20 November 2013

Waktu Yang Benar-Benar Berjalan

Petang kemarin, ketika saya baru pulang dari kampus, saya lihat ada motor terparkir didepan rumah saya. Sebenarnya biasa saja sih, soalnya sebelah rumah saya ada angkringan, jadi kalaupun ada (banyak) motor parkir di sekitar rumah saya sudah biasa. tapi bedanya motor tadi parkir didepan pintu rumah, dan sebenarnya itu juga nggak apa-apa sih, sudah biasa. Yang membuat saya sedikit kaget ternyata orang yang parkir itu teman (cewek) SMP. Ketika saya pas berhenti didepan rumah, teman saya ini sudah dalam posisi memakai-helm-dan-mau-pergi. 
Spontan saya menyapa dan menyalami sambil basa-basi “tumben jajan diangkringan (rumah saya deket angkringan, red), mampir dulu nggak?” yang dijawab “sok tau kamu, lah ini baru keluar dari rumahmu..”. Saya yang memiliki tingkat pemahaman setaraf dengan tarsius mendadak bingung, kemudian menganalisa “ngapain anak ini main kerumah, cuma sebentar, nggak nunggu saya pulang, langsung pergi”. Beberapa puluh detik kemudian saat teman saya hampir menjelaskan maksud kedatangannya, saya ngomong; “oh, ya ya..(sambil mengangguk-angguk) emang kapan?.. tanya saya sok tau menanyakan waktu (entah waktu apa) padahal belum tau dia datang untuk apa. Kemudian dia menjawab “halah lihat saja di undangan” kemudian pamit dan berlalu dengan sopan.

Ya, ternyata memang benar dugaan saya, setelah belakangan ini sempat dengar-dengar gosip kalau teman SMP ini mau menikah. Dan petang tadi ternyata dia datang untuk mengantarkan undangannya.
Dan undangan nikahan dari teman kali ini adalah undangan nikahan yang kesekian kalinya yang saya terima. Biasa saja sebenarnya, sangat biasa, contohnya; minggu 24 November besok saya harus ke nikahannya teman sekelas saya, beberapa bulan yang lalu teman sepermainan saya dari kecil (iya, dari kecil) menikah, dan beberapa hari yang lalu istrinya melahirkan. Dan masih banyak nikahan teman-teman lainnya yang saya hadiri maupun tidak. Sekali lagi, ini biasa sekali.. kecuali kenyataan bahwa semakin banyak saja teman saya yang berkeluarga dan semakin sedikit teman saya sesama jomblo (hvft).. yah, sebenarnya semua hal tersebut sangat wajar dan biasa sekali terjadi. Karena semua hal tersebut adalah salah satu bagian dari proses dan perjalanan kita dalam kehidupan selain lahir-tumbuh besar-dewasa-memiliki keturunan-meninggal.

Tapi, yang menjadi bahan renungan saya setelah menerima undangan nikahan tersebut adalah: saya merasa diingatkan bahwa WAKTU BENAR-BENAR BERJALAN.. DAN PROSES KEHIDUPAN INI BENAR-BENAR ADA, DAN NYATA..

Tadinya saya yang masih merasa sebatas anak laki-laki berpikir bahwa menikah itu dilakukan oleh orang dewasa, bahwa saya berpikir masih akan lama untuk sampai kesana. Tetapi kemudian dalam perjalanannya saya benar-benar dihadapkan pada kehidupan yang secara nyata berjalan tanpa ada yang bisa mengganggunya.

1. Kenyataan bahwa waktu benar-benar berjalan ini saya dapatkan dari perubahan pola pertemanan saya dengan teman-teman saya baik dirumah, dikampus, maupun teman SMP-SMA, kita semakin lama semakin tau arti kata privasi dan mulai berbicara menyangkut masa depan (juga yang berkaitan dengan finansial, termasuk rencana-rencana bisnis sama-sama), selebihnya obrolan masih sama tidak pentingnya dari yang dulu-dulu.

2. Selanjutnya dari pola hubungan dengan orang tua. Mungkin dulu kita sering dicari kemana-mana kalau kita main hanya untuk disuruh tidur siang atau selalu ditanyai PR sudah dikerjakan apa belum, dan lainnya. Semakin saya besar bentuk komunikasi dan perhatian orang tua lebih terkesan seperlunya dan jarang diulang-ulang. Mungkin ini adalah bentuk kepercayaan pada saya seiring saya tumbuh besar, orang tua mulai yakin bahwa saya semakin bisa dipercaya bisa dan mampu melakukan apa yang saya bisa sendiri.

3. Yang lainnya, adalah kenyataan yang saya temui sehari-hari dirumah atau diluar, orang tua kita yang semakin bertambah tua, yang dulunya kuat begadang nonton bola dan selalu membangunkan kita untuk ikut nonton sekarang untuk memasukkan benang ke jarum mulai perlu minta bantuan. Kakak sepupu, yang dulu jadi teman sepermainan, dirumah maupun diluar dengan teman-teman lain, yang dulu selalu menangis karena kartu mainannya saya rusak saat saya masih berumur tiga tahunan.

Kenyataannya sekarang anak berumur tiga tahun yang sering saya ajak main-main tiap sabtu atau minggu pagi adalah anak kakak sepupu saya tadi, kakak sepupu saya sudah punya anak kecil tiga tahun. Saya seperti ditantang untuk berada diposisi berlawanan. Dulu saya jadi anak kecil yang nakalterhadap kakak sepupu saya, sekarang saya harus bisa menghadapi anak kakak sepupu saya ini. Sekali lagi waktu benar-benar berjalan.

4. Diluar, dengan teman-teman sepermainan yang satu persatu sudah mulai berkeluarga, punya tanggung jawab keluarga, juga kehidupannya masing-masing. Mulai jauh dengan teman-teman lainnya, seakan kita harus selalu takluk (dan memang harus) dengan perjalanan waktu.. hayo kamu sudah dewasa, kamu sudah berumur sekian kapan kamu nikahnya, kapan kamu punya kerjaan, kapan kamu lulus..

Dan mau tidak mau kita harus tunduk dengan hukum si “waktu” ini, kita harus selalu berada pada garis waktu yang benar, dan kalau bisa mendahuluinya. Yang tidak bisa? Tidak apa-apa, hanya dipastikan mereka akan dianggap sebagai orang yang “gagal, orang yang menyia-nyiakan waktu, orang yang tidak ingat umur” oleh kebanyakan masyarakat, padahal tidak semuanya begitu.

Semua yang saya tulis diatas adalah hal-hal yang wajar, karena proses berjalannya waktu itu sendiri juga wajar.

Hanya saja, saya masih belajar dan berusaha untuk membiasakan diri pada kewajaran-kewajaran dari yang saya tulis sendiri diatas. Bahwa saya benar-benar hidup di dalam garis waktu yang selalu dan terus menerus berjalan.

19 November 2013

Pagi Ini Hujan

Tadi pagi hujan, seperti biasanya, hujan pasti turun air dari langit.. (abaikan ini)

Tapi tidak seperti biasanya, hujan ini turun saat saya baru mulai membuka mata dari tidur saya. Ya, tidak seperti biasanya.. Entah kenapa, hujan dipagi hari, tidak seperti biasanya..

Bagi sebagian orang hujan dipagi ini mungkin hanyalah salah satu gangguan untuk memulai rutinitas lagi. Tapi, bagi orang selo (nggak ada kerjaan) seperti saya, hujan tadi pagi lagi-lagi membuat saya berpikir.

Ketika saya baru bangun tadi, saya ke belakang rumah, rencana mau langsung mandi. Tapi diluar saya lihat tetesan gerimis hujan ditanah, berulang-ulang.. langit masih mendung, udara juga dingin. Tidak seperti biasa, jalan raya didepan rumah yang biasanya riuh pagi tadi lebih tenang. Saya memutuskan untuk menunda mandi pagi saya, "terlalu sayang dilewatkan" pikir saya saat itu.

Disadari atau tidak melihat hujan membawa kita pada suatu keadaan dimana kita mulai berpikir, mengingat hal-hal yang sudah dilalui, setidaknya bagi orang-orang nggak ada kerjaan (iya, seperti saya).. Mungkin belum ada teori yang menjelaskan mengapa ini bisa terjadi (mungkin). Tapi bagi saya semua ini disebabkan karena pada saat hujan suara-suara yang biasanya ada dan mengganggu dibungkam oleh suara hujan, tenang.. dan dunia yang ada didepan mata kita yang biasanya sibuk, lalu-lalang, hiruk-pikuk menjadi lebih tenang. Dan waktu seolah-olah membeku karenanya. Dan ketika yang lain terasa beku dan tidak beraktivitas, kita merasa cuma diri kita yang ada (lebih ekstrimnya hidup), diam, melihat, mendengar, berpikir, berimajinasi.. sendiri..

Dan pagi ini hujan..
meski saya tidak bisa menemukan korelasi antara hujan pagi ini dengan urgensi saya harus menulis diblog, saya tidak merasa hujan di pagi ini sebagai sesuatu yang biasa.