28 Januari 2013

Dan, Entahlah..


Dilihat-lihat, nggak etis juga blog gembel ini dibiarkan nggak ada postingan dan baru ada satu postingan di tahun ini (2013, red)..

Jadi kelihatan semacam blog yang nggak terurus karena yang punya nggak pernah punya bahan buat mosting (padahal emang iya).. Yah, namanya juga baru saja UAS, banyak tugas yang harus dikumpul pula.. #alibi #padahalbelajartetepjarang

By the way, memang, UAS adalah alesan paling aman buat menutupi segala kemalesan dan ke-tidak-displinan ngeblog.. nggak ada yang mau protes juga kan? soalnya UAS kan penentu hasil belajar selama satu semester kita.. kalau nggak belajar, terus nggak lulus gimana?.. tuh kan, kalau belakangan ini saya nggak belajar, gimana nanti masa depan saya? mau jadi apa nanti? mau jadi jomblosekarat-gembel-yang sering kena firendzoned-sampai sekarang belum bisa bikin header blog bagus?.. oke pertanyaan terakhir kepanjangan.

Selain alasan dangkal nan nggak bermutu tersebut, sebenarnya ada banyak penyebab, kenapa sebulan januari ini baru ada satu postingan. Banyak banget.. saking banyaknya saya jadi nggak bisa buat nuliskannya, padahal postingan ini pertama ditulis seminggu yang lalu. Dapat satu paragraf terus baru dibuka lagi tadi sampai sekarang ini. memang kadang-kadang saat ada banyak hal yang bersliweran dalam pikiran kita, kita nggak tau bagaimana caranya menuliskannya semua dalam tulisan.

Makanya pelan-pelan, saya menghela nafas, mencoba menguraikan satu –satu yang ada, lalu membiarkan jari-jari untuk bergerak bebas menuliskan apa yang diinginkan. Seperti sekarang ini. kemudian mengulangnya dengan membacanya.

1. Sering saya berpikir kenapa saya selalu punya passion untuk menulis, apapun harus ditulis, apa-apa harus dicatat. Selain dianggap sebagai hal yang bagus oleh banyak orang, kadang saya malah jadi merasa terbebani oleh hal ini. saya senang nulis seperti ini, tapi di beberapa waktu, pada saat pikiran sedang agak kacau, passion untuk nulis ini jadi semacam beban yang terus mengejar-ngejar,

2. Sekarang masih bulan Januari, yang notabene adalah bulan pertama, bulan awal di tahun baru. tapi, saya belum pernah merasakan sesuatu spesial saat awal-awal tahun seperti ini. saya tidak pernah mengangap spesial setiap pergantian tahun menjadi tahun baru, setiap ulang tahun. Tapi perasaan beda justru saya alami saat akhir tahun dan menjelang ulang tahun, rasanya ada sesuatu untuk disimpan dan untuk tidak terlewat. Ada sesuatu perasaan untuk menutup tahun atau menutup satu jangka waktu dengan hal spesial. Saya tidak pernah suka kata-kata “menyambut tahun baru”. saya lebih suka “menutup tahun dengan manis dan berkesan”. Entahlah..

3. Ngomong soal tahun, saya selalu nggak mengerti dengan hubungan antara pertambahan angka dalam bilangan umur dengan momen ulang tahun dan harus dirayakan, dengan segala hal-hal nggak penting didalamnya. Yang saya tau kita bertambah umur itu setiap waktu, setia jam, hari, bulan, dan tahun. Hingga menjadi satu dalam satuan tahun. Lalu mengapa pada setiap hari yang bertepatan dengan hari lahir kita itu disebut ulang tahun, dan harus diperingati?

Oke, dalam setiap bertambah umur itu kita bertambah pengetahuan, bertambah pengalaman, dan bertambah pandangan hidup kita, tapi tidak selalu bertambah dewasa dan bijak. Lalu kenapa hanya setahun sekali yang dianggap sebagai bertambah umur? Saya, yang sekarang sudah berumur 20 tahun, hampir nggak pernah bisa merasakan perubahan pasti dalam tahapan umur yang berjalan. 

Sampai sekarang pun saya masih merasa seperti anak-anak dengan badan dan tanggung jawab seperti orang dewasa. Saya masih sering milih dirumah main PS atau tidur daripada datang di acara keluarga atau pengajian dirumah saudara, masih sering gugup karena bicara bohong dengan orang tua, masih sering mikir atau berimajinasi yang aneh-aneh, dan banyak hal lainnya.

Saya selalu percaya kata-kata “pria dewasa adalah jiwa anak-anak yang tersesat didalamnya”.

4. Saya selalu memikirkan apapun sampai detail dan harus “semuanya”. Hal kecil dan sepele kadang bisa jadi beban pikiran, selalu terpikirkan, dan pada akhirnya akan mati bosan sendiri. Saking banyaknya hal-hal yang terpikirkan, lama kelamaan saya akan membiarkannya dan pada akhirnya hal-hal tesebut menjadi masalah yang lebih besar dan menyerang bertubi-tubi. Dalam keseharian mungkin saya bisa bersikap “mengalir” dan apa adanya. Tapi di setiap masalah dan hal-hal yang berhubungan dengan “prinsip” saya nggak berhenti memikirkannya.

5. Teman atau sahabat adalah seseorang yang kita saling kenal dan saling mengerti apapun. Sahabat adalah orang yang kita merasa “cocok” dan enjoy untuk berbagi. Tapi antara teman atau sahabat ini selain kita terlibat dalam pertemanan, kita juga sering terlibat dalam pekerjaan atau dalam organisasi, saya sering berpikir, kalau bkerja dengan atau memperkerjakan sahabat sendiri dan kita bekerja bersama. Lalu apakah nilainya sama dengan tidak melakukan apa-apa dalam kebersamaan. Atau bukankah akan mengurangi nilai tersebut. Memaksakan diri untuk melibatkan teman atau sahabat dalam masalah atau pekerjaan kita.

6. Tentang “kebenaran”. Bagaimana kita tahu apa yang kita lakukan atau yang kita pilih itu “benar”? Bagaimana kita tahu apakah kita akan merasa itu tepat untuk kita nanti. Aksi kita. Konsekuensi kita. Relativisme dalam contoh yang paling sempurna. Filsafat katanya bisa membantu kita memecahkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, tapi yang ada justru pertanyaan satu mengikuti pertanyaan lain.

7. Saya nggak tau apa jadinya sekarang tanpa “teknologi’ dan media-media sosial. Facebook, twitter, youtube, dan banyak lainnya.. banyk orang bertemu dengan jodohnya, dengan teman lama, atau dengan keluarga yang sudah lama terpisah. Apakah ini mungkin bagian dari takdir? Lalu kalau takdir adalah kuasa tuhan, adakah campur tangan manusia didalamnya dimana media sosial ini diciptakan oleh manusia?

8. Saya nggak mau jadi perfeksionis. Kata orang kesempurnaan itu tidak ada. Berarti kalau kita terus mengejar kesempurnaan, berarti kita mengejar sesuatu yang tidak ada..


Entahlah.. jari-jari tangan yang saya ikuti sudah menghasilkan deretan kata, baris, kalimat, paragraf, dan jadi substansi utuh. Tapi, sepertinya saya juga nggak tau apa maksud dari semuanya yang say a tulis ini.. buseet!!

Di saat liburan seperti ini, saya malah menggelisahkan hal-hal yang seharusnya tidak terpikirkan.

Malah nyampah....

7 Januari 2013

Postingan Pertama di 2013 dan Resolusi Besar Saya


Ini postingan pertama di tahun 2013, dan saya bingung mau nulis apa.. masih belum ada yang berubah di tahun 2013 ini. Saya sebagai mahasiswa yang gembel dan jomblo juga masih gini-gini aja, belum ada perhatian serius dari pemerintah untuk membantu kaum lemah seperti saya. Jomblo-jomblo diluar sana apa kabar? juga masih sama, mereka masih suka menggelar doa bersama setiap Sabtu sore, biar malem minggu hujan deras. Dan terbukti dari malem tahun baruan dan malem minggu pertama di 2013 ini hujan terus.. ini mungkin awal yang baik di tahun baru. buat jomblo.

Dan ancaman kiamat di akhir tahun 2012 kemarin, di tanggal 12 dan 21 Desember juga nggak terbukti. Mungkin dewa kiamatnya (emang ada dewa kiamat? Whatsever) lagi belajar buat ujian semester, dan sibuk ngerjakan tugas akhir, sama seperti kita. Jadi karena sudah stres duluan, jadinya dia lupa kiamat dan malah maen PES setiap hari buat mengatasi stresnya.. entahlah.

Tapi di tahun baru ini. Seperti di tahun-tahun sebelumya, saya punya resolusi baru yang amat sangat revolusioner (menurut saya sendiri).  Yaitu.. sebentar, benahin kerah baju dulu secara slow motion.. nah sudah. Di tahun 2013 ini SAYA BERMIMPI BISA GONDRONG LAGI.. Ehm tunggu, sepertinya saya belum pernah gondrong deh ya. Tapi biar kelihatan sudah pernah gondrong, yaudah sih..

tapi tidak harus begini juga sih..

Memang resolusi ini diprediksi tidak akan berjalan semulus seperti biasanya. Ada banyak hal yang menjadi hambatan, salah satunya adalah citra negatif dari banyak pihak (baca: teman-teman dan ibu saya) kalau saya gondrong. Yaitu mereka akan memanggil saya “gembel” dengan tulus dan sepenuh hati. Ini berat, bahkan buat seorang gembel beneran sekalipun.

Oke, rambut saya memang tidak serapi seperti orang-orang pada umumnya kalau panjang. Bahkan bisa dibilang rambut saya mendekati abstrak dan undetected model (maksudnya undetected model apa saya juga nggak tau). Dan dari beberapa pengalaman saya menggondrongkan rambut juga tidak selalu berjalan lancar (baca: tidak pernah sama sekali).

Bisa dilihat pada poto ini

 “Sejarah tidak pernah berbohong”

Tapi, sebagai seorang mahasiswa yang cukup idealis. Pantang bagi saya untuk terus melihat kebelakang, kecuali kalau ada cewek manggil. Kita berjalan dan kadang-kadang berlari dalam hidup kita ya pasti kedepan. Karena apa yang kita kejar dan kita perjuangkan ada di depan kita, bukan di samping atau di belakang.. *tssah*

Dengan optimisme tinggi seperti ini, saya akan melupakan beberapa pengalaman buruk dalam menggondrongkan rambut. Dan terus melangkah menatap kedepan untuk menyambut hal-hal baru yang sudah menanti di depan, seperti pengalaman, semangat, kehidupan, dan rambut gondrong. Semua akan kita raih saat optimisme menyertai langkah kita. *tssah lagi*

saya optimis, dalam beberapa bulan kedepan, rambut saya akan seperti ini:



 Atau kalau nggak segini dulu juga nggak apa-apa sih:

semoga......


Walau diiringi beberapa hambatan, tapi disertai oleh optimisme dan doa, saya akan mantap untuk  menggondrongkan rambut saya. Apapun yang terjadi, pikir belakangan. Yang penting rencana dulu.

Nah, resolusi yang super sekali bukan.. kita harus selalu punya rencana. Karena dengan rencana lah, kita bisa menjaga setiap langkah kita untuk tetap berjalan sesuai alurnya. *lagi-lagi tssah*