9 November 2012

Di Tengah Malam ini......


Malam ini nggak hujan, tapi sepertinya jadi mendung buat saya.. ya, mungkin ini hanya perasaan saja, mungkin juga karena seharian tadi main PES 2013 kalah terus. Tapi mungkin, yang paling mungkin adalah karena tadi waktu pulang ke rumah dari kosan teman (gilang) saya dengar lagunya Nidji-kau dan aku dijalan..

Sepanjang jalan pulang itu saya jadi berpikir terus-terusan. Lagu ini, mengingatkan saya lagi dengan cinta tak berbalas pertama saya, hampir seperti platonic love. Hanya sebatas mencintai, mengagumi dan tidak berpikir lebih..

Entah mengapa mengingat “cinta tak berbalas” sambil dengar lagu Nidji-Kau dan Aku itu membuat saya merasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk menulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa didefinisikan.

Dan malam ini sepertinya secara terpaksa saya harus mengingat hal paling menyakitkan lagi. Cinta tak berbalas.

Cinta tak berbalas saya terjadi sewaktu saya SMP kelas tiga. Dengan teman sekelas, yang gilanya ini terjadi saat dia masih pacaran juga dengan teman sekelas (teman sepermainan saya) dari kelas 2.. Jadi dalam hal ini cinta tak berbalas yang saya maksud bukan karena saya ditolak atau nggak dianggap. Tapi lebih karena antara kita, nggak ada yang pernah mengucapkan atau mengakuinya.

Diawali saat pertama masuk kelas 3. Tempat duduk saya yang ada dpojokkan kelas ternyata ada dibelakang tepat duduknya. Mulai saat itu kita jadi dekat, dari yang sebelum kelas tiga hanya teman sekelas yang tau sama tau dan hanya kenal saja. Jadi teman sekelas yang sering tukeran nulis-nulis nama di tangan masing-masing, dia nulis namanya di tangan saya dan saya, lebih sering menggambar Son Goku yang nggak pernah mirip aslinya dengan tambahan nama saya.

Semacam ada chemistry kalau dekat dengan dia. Dan dia, sepertinya juga menunjukan hal sama. Pulang sekolah bareng, mojok di tempat duduk saya setiap jam istirahat, mendengarkan mp3 bareng, gantian saling nuliskan catatan dari papan tulis atau ngerjakan tugas pas salah satu dari kita lagi malas (kebanyakan saya yang ngerjakan tugasnya), ngantin bareng juga.

Nggak heran waktu dia putus banyak yang bilang ke saya kalo saya sebabnya. Sempat merasa bersalah juga.  Tapi, “dia” dan teman saya, dua-duanya nggak pernah ngomong hal itu langsung ke saya. Makanya saya nggak pernah nembak dia. karena waktu itu, terlalu bodoh kalau saya tiba-tiba jadian dengan mantannya sahabat saya.

Semakin sering dia main ke rumah saya (fyi: SMP saya cuma ada di depan rumah) dan semakin sering diaminta diantar pulang. Semakin lama, semakin saya suka padanya, tapi itu nggak pernah saya katakan. Saya seperti orang idiot yang selalu mengiyakan apa yang dikatakannya tanpa pernah sadar untuk apa semua ini.

Semakin lama, saya semakin merasa kalau kita seperti tanpa arah. Kita berjalan dengan satu pegangan yang pasti dan sama-sama menyadari pegangan itu, walaupun kita nggak tau seperti apa dan bagaimana pegangan yang kita jadikan pedoman itu. Tapi diantara kita, satu sama lain merasa nyaman berjalan tanpa arah tersebut.. sampai pada akhirnya kita (mungkin cuma dia) merasa bosan sendiri, kemudian pergi, bertualang lagi dan mencari pegangan lagi. Tapi bagi saya dialah pegangan paling nyaman dan paling sementara.

Bernostalgia mengenang hal-hal semacam ini kadang membuat kita jadi susah tidur. 

sampai sekarang jam setengah dua pagi. Saya masih buka-buka youtube lagu-lagu tahun 2006-2007 an sambil sesekali melihat keatas dan berkali-kali tersenyum.

Saya keluar kamar, membuat teh tawar panas.

Lalu melanjutkan mengingat lagi masa-masa SMP saya. Saya buka folder-folder foto SMP lama, saya buka youtube lagu-lagu macam Nidji, Ungu, kerispatih, Samsons, dan lain-lainnya. Sial, semakin saya buka, perasaan “sakit” yang sejak lama sudah saya anggap nggak ada semakin kuat muncul.

Seteguk, dua teguk teh panas. Sambil dengar lagu-lagu lama tadi, saya coba buat menulis ini lagi.

Saya buka-buka buku tulis SMP juga, disana banyak tulisan-tulisan, puisi-puisi, yamg kalau dibaca sekarang jadi terdengar aneh dan sangat labil. Dan ternyata ada tulisannya dan ada gambar anime hasil gambarannya juga.

Saya keluar kamar lagi, mencari sisa-sisa makanan yang ada. Nemu dua jagung bakar di meja makan, yang ternyata adalah simpenannya adek saya. Dan saya baru ingat hal itu saat jagung bakar tadi habis. Ya, selain harus pura-pura nggak tau, besok pagi juga harus pura-pura amnesia, berharap adek saya akan memaafkan saya.

Dan saat saya kembali kekamar, dihadapan saya, di layar laptop sedang play lagunya Sahara-kau bukan untukku (2007) di youtube. Saya bergetar, ternyata seperti ini rasanya sakit lama yang tiba-tiba datang lagi.. antara tertawa dan mengumpat. Sebuah kekonyolan dan kebodohan 5 tahun yang lalu..

Platonic love, cinta yang tidak mengharapkan apa-apa itu benar-benar ada dan nyata.

Dan saya, yang diawal dulu sangat mengharapkan “dia” walaupun hanya dipendam saja. Setidaknya saat ini jadi berpikir, bahwa platonic love, adalah suatu kata yang akan kita temukan sendiri artinya dimasa depan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar