beberapa teman kami lainnya yang baru saja mendaki Lawu. Sebagai traveller dan pecinta alam pura-pura, mendadak kami jadi pengen kesana. Kemudian segera merancang rencana, mengumpulkan massa, dan tetap mengabaikan tugas dengan alasan yang kali ini jadi lebih kongkrit.

Pertama-tama yang setuju ikut: saya sendiri, Anggoro, Lulut, Gilang, Imam. Btw, mereka siapa?.. mereka adalah teman seperjuangan nggosu saya, mereka akan punya peran masing-masing dicerita nanti.. selain mereka, anggota perjalanan ke Lawu tambah dua orang cewek (yaitu Mbak Ellen sama Dewi) dan satu porter anak angkatan 2012 namanya DImas. Mbak Ellen dan Dewi ini awalnya teman sepermainan lulut, yang akhirnya jadi teman sepermainan kita juga. Sedangkan Dimas adalah adek kelas sejurusan.

Rencana segera disusun, waktu segera ditentukan, dan iuran segera ditagih secara brutal. Setelah melalui proses panjang, pada akhirnya kami memutuskan untuk jadi pergi ke Lawu setelah kuliah semester 5 selesai. Tepat pada hari terakhir kuliah, yaitu Jumat 20 Desember 2013. Dengan membolos kuliah pada hari itu.. YEAHH!!..

Rencananya ((rencananya)) kami berangkat Jumat siang setelah Jumatan naik Prameks yang jam 14.45 kemudian sampai di Solo pinda naik Bis ke Tawangmangu (Karanganyar), kemudian sampe di Terminal sana naik mobil angkot ke Base Camp Cemoro Sewu, dan malemnya nginep dulu di base camp. Sabtu pagi rencana nya mulai ndaki, sampai tempat ngecamp sore, terus malemnya ngecamp, muncak pagi berikutnya (minggu pagi), turun gunung dari pagi sampai siang, perjalanan pulang dari sore sampai malem, cari Prameks terakhir dan sampe Jogja Minggu malam.

Iya, terkadang rencana perjalanan cuma sebatas teori, karena perjalanan yang sesungguhnya akan terlalu membosankan kalau kita terus-terusan mematuhi rencana.


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 13.00-14.45 WIB
KOS-KOSAN KLEBENGAN - STASIUN LEMPUYANGAN, JOGJA

Nggak seperti biasanya, jumat itu dari malam sampai siang Jogja hujan deres nggak berhenti-berhenti. Agak ragu juga, jangan-jangan negara api mulai menyerang, tapi kok hujannya air, bukan api.. Jumat pagi diawali dengan beres-beres barang yang sudah dipacking sedari hari sebelumnya dan juga pamitan pada seluruh penghuni rumah dengan khidmat.

Karena teman-teman yang lain belum selesai packing dan masih dikosan masing-masing dari pagi, setelah Jumatan saya yang packing di kosan Lulut ditunjuk untuk berangkat pertama ke stasiun Lempuyangan buat membeli tiket. Saat itu saya merasa seperti kacung martir yang pertama kali berkorban untuk kebaikan seluruh anggota perjuangan.

Setelah misi membeli tiket tercapai, saya mulai cemas. Masalahnya adalah ketika pada saat itu waktu sudah menunjukkan jam 14.20, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan teman-teman. Sudah bolak-balik nelpon juga tanpa hasil. Tapi tepat 15 menit sebelum kereta berangkat, mereka datang juga.. stasiun Lempuyangan pun selamat dari ancaman huru-hara seorang gila yang diduga mau ngamuk.

Sepanjang perjalanan dari Jogja ke Solo kami lalui tanpa duduk sama sekali. kita juga misah, di gerbong depan ada saya, Imam, Lulut, Gilang. Sedangkan Anggoro, mbak Ellen, Dewi, sama Dimas nggak tau jadi ikut apa nggak.

di PRAMEKS


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 16.30 WIB
STASIUN SOLO BALAPAN-TERMINAL TIRTONADI, SOLO

30 menit kemudian mereka lemas

Iya, difoto itu kita terlihat senang tanpa beban. Padahal aslinya kita belum tau setelah keluar dari stasiun kita jalan kemana untuk sampai di terminal Tirtonadi. Gosipnya sih dari pintu keluar stasiun kita jalan ikut arah jalan, ada lampu merah belok kiri, nemu lampu merah lagi belok kiri lagi, habis itu lurus sampe terminal. Dan ternyata gosip memang gosip. Jadi pas kita jalan setelah lampu merah pertama itu kita menemukan kenyataan pahit kalo kita menyebrangi perlintasan rel KA dan disampingnya ada jalan gang kecil. Yang berarti: kenapa kita nggak lewat jalan gang yang menyusuri rel ini.. *elusdadaayam

kita lewat jalan yang merah, padahal ada gang kecil dijalan yang biru

Sampai di terminal sudah hampir jam 17.00, kita lumayan panik, oke lebih tepatnya BENER-BENER PANIK TAKUT NGGAK DAPAT BIS KE TAWANGMANGU. Soalnya pas kita sampe, terminal sudah sepi. Tapi untungnya kita nggak jadi nggembel beneran di terminal ini. Ternyata masih ada bis yang ke Tawangmangu, dan nama bisnya adalah RUKUN SAYUR (nggak, nggak ada bis Rukun Tetangga atau Rukun Warga, nggakusah aneh-aneh)

Bisnya sepi banget, ternyata kita yang pertama naik. Awalnya kita mikir, jangan-jangan ini bis emang khusus buat orang-orang yang mau ndaki Lawu dengan jumlah rombongan delapan orang dimana salah satunya adalah seorang awesome pake kacamata (itu saya). Tapi dugaan kita ternyata meleset. Di perjalanan, bis ini sering banget berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang.

JUMAT, 20 DESEMBER 2013 19.30 WIB
TERMINAL NGGAK TAU NAMANYA, TAWANGMANGU

Sepanjang perjalanan di bis saya tidur (jadi nggak bisa cerita banyak) dan sesekali terbangun oleh berisiknya suara dangdut koplo yang disetel di bis. Sekitar jam 19.30 kita sampai di terminal Tawangmangu (anggep aja namanya itu). Kita udah mengira ini kemalaman, ternyata belum. Begitu kita menginjakkan kaki di terminal untitled ini kita sudah disambut oleh bapak-bapak sopir angkot yang tanpa basa-basi menawarkan 100 ribu langsung jalan tanpa penumpang lain. Hih, dikira kita nggak tau harga biasanya apa.... 95 ribu.

Tapi karena kita pengen wisata kuliner dulu (baca: kelaparan) kita memutuskan untuk mampir makan di warung sekitar terminal. Dan akhirnya pilihan kita jatuh ke warung ini, warung yang ada tulisan: Soto Sapi Rp 3.500!! naluri gembel pun keluar, tanpa pikir panjang kita segera kesana.

dibilang juga apa

Sambil makan, nggak lupa kita melengkapi logistik kita seperti air mineral, makanan, rokok (sumpeh bukan saya), dan lainnya. Selesai makan kita langsung pergi takut kemalaman, dan tidak lupa sempat foto dulu sama bapaknya

 Pak, ampun, satenya sudah dibayar lho..
telah terjadi pembantaian, korbannya tercatat dua mangkok soto

Perjalanan dari terminal ke pos basecamp cemoro sewu secara mengejutkan sampai lebih cepat dari yang kita bayangkan. Ternyata jaraknya memang nggak terlalu jauh.. Pak, 95 rebu pak.. ternyata cuma segini... *shit*

Di dalam angkot istimewa ini tragedi-sate-nggak-mbayar terungkap. Pas kita ngobrol-ngobrol soal makanan tadi yang memang murah itu saya ditanya sate paru yang tadi itu harganya berapa? Murah juga apa nggak?.. selesai pertanyaan itu terlontar, tiba-tiba bumi terasa gelap (soalnya sudah malam)..  ternyata saya belum bayar sate tersebut, padahal saya ngambil dua.. *nangis garuk tanah*


JUMAT, 20 DESEMBER 2013 20.30 WIB
BASE CAMP CEMORO SEWU

Sampai di base camp Cemoro Sewu, kita langsung masuk base camp buat naruh barang. Kita beruntung, base camp sepi. Cuma ada dua orang yang mau berangkat juga, yang ternyata  anak Atmajaya, dan namanya siapa lupa..

Setengah jam kita disana, hujan turun lagi. Hujan ditempat yang baru membawa suasana yang berbeda dengan orang-orang sekitar yang berbeda juga. Cuma yang sama dari hujan dimana saja adalah kemampuannya yang bisa membuat manusia dibawahnya berpikir dan berimajinasi, hingga dimana-mana tercipta lagu, puisi, elegi, juga cerita tentang hujan.

Satu jam pertama disini kita lalui dengan ngobrol soal: pendakian besok-tugas-kuliah-makanan apa yang enak disini-tugas-kuliah. Buset, sudah di Cemoro Sewu obrolannya masih soal tugas-tugas juga. Akhirnya kita sepakat setelah ini nggak ada lagi yang ngomong soal tugas. Yang nggak sengaja ngomongin tugas, halal dihukum nggak di TA selama satu semester sama sekali.

Sekitar jam sepuluh malam, kembali terjadi tragedi yang berkaitan dengan makanan. Kali ini korbannya Lulut. Jadi karena udara dingin bisa menyebabkan kelaparan, kita cari-cari warung disekitar Cemoro Sewu yang masih buka. Singkat cerita kita makan soto, pas yang lain makan soto, dia sok-sokan antimainstream dengan nggak ikut pesen makan. Tapi imannya tergoyahkan ketika yang lain menyantap soto dengan penuh nafsu hewan memangsa perawan . Akhirnya orang ini ikut-ikut pesen, cuma bedanya dia pesen POPMIE biar tetep anti mainstream. Nah tragedinya ketika saya, imam, dan gilang yang makan soto sama teh panas mbayar Rp 10.000. sementara Lulut makan POP MIE dan minum apa saya lupa mbayar Rp 9.000. Jadi antara soto yang ada nasi-daging-dan telurnya dengan POP MIE cuma selisih seribu aja.. *ketawa jahat*

Tidur di base camp Cemoro Sewu sebenernya enak, enak banget. Cuma yang bikin nggak tahan adalah dinginnya.. anginnya juga lumayan, lumayan buat ngipasi laptop yang kipas internalnya mati.


SABTU, 21 DESEMBER 2013 05.30 WIB
BASE CAMP CEMORO SEWU-PERJALANAN KE POS 1

Kita semua sudah bangun, sambil mengumpulkan nyawa kita bergantian ke kamar mandi. Nggak, kita nggak mandi, mandi pagi di tempat seperti ini hanyalah ilusi. Setelah itu kita cari sarapan bareng. Niat jahat saya mucul, saya menunjuk kearah warung yang tadi malam dan sempat usul makan disana lagi buat menjerumuskan yang belum makan disana. Tapi niat jahat ini tidak berjalan mulus ketika pada saat yang bersamaan mbak Ellen bilang “mana sih, itu yang warungnya tutup itu ya?”..  *mission failed*

 jalanan depan base camp cemoro sewu, berkabut

Akhirnya kita sarapan diwarung lain. Iya, disini banyak warung makan, dan mahal-mahal. Selain mahal-mahal, ada satu kesamaan lain di setiap warung. Yaitu selisih waktu antara pesen sampe makanan diantar membutuhkan waktu lama.
Selesai makan kita packing dan bersiap-siap untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya: Mendaki Lawu. Sebelum berangkat nggak lupa foto-foto dan berdoa dulu buat keselamatan kita. Oh iya, sebelum berangkat kita sempet ketemu sama dua cewek yang juga mau ndaki, cuma 2 orang, cewek semua pula.

Sekitar jam delapan kita memulai perjalanan. Seperti biasa, awal perjalanan kita masih semangat, ngobrol-ngobrol dan ketawa-ketawa. Sebuah keadaan yang akan berubah dalam dua jam kedepan. Ternyata jalur mendaki Lawu nanjak terus, walaupun jalannya lebar dan rapi oleh susunan oleh batu-batu tetep saja nanjaknya nggak nahan...

sebelum penghajaran dengkul

Dari base camp sampe pos satu kita menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam. Sepanjang perjalanan kanan kiri trek pendakian dikelilingi oleh pepohonan (iya pohon bukan kaki lima) hutan pinus dan cemara, batu-batuan gede, dan beberapa gubuk yang saya nggak tau untuk apa. Sebenarnya hutan di sepanjang base camp sampe pos satu cukup lebat, tapi sayangnya masih kurang kalau dibandingkan hutan di Merbabu.

Hujan turun sebelum sampai pos satu. Sampai si pos satu ini kita ketemu lagi dengan 2 cewek yang sempat ketemu sebelum naik. ternyata mereka lagi neduh dari hujan juga. Disana akhirnya kita kenalan. Inilah mereka, dua cewek itu:

Mbak Andriana dan Mbak Lulul

Ternyata Mbak Andriana nama depannya bukan Raisa, padahal kalo iya waktu itu mau saya ajak LDR kayak lagunya. Halah.

Akhirnya mereka sepakat untuk jalan bareng dengan kita. Dan rombongan delapan orang ini resmi nambah dua orang dari pos satu sampe turun besoknya.


PERJALANAN POS 1-POS 2

Dari pos satu kita jalan pas hujan berhenti. Masih seperti perjalanan menuju pos satu, kelompok jalan terpecah jadi dua. didepan ada saya, Imam, Gilang, Dewi, Dimas sementara di belakang ada Anggoro, Lulut, Mbak Ellen, mbak Lulul sama mbak Andriana. Baru juga beberapa menit kita jalan hujan turun lagi, kali ini lumayan deres dan pake mantel lagi.. perjalanan dari pos satu ke pos dua ternyata lumayan panjang, maksudnya bener-bener PANJANG. Treknya juga nanjak terus dengan jarak antar batu yang jadi semacam anak tangga lumayan lebar-lebar..RIP: dengkul.

Disebuah tikungan, kita sempat mengalami fenomena yang AWSOME karena baru sekali ini mengalaminya, yaitu turunnya kabut yang secara jelas melewati tubuh kita. Jadi terasa banget pergantian udara yang kita hirup dan rasakan pada saat kabut ini melewati kita. SEGER. KHAS. UDARA. DIGUNUNG.

sebelum kabut menelisik melewati jiwa

Antara pos 1 ke pos 2 ini kita banyak berhentinya buat istirahat. Capek nyet.


PERJALANAN POS 2-POS 3

Karena hujannya lumayan deres, kita berhenti lumayan lama di pos 2. Ternyata yang neduh disana banyak, dan posnya jadi penuh. Selama ada dipos 2 ini kita nggak berhenti ngobrol dan bercanda tentu saja. Lumayan, orang-orang yang ada dipos 2 jadi terhibur (terbukti mereka ikut ketawa setiap saya, imam dan lulut ngobrol dan ejek-ejekan nggak mutu).

Kita mulai jalan lagi saat hujan mulai lumayan reda. Tapi ditengah jalan hujan kembali menderas, karena kita tidak mau membuang waktu dan untuk menghangatkan badan, kita jalan terus. Jalurnya masih berbatu, dan kali ini batu-batuan yang disusun menjadi seperti anak tangga dengan jarak yang lumayan tinggi antar batuannya. Oh iya.. karena hujan deras, hutannya mulai lebat, dan sepi, suasananya jadi agak mistis. Suara hujan, suara hewan-hewan disekitar jalur pendakian, dan suara-suara yang lain yang membuat suasana jadi seperti itu, asik.


PERJALANAN POS 3-POS 4

Singkat cerita, dengan penuh perjuangan, kita sampai di pos 3, masih seperti pos 1 dan pos 2, bangunannya adalah bangunan setengah tertutup dan ada atap yang tinggal separo. Di pos 3 ini lumayan sepi. Kita berhenti lumayan lama buat ngopi dan nyeduh mi. Di pos 3 ini mulai tercium aroma yang aneh. Bukan, itu bukan aroma teman-teman saya yang dua hari nggak mandi, itu adalah aroma belerang yang berasal dari kawah Candradimuka (terlihat jika melalui jalur Cemoro Kandang).

 foto pos 3.. ngambil di blognya mas Priyo yang legendaris itu

Ada mitos bahwa kita tidak boleh bermalam di pos 3 ini, sebenarnya ini logis. Karena bau belerang itu bisa sewaktu-waktu meracuni siapa saja yang menghirup, bahaya kalau kita menghirupnya saat sedang tertidur. Di pos 3 ini kita di selip oleh dua pendaki yang bawa payung berdua. Nggak kepikiran sebenarnya ndaki bawa-bawa payung. Di gunung. pake payung. Berdua. Dibawah hujan. Romantis.. tapi sayang mereka laki semua. JIJIK.

Antara pos 3 sampai pos 4 masih sama jalannya, tatanan batu-batuan jadi sangat membosankan karena seperti naik tangga yang nggak ada ujungnya. Diluar dugaan, pos 4 adalah pos yang ternyata sebuah tikungan dengan tanah rata yang agak sempit, Cuma cukup satu dome kapasitas 6 orang mungkin. Tapi jelas tidak disarankan untuk nge camp disini, karena rawan kalau ada badai (katanya).


PERJALANAN POS 4-POS 5

Kayaknya kita memang berangkat di hari yang salah. Hujannya masih lumayan deras. Tapi menjelang sampai pos 5 hujan mulai mereda. Jalan sekitar setengah jam dari pos 4 kita mulai sampai di dataran yang lumayan luas, namanya pos 5. Posnya luas, tapi karena hujan, nggak ada dome yang didirikan disini.

Karena pengen menikmati kabut yang dingin, saya yang akhirnya gabung ke kelompok belakang (saya, anggoro, lulut, mbak ellen, mbak lulul, dan mbak andriana) berhenti dan nyeduh kopi lagi. Saya selalu suka perjalanan yang seperti ini, berhenti kapanpun kita mau berhenti, menikmati suasana yang kalau kita jalan terus akan terlewatkan.
sempet foto sama orang ini di pos 5, dan ternyata kaos yang dipake kopelan.. fak


PERJALANAN POS 5-Nginep di Warung Mbok Yem

Kabutnya lumayan tebal, jurang yang ada dipinggir jalur batuan jadi tidak terlihat sama sekali, jalan didepan juga, padahal saat itu masih sore sekitar jam empat-an. Karena pake senter juga akan percuma, akhirnya perjalanan dari pos 5 ke warung mbok Yem kita lalui dengan pelan (banget) sambil menggigil minta dipeluk Pevita Pearce. Antara pos 5 ke warung mbok Yem ini sebenarnya sudah mulai terlihat sabana dikanan kiri, tapi karena ketutup kabut, kita milih fokus ke jalan. Berharap nggak kepeleset dan lecet.

Karena mikir rombongan yang nyampe dulu sudah mendirikan dome, kita sante-sante aja jalannya. Tapi ketika sampai didepan warung mbok Yem, kita tidak melihat dome kita yang. Ternyata mereka nggak mendirikan dome dan langsung masuk ke warungnya mbok Yem.. kampret. Tapi keputusan ini tepat kok, soalnya di dalam warung masih lumayan sepi, dan masih ada space yang cukup buat kita bersepuluh nginep didalam. Akhirnya kita tidak jadi mendirikan dome.

Kenyataan bahwa kita nginep didalam warung mbok Yem ini sebenarnya diluar rencana kita. Awalnya kita merencanakan untuk ngecamp karena kita sudah membawa dua dome yang kapasitasnya sengaja dilebihkan. Dengan tujuan biar suasana gunungnya dapet. Tapi karena seharian hujan dan kondisi fisik teman-teman yang nggak memungkinkan lah yang membatalkan rencana spektakuler ini, tapi nggak papa.

Semakin malam, orang yang datang untuk nginep didalam warung mbok Yem semakin banyak dan rame. Sama seperti di base camp Cemoro Sewu malam sebelumnya, sebelum tidur kita tidak melewatkan ritual sakral dan suci, yaitu POKERAN. Main poker dibawah selimut hangat yang sama, saya sudah pernah merasakannya.. lalalala

ini di Mbok Yem Resort and Lounge

 aktivitas khas cewek


MINGGU, 22 DESEMBER 2013 06.00 WIB
Warung Mbok Yem-PUNCAK

Pagi-pagi kita bangun, kita nggak sempat melihat sunrise, bukan karena kita nggak bangun pagi, tapi karena pagi itu mendung dan berkabut. Setelah packing makanan buat sarapan dijalan kepuncak dengan satu carrier, kita berangkat. Jalan dari mbok Yem ke puncak adalah jalan paling bagus yang kita lalui selama di lawu, sabana, edelweiss dan beberapa bunga khas puncak gunung lainnya. Yang sayangnya kabut pun tidak bisa menyembunyikan indahnya..

Sepanjang jalur ini kita menemui beberapa persimpangan antar jalur-jalur yang ada dan jalur kebeberapa puncak selain Hargodumilah. Setelah sekitar 15 menit jalan, kita sampai di puncak.

Excited? Jelas. Kecewa? Dikit. Excited karena kita sudah sampai tujuan dari perjalanan kita, kecewa dikit karena pada saat kita sampai puncak, semuanya berkabut.

  di sabana, yang berkabut
 
 sama


itu aslinya nggak sedingin yang ada di muka saya

*to be continued*

13 Juli 2014

Rumah Untuk Pulang (dan untuk berangkat pergi)

Postingan ini ditulis dibawah hujan malam minggu, di dalam rumah yang penghuninya sedang larut didepan laptop masing-masing, di sebuah desa di Magelang bagian utara. Tepat lepas dini hari. Dengan iringan lagu Banda Neira - Di Beranda.

Dari semua postingan yang pernah dimuat di blog ini, baru postingan ini yang ditulis di tempat yang tidak biasa macam ini. postingan-postingan lain biasanya ditulis kalau tidak dikamar, dikamar adek saya, didapur, dikelas, diperpus, dipinggir jalan pas lagi neduh dari sepedaan (pake hp), atau kalau nggak biasanya ditulis tangan dibeberapa blocknote kalau lagi pengen nulis berat-berat..

Iya, saya sedang berada di rumah salah satu teman saya, yang sudah beberapa bulan tidak berpenghuni. Jadinya, kami beberapa orang mahasiswa yang berlokasi KKN di daerah sini (Magelang, red) tinggal disini selama KKN ini. Dan saat saya menulis ini, sudah hampir dua minggu saya tinggal disini. Di sebuah rumah yang (memang) bukan rumah saya seperti biasanya.

Awalnya saya biasa saja tinggal disini, soalnya saya tinggalnya masih sama-sama dengan teman-teman sepergilaan saya sehari-hari dikampus dan dikontrakan atau dikosan mereka, nggak akan kenapa-kenapa lah pikir saya awalnya. Dan walaupun memang benar sampai saat ini tidak pernah terjadi masalah apapun (semoga sampai hari terakhir nanti).

Saya baru merasakan perbedaan antara kehidupan saya di Jogja sehari-hari dengan disini ketika saya sedang selo dan tidak ngapa-ngapain. Ketika siang-siang pergantian kegiatan dari kegiatan di sekolah ke kegiatan di masyarakat. Dari sekolah, saya dan 2 teman sekelompok, (kami tinggal 7 orang, yang 4 lainnya berbeda kelompok dan lokasi sekolah).

Sebagai gambaran, di Jogja walaupun saya juga jarang dirumah, paling kalau sampai dirumah selepas jam delapan malam, dan besoknya berangkat pagi.. Tetapi saya merasa missing an connection dengan lingkungan saya sehari-hari (and the point is this). Jalanan Jogja yang sangat saya akrabi, dengan orang-orangnya disana, angkringan disamping rumah, teman-teman sekampung dan setongkrongan, suasana seperti dirumah sendiri yang selalu saya dapati disetiap sudut manapun di Jogja (atau entah cuma perasaan saya saja).

Saat-saat seperti ketika sampai rumah teman saya, ganti pakaian, dan melihat suasana rumah yang sepi, saya jadi terpikir rumah saya sendiri dengan segala suasana ribut-ribut dan hiruk pikuknya sehari-hari, suara ibu saya, adek dan bapak saya tentu saja, suasana ketika keponakan-keponakan saya dibawa pulang oleh ibu saya untuk main kerumah, yang pasti sangat ramai.
Ngomong-ngomong soal rumah, akhir-akhir ini saya (entah kenapa) merasa agak sentimentil kalau membicarakan atau membahasnya.

Sebagian orang mendefinisikan rumah adalah sebuah bangunan yang bisa ditempati untuk berlindung, itu secara fisik. Lalu secara psikis? saya bisa mengarang, rumah lebih dari tempat pulang dan melepas lelah.. rumah adalah tempat memulai dan mengakhiri setiap perjalanan, dimana kehangatan, cinta, dan penghargaan berada didalamnya.

Mungkin karena (dengan cengengnya) saya merasa hampir dua minggu meninggalkan rumah, yang padahal cuma berada satu setengah jam perjalanan dari rumah. Saya akan malu pada teman-teman saya (kalau mereka tau) yang dari Medan, Palembang, atau lainnya. Yang rela tidak pulang kerumahnya bertahun-tahun, bahkan pada saat hari raya.. sedangkan, dari lahir sampai sekarang saya adalah anak rumahan. Mungkin itu yang jadi alasan.

Bagi saya, definisi rumah adalah yang seperti tulisan diatas, bagi orang lain bisa berbeda. lalu bagaimana dengan orang yang (excuse me) tidak punya rumah dari kecil. Bagaimana mereka mendefinisikan tempat pulang, tempat berangkat, atau tempat melepas lelah?.. Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki rumah secara fisik, tetapi dia tidak pernah merasa memiliki rumah, karena dia memang merasa hidup sendirian, tidak punya keluarga barangkali, tidak ada tempat atau kehangatan yang bisa didatangi ketika dia mulai merasa gersang, lelah terhadap dunia..

Dimanapun kita berada, bagaimana kalau kita bangun saja rumah di setiap tempat yang kita lalui? Menjadi rumah-rumah kecil yang hangat meski suatu hari pasti akan ditinggalkan juga.. Mengapa kita tidak mencoba menghangatkan kembali rumah yang dingin? Dengan tangan-tangan membentang yang siap menerima pelukan, dengan cerita-cerita yang siap menerima keluh kesah, dan dengan senyuman-senyuman disetiap langkahnya..

Mengapa kita tidak membangun rumah-rumah hangat didalam hati kita masing-masing, untuk orang lain.. Rumah hangat dengan bentangan tangan, dengan cerita-cerita melarutkan, atau dengan kelucuan-kelucuan (tentang dunia, tentu saja) yang bisa dibagikan..

Rumah yang menerima, siapapun yang ingin pulang..

Entahlah.. saya terngiang-ngiang lirik lagu Di beranda ini
"…Dan, jika suatu saat buah hatiku, buah hatimu untuk sementara waktu pergi. Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah, kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah…"

2 Juli 2014

Selamat Menjalankan Ibadah KKN-PPL Bagi yang Menjalankan!!

Pertama-tama, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Kedua, jangan lupa sarapan tiap pagi.. ini penting, biar puasanya kuat sampai akhir nanti.

Cuma mau nyampah, awal puasa tahun ini bertepatan dengan dimulainya KKN-PPL sayah di sebuah SMA yang letaknya berada dipinggir jalan lintas Magelang-Semarang dan di sebuah kampung disekitar situ (iya, lupa nama kampungnya).

Akhirnya, KKN-PPL yang dinanti-nanti itu, yang dipergunjingkan sepanjang semester kemarin, yang menjadi fenomena selain Kosta Rika di piala dunia, dan yang dinanti-nantikan (kapan selesainya, tentu saja) dimulai juga.

Menurut legenda turun temurun, KKN adalah masa-masa seorang mahasiswa diuji kemahasiswaannya. Diuji ilmunya yang dipelajari selama ini, atau mungkin maksudnya bukan diuji, tapi belajar hidup langsung ditengah-tengah masyarakat (yang antah-berantah).

Dari situ kita akan tau seberapa kuat nya daya tahan hidup kita untuk bisa survive, dan pada saat-saat yang dibutuhkan akan dapat mengeluarkan apa yang selama ini masih terpendam dalam diri kita pada saat kepepet yang dibutuhkan.. hft.

Saya sendiri, secara random dapat lokasi KKN di daerah Magelang Utara, sebuah daerah yang cukup sejuk dan eksotis, dan belum semacet Jogja. Awalnya saya nggak pernah tau ini akan jadi kabar buruk atau kabar baik, tapi KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA, KULIT MANGGIS KINI ADA EKSTRAKNYA!!!.. *digampar

Ber-KKN di daerah Magelang Utara berarti meninggalkan rumah, meninggalkan Jogja dengan segala rutinitas, kesibukan dan keruwetannya. Meninggalkan sesuatu yang sudah akrab bisa juga berarti meninggalkan zona nyaman yang selama ini kita nikmati.

Iya, saya baru belajar.. bahwa hidup ini (menurut Raditya Dika di salah satu bab di Manusia Setengah Salmon) adalah potongan dari perpindahan-perpindahan kecil yang terus-menerus terjadi setiap waktunya. Kita tidak bisa melawan, kita hanya perlu berdamai dengannya.

Perpindahan-perpindahan tersebut adalah perpindahan dari satu zona nyaman ke zona nyaman lainnya. Bagaimana ketika kita lulus SMA, kita harus pindah kekehidupan yang lebih luas, meninggalkan teman-teman SMA yang sudah akrab, perpindahan juga terjadi ketika kita dipaksa untuk berpindah hati dari satu orang yang sudah dirasa nyaman, untuk menemukan orang lain yang dianggap akan membuat nyaman. Lalu bagaimana kita (yang merantau) meninggalkan keluarga yang sudah pasti sangat akrab untuk pindah ketempat lain dan menemukan keluarga baru disana, yang pada akhirnya pasti juga berpisah.

Yang berat dari perpindahan-perpindahan ini adalah proses perpindahan itu sendiri, mengetuk pintu rumah yang baru, memberi salam kepada penghuninya, berusaha mengenali dan membiasakan diri, dan pada akhirnya menjadi begitu akrab. Hingga kemudian berpisah lagi.

Perpindahan dari satu zona nyaman ke zona nyaman itu nyata. Dan konsekuensi-konsekuensi yang harus diperjuangkan dari proses tersebut juga nyata...