23 Februari 2013

Hal-hal yang Biasa Dilakukan Saat Mati Lampu

Malam ini, nggak ada angin nggak ada hujan (sebenarnya ada angin dan hujan sih, cuma biar mirip sama peribahasa, anggep aja nggak ada) tiba-tiba MATI LISTRIK!! Sebelum mati lampu sempat terdengar bunyi CHREESSHHR (suaranya bener gini atau nggak, yang penting gitulah) saya nggak tau itu suara apa.. setelah saya selidiki , itu memang bukan suara adek saya kalau lagi tidur, yang merupai suara biawak kelaparan. Pokoknya lain..

Dan tepat lima menit kemudian, tiba-tiba lampu mati.. saya langsung membatin dalam hati “OSITMEN!!”.. beberapa saat kemudian tiba-tiba lampu nyala lagi. Saya pun membatin lagi “ALHAMDULILLAH, YA ALLAH!!”.. belum sempat saya tertawa bahagia, tiba-tiba lampu mati lagi. Dan kali ini benar-benar mati lampu, soalnya lama.

Entah apa penyebabnya saya nggak tau. Tapi saya curiga, jangan-jangan ini bisa terjadi akibat dari dua batinan saya yang sangat kontradiktif pada saat mati lampu itu. Yaitu “OSITMEN” pada saat mati lampu, dan “ALHAMDULILLAH” pada saat lampu nyala. OH SHI..........eh nggak jadi ding.

Dan memang benar saudara-saudaraku, saya sedang mengerjakan pekerjaan mulia saya waktu mati lampu (baca: corat-coret di photoshop dan corel). Dan otomatis jadi terhenti. Diluar sana memang lagi hujan dan angin ternyata.. dan yasudah, kali ini saya nyerah. Mungkin besok-besok batinan saya harus lebih santun dari biasanya.

Lalu saya keluar, melihat-lihat dunia luar, yang sama gelap. Kemudian masuk lagi dan mulai joget harlem shake menyalakan lilin. Setelah lilin menyala, saya pun terdiam.... bukan, bukan karena sedang merenung.. tapi karena saya lapar, dari tadi nggak ada makanan apa-apa.

Beberapa saat saya hanya terdiam membisu, mau tidur masih sore (ya, jam 22.00 bagi orang gembel itu masih sore). Sejurus kemudian, terlintaslah pikiran-pikiran tidak penting, salah satunya adalah hal-hal yang biasanya kita kerjakan hanya pada saat mati lampu saja. Misalnya: 

1. Menyalakan LILIN

 Entah ini kebudayaan dari dinasti mana. Yang pasti kalau tiba-tiba mati lampu malem-malem, pasti langsung mencari lilin dan menyalakannya. Padahal, kalau dipikir-pikir sumber cahaya kan nggak hanya lilin saja.. kalau kita kreatif, banyak yang bisa dijadikan sumber penerang kehidupan kita (bahasanya, ckckck), diantaranya: senter, lampu darurat, lampu flash kamera, pelita (buset bahasanyaa, ckckck), senthir, korek, kompor, lampu motor, lampu rem, lampu sein, lampu kota, lampu hazard, velg krom yang mengkilap, kepalanya dosen saya yang anggota perbakin.. stop, ini mulai kejauhan..

Pokoknya banyak kan?? Asal kita kreatif mencari alternatif.. 

2. menunggui LILIN

 Nah, ini saya juga nggak tau sudah ada sejak kapan.. pokoknya sejak ada yang menyalakan lilin, sejak itu yang nungguin lilin ikut ada. Dan memang, kalau orang sudah menyalakan lilin pas mati lampu, setelah itu mereka tidak akan melakukan aktivitas lagi selain menuggui lilin itu. Kalau kita sadar dan berani kritis, kita akan menilai kalau ini adalah budaya lama yang kurang produktif. Harusnya, selain hanya menunggui lilin pas mati lampu, kita bisa kok melakukan aktivitas lain macam: membaca buku, menulis, olahraga ringan, stretching, latihan reflek dalam cahaya minimum, latihan silat, latihan menembak, latihan bulutangkis, latihan bola, maupun latihan melarikan diri saat ketahuan mengambil makananlebih banyak di burjonan.

Logikanya, dengan kita latihan dalam keadaan gelap, tentunya dalam keadaan terang akan lebih jago dan gampang mengatasi keadaan dari biasanya.. pinter banget... 

3. meniup LILIN saat lampu nyala

 Ini juga sama, entah ini kebiasaan dari jaman es keberapa saya nggak tau. Yang jelas, saat lampu sudah menyala, secara naluriah kita akan berlomba-lomba (iya berlomba-lomba, soalnya kita memang rebutan) untuk meniupnya. Dan inilah momen-momen membahagiakan yang epic dan happy ending banget. Bagaikan di sinetron Si Madun yang sudah sampai season 31, lalu tiba-tiba tamat begitu saja dan nggak tayang lagi selamanya. Epic banget, melegakan dan membahagiakan..

Walaupun endingnya kita nggak tau macam apa, apakah Si Madun tiba-tiba dimakan Tyranosaurus pas main bola dengan kampung sebelah, karena si Tyranosaurus sudah saking bosennya melihat sinetron bola yang ada Naruto dan Si Buta Dari Gua Hantu-nya.. ataukah SI madun diculik alien waktu lagi main layangan..... entahlah. 

Kalau memang begitu, berarti Tyranosaurus-nya sepemikiran dengan jutaan rakyat Indonesia!!.. dan walaupun ending di Si Madun menyedihkan seperti itu, paling tidak sebagian besar masyarakat indonesia merasa bahagia Si madun sudah tamat..


Nah, walaupun nggak jauh-jauh dari LILIN, tapi memang begitu kan aktivitas kita kalau lagi mati lampu?.. sama!

17 Februari 2013

nggak tau nulis apa

Tadi siang baru saja selesai upgrading HMPG. Dan yak, sekarang saya resmi jadi kabid MJ, siap menjadi gila sama seperti kabid-kabid sebelumnya. Entah ini penting atau tidak. Dan sekarang saya kurang tidur, baru tidur 3 jam tadi siang, tadi malam cuma tidur 2 jam. Jadi bisa dimaklumi kalau tulisan ini tidak jelas, tidak nyambung, dan whateverfuckinthingsover. Banyak yang saya dapat dari upgrading tadi malam.

Hanya perlu menonton film-film Sherlock Holmes lama yang belum sempat ditonton. So, selamat menonton, sebelum kegilaan menghampiri.

3 Februari 2013

IPK ?


Masih heran aja, mahasiswa kok masih ngomongin IPK.. mahasiswa itu harusnya ngomongin gimana caranya biar menang turnamen PES.. (kalau pas liburan)




IPK adalah singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif, saya nggak pernah tau, siapa yang menamainya. kalau saya kenal orang yang mengusulkan ini, saya akan mengajaknya kenalan.. pasti orang ini terkenal!! WOW..

IPK? Iya, yang nanya seperti ini biasanya adalah anak sekolah yang pengen tau hal-hal tentang kuliah dan orang-orang tua yang belum sempat kuliah.. mereka akan bertanya, IPK itu apa?.. sedangkan bagi orang-orang tua yang anaknya sedang kuliah, mereka akan bertanya “begimana IPK mu, nak? Naik? Atau turun?” lalu obrolan selanjutnya akan sangat bergantung dari jawaban si anak itu sendiri.

Kalau misalnya si anak menjawab “alhamdulillah buk, IPK ku naik, dari 1.3 jadi 3.9..” hampir bisa dipastikan obrolan selanjutnya akan berlangsung hangat dan penuh canda. Tapi kalau jawaban si anak begini “IPK ku masih 2.5 aja dari semester pertama sampe semester tujuh ini” biasanya obrolan akan menjadi penuh huru-hara, tidak jarang harus didatangkan PMK dan polisi pengendali massa. oke, ini berlebihan..

Ya, kadang-kadang IPK bisa jadi penentu hubungan dalam keluarga. hubungan cinta iya atau nggak?.. nggak tau deh..

 Oh IPK.. keberadaanmu penuh kontroversi.. andai ku kenal siapa yang menamaimu “IPK”, aku akan mengajak kenalan orang itu, dia pasti terkenal.. lalu ku mintai foto bareng, biar bisa di twitpic..

Sekali lagi IPK adalah kontroversi dan fenomena ditengah kehidupan masyarakat dan keluarga.. kehadirannya tidak terasa, hanya setiap libur semester. Tapi dampaknya begitu terasa, terasa bagi mahasiswa gembel yang jatah uang sakunya ditahan.. #inicurhatatauapasih #ntahlah

Ngomong tentang IPK. Tangan saya tiba-tiba bergetar.. ya, ternyata memang karena belum makan.. di semester pertama saya punya IPK yang lumayan bagus untuk ukuran gembel, 3.60..



Waktu itu entah kenapa, nilai-nilainya lumayan bagus, ada nilai A nya tiga dan A- nya.... padahal kalau diingat-ingat saya juga nggak serius-serius banget mengahadapi kuliah yang diberikan. Mungkin masih lumayan dasar dan SKS masih sekitar 21, juga belum banyak kegiatan.

Tapi, menginjak semester 2, dengan teman yang semakin banyak dan semakin gila akrab, ditambah jumlah SKS 25, dan mulai ikut banyak kegiatan di organisasi.. kuliah pun mulai jarang nggak tidur didalam kelas.. eh, tapi tunggu tidur dikelas adalah kebiasaan dari jaman SMP sebenarnya, bukan karena beberapa hal tadi.. bisa ditebak, IPK saya turun jadi 3.41 gara-gara IP semester Cuma 3.29



Di semester 2 tugas nya juga semakin membabi-buta-tuli-bisu. Apalagi ada.. aargh kartografi.. Untung saya dapet A-

Nah, di semester tiga ini mula terbiasa dengan kegiatan di organisasi, dan mulai menyeimbangkan lagi intensitas tidur dikelas dengan rajinnya mencari materi dari teman.. mulai konsen lagi di kelas. Mulai memperhatikan dosen, dan mulai sering ngobrol lagi dengan rak buku perpustakaan. Tapi, Takdir berkata lain.. yah, Tuhan selalu punya rencana lain dibalik cobaan yang diberikan pada hamba-Nya..

IPK saya tidak membaik justru malah turun lagi jadi 3.37. padahal di Siakad nilai semester tiga saya ada A nya tiga, dengan B- dua.. dengan IP semester 3.26.. apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.. walaupun saya nggak tau bahan membuat bubur itu beneran nasi atau bukan..

 
Yang sudah biarlah sudah, masih ada semester depan, yang menanti dengan penuh kesabaran. Disana terpampang jelas pengharapan antara optimisme dan pesimisme, tinggal kita sendiri yang akan memilihnya..

Entahlah.. hidup memang begitu, kita tidak harus melihat kebelakang untuk melangkah maju kedepan. Tapi kita perlu mencari, kesalahan apa di masa lalu yang harus diperbaiki di masa depan..

KOK MALAH CURHAT, NYET??

Ya sudahlah.. sampai kapanpun IPK, kau akan tetap menjadi kontroversi.. karena aku tak tau siapa yang menamaimu begini, jrenius sekali dia,..