25 Juni 2014

Buku dan Pasangan


Menemukan buku untuk dibaca itu seperti menemukan pasangan. Di toko buku, pertama-tama dilihat-lihat dulu dengan seksama, kalau cover dan judulnya nya kita rasa pas, baru kita dekati. Dilihat lebih teliti lagi, dibaca sinopsisnya.

Menemukan buku untuk dibaca berarti harus membaca lembar demi lembar awal dari buku tersebut. Kalau kita tertarik pada bagian-bagian awal buku tersebut, kita akan meneruskannya. 

Menemukan pasangan kurang lebih juga seperti itu. Kita pertama bertemu dengan seseorang, ngobrol sesuatu disebuah tempat, berusaha saling membuka lembaran masing-masing. Membedah diri mereka seperti buku: narasi seperti apa yang dikatakan (penuh nostalgia kah, atau sekadar memaparkan pengalaman), apakah diksi yang mereka pakai menarik (kasar, atau justru sangat sopan), bagaimana gaya tubuhnya, dan yang paling penting:

AKANKAH KITA TAHAN MEMBACANYA BERULANG-ULANG, DENGAN WAKTU YANG SANGAT LAMA. 

Setelah semua dianggap cocok dan saling setuju,
baru masuk ke jenjang yang lebih serius: berkomitmen. 

Saya pribadi sering merasa punya ikatan emosional dengan sebuah buku, kangen kalau nggak membaca buku tersebut dalam waktu yang lama. Merasa sayang. Contohnya saya sering baca buku Catatan Seorang Demonstran di perpustakaan, padahal saya punya (tapi sayang entah kemana dibawa teman). Perjalanan panjang untuk jatuh cinta dengan sebuah buku, menurut saya cukup sama dengan merasa nyaman dengan pasangan kita. 

Tapi, berkomitmen dengan orang yang tepat punya satu kriteria khusus:
Sanggupkah kita, setelah membaca lembaran demi lembaran hidup masing-masing, tumbuh tua bersama. Pada akhirnya nanti ketika ketemu cuma bisa diam, karena tidak ada lagi yang bisa diceritakan..

Sanggupkah kita berdua untuk bergandengan tangan saja dan berada dalam suasana sunyi yang nyaman? tanpa saling bertatapan.. Sanggupkah? 

Mungkin pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab dengan jawaban simpel seperti: "Kalau tidak mampu, ya cari aja yang baru". Tapi untuk direnungkan, dipikirkan, dan ditanyakan ulang.. 

bagaimana kalau kita tulis kisah kita berdua sendiri-sendiri?  Cerita dari hasil pemahaman kita atas diri masing-masing, dan ekspektasi atas apa yang mungkin terjadi nantinya..

Dari dulu saya selalu punya impian untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada beberapa orang, tapi selalu tidak pernah sampai..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar