8 Juni 2014

Ke desa Jatiluwih, Awal Kehidupan Di Dunia (part 1)



Salam olahraga.

Bentar, ngecek postingan blog dulu.. oh, ternyata posting blog terakhir bulan Maret. Bagus..

Iya, judul diatas emang sengaja dibuat berlebihan dan nggak nyambung, yang penting spektakuler dulu.. Dari judul diatas, saya ke desa Jatiluwih-nya bener. Cuma, isu desa Jatiluwih adalah awal kehidupan di dunia itu saya ngarang....

Jadi tanggal 27 Mei kemarin, dalam kegelapan malam dan dinginnya hati seorang jomblo. Kami semua yang tergabung dalam girlband princes, salah, maksudnya yang tergabung dalam angkatan 2011 geografi UNY, berangkat menuju sebuah kampung adat dan pertanian di desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali *apal nama tempatnya, soalnya yang bikin banner*

Btw, itu bener-bener malem, maksudnya dini hari.. soalnya kita berangkat dari kampus jam 04.00. dan meeting time nya jam 02.00, jadi bisa dibayangkan ya, muka-muka kusut orang yang mau tidur-tapi-nggak jadi atau orang-yang-gagal-tidur-karena-seharian-sudah-tidur nonstop (udah pasti ini saya).

Sebenarnya pas rapat terakhir dan diputuskan kita mau berangkat pagi-pagi buta tuli bisu, saya sempat teriak “GILE LU NDRO” didepan dosen saya yang namanya pak Endro (dibatin tentu saja).. tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi basi.. akhirnya saya oke-oke aja dengan penuh kepasrahan dan tentu saja tetep mbatin “dafuq, what the ****!!”..

Singkat cerita PLG selesai....

Nggak, nggak gitu. Singkat cerita, kita sudah berangkat dari kampus pagi-pagi subuh, sepanjang jalan kita isi dengan riang gembira tanpa suara, alias tidur semua.. yaiyalah, orang malemnya belum pada tidur,, ya wajar tidur semua (sebenarnya saya juga nggak tau, soalnya saya tidur sampe siang). Jalan yang kita lewati panjang berliku penuh derita, maksudnya jalan yang kita lewati kebanyakan sudah pernah kita lewati bareng-bareng, karena di PLG 2 tahun lalu (2013) kita ke Madura, dan kayaknya kita lewat jalan yang ini-ini juga.. ((kayaknya))


Sebenarnya saya sering excited sendiri kalau sadar bahwa kita menghabiskan sebagian “a whole life time” kita di bis bareng-bareng. Semacam kita dipaksa untuk berada dalam satu ruang yang sama, mengalami sebuah perjalanan (yang benar-benar perjalanan). Menemui banyak hal dijalan, yang pasti kita ceritakan dan tertawakan dari dalam bis, bersama-sama. Berbagi apa saja didalam bis selama perjalanan (makanan paling diutamakan). Kenyataan seperti ini, disadari atau tidak semakin menambah kehangatan diantara anak kelas. Dan di perjalanan kemarin, kita melaluinya selama 24 jam lebih.

Sekitar jam 4 keesokan harinya, kita sampai di bali, tepatnya kita berhenti disekitar pantai yang saya nggak tau namanya untuk numpang mandi. Selesai mandi dan sarapan, kita OTW ke desa Jatiluwih. yuhu *lanjut tidur*.. karena jalan menuju desanya tidak bisa dilalui pesawat tempur dan tank (yaiyalah) kita berhenti di pasar Senganan, karena bis juga nggak bisa masuk ternyata. Dari pasar ke desanya ini kita naik mobil bak terbuka, yang secara meyakinkan membuat suasana awal PLG 3 ini jadi adventure bingits (bagi yang seringnya main ke mol). Pemandangan sepanjang jalan ke desa Jatiluwihnya awesome banget.. ini baru dijalanannya aja kaya gini, sampenya nanti ke kampung di surga apa ya.. (bisik otak iri saya pada otak kanan bagian bek sayap)

Dan benar.. sampai disana, kita melihatnya sendiri. Mungkin dari dulu kita tau kalau Bali tidak hanya pantai, pura, pantai, dan pantai seperti yang ftv dan acara tv lain perlihatkan. Tapi yang kita belum tau, di Tabanan ternyata ada tempat super-ultramilk-awesome seperti ini.. nggak salah dan nggak sia-sia kita seangkatan, khususnya panitia memperjuangkan tempat ini buat jadi lokasi PLG berikutnya.

Kita tau, tempat-tempat di Bali beda dengan di Jawa maupun di tempat-tempat lainnya. Seperti yang kita tau juga, hampir semua bangunan atau rumah di Bali pasti punya semacam tempat ibadah sendiri yang amat sangat bagus itu. bedanya, di Jatiluwih kita seperti berada di sebuah desa yang  Bali banget, dan itu berada di Bali.

Jadi kalau diibaratkan surga, di Jatiluwih itu kayak Bali tingkat ke delapan. Balinya bener-bener Bali, kayak Balihai *halah.. Sawah-sawah bertingkat dikaki gunung, rumah-rumah tradisional yang masih lengkap, orang-orang yang sangat ramah, hampir setiap hari ketemu upacara adat di rumah-rumah warga, kandang babi, anjing-anjing kampung, bule-bule berhotpants yang mondar-mandir, bapak-bapak yang kemana-mana pakai pakaian Bali.. as we see, they live in paradise.

dibilang juga apa...

ah elah

masih nggak percaya juga

bro-bro perangkat desa Jatiluwih

anjingnya yang putih, bukan yang merah.. yang merah itu saya

jalanan kampung di Bali bagian surga




ponakannya Cu Pat Kai

Bagian pentingnya: tujuan awal kita ke Bali untuk Praktek Lapangan Geografi (PLG). Jadi, se-surga apapun tempatnya, kita harus tetep melakukan penelitian dilapangan.. hft. Kita dibagi menjadi tiga bagian tema besar, yaitu: aspek Sosial Ekonomi, aspek Konservasi dan Tri Hita Karana, juga aspek Fisik. Jadi simpel aja, yang ada di kelompok Sosial-Ekonomi melakukan penelitian tentang hal tersebut dengan jadi surveyor yang korespondennya warga desa sekitar. Yang kelompok Konservasi juga sama, wawancara ke warga tentang konservasi dan hubungannya dengan TriHita Karana. Sedangkan kelompok fisik, karena nggak mungkin wawancara pada sebuah batu atau tanah, jadilah mereka ngukur-ngukur ketinggian, klimatologi, dan geografi tanahnya.

Ribet ya... nggak lah, sebagai mahasiswa Pendidikan Geografi UNY, kita udah biasa main-main kaya gini dari semester satu dulu.. *macak cah lapangan* *lapangan badminton*

At least, segini dulu part 1 nya, oiya berhubung foto-foto belum kekumpul semua, jadinya itu dulu yang bisa keupload. Sisanya nanti di part-part selanjutnya...... itu juga kalo negara api belum menyerang.

Sekian, ponakannya Iron-Man pamit undur diri dulu. Wassalam.

1 komentar:

  1. Bagus Wisnu... Suka gaya nulismu...Semangat lanjutkan part selanjutnya,,,

    BalasHapus