30 November 2012

Menulis Karena Membaca, mari membaca sebelum menulis


Yap, kata-kata itu yang sering, sering banget malah. Saya dengar atau saya baca dari guru, dosen, orang-orang pinter, dan lainnya. But, why? Mengapa harus membaca dulu baru bisa menulis? Kan kalo di SD mana saja belajarnya nulis huruf dulu baru belajar membaca.. tapi ini bukan SD, jadi beda..

So, buat yang mau bisa dan lancar menulis, banyak-banyaklah membaca.. *di kalimat ini, sepertinya saya lebih terlihat sedang berusaha menasehati diri sendiri*

Oke, hobi saya dari kecil memang membaca. Iya, membaca, kalian nggak salah dengar kok.. dan nggak usah banyak komen. Apa saja yang kelihatan ada tulisannya pasti akan saya baca, terutama tulisan yang ada di bagian dada kaos cewek..... *digampar*

By the way (oleh sebuah jalan) membahas kata hobi, di kamus besar bahasa indonesia (KBBI) hobi adalah kesukaan. Ya, definisinya memang cuma satu kata.. tapi mungkin juga bisa panjang, atau mungkin ini hanya karangan hasil bisa-bisaan saya saja... Tapi, berhubung saya males nyari, yaudah lah anggep aja itu yang benar.. Sebenernya sih, yang paling bener, saya cuma tau definisi “kesukaan” itu dari teman yang sering buka KBBI. Soalnya dia anak sastra bahasa Indonesia.

Baiklah, lupakan definisi. Itu nggak penting. *sumpah, yang ini terdengar cool banget..*

Jadi saya memang suka membaca. Hobi baca ini sudah ada sejak saya masih SD. Kira-kira sejak kelas 3 SD. Sebenarnya pas pertama masuk SD, pelajaran membaca yang masuk pelajaran Bahasa Indonesia, adalah pelajaran yang tidak saya sukai selain 4 pelajaran lain yang juga tidak saya sukai. Intinya sih saya nggak suka dengan semua pelajaran yang ada, karena pas kelas 1 SD, pelajarannya cuma 5 mata pelajaran. Sebagai anak-ingusan-kelas-1 SD-yang-masih belum-tau-apa-fungsi-titit-selain-buat-pipis. Saya lebih seneng main-main diluar daripada ikut pelajaran. Ya, ini beda dengan di SMA.

Tapi nggak perlu dijelaskan kan ya, bagaimana kronologinya saya bisa mulai membaca, berhitung, menulis, menggambar, dan hapal nama-nama anggota JKT48 sampai kini saya bisa jadi anak teladan di sekolah..

Singkat cerita, saya mulai suka membaca apa saja sejak kelas 3 SD (sekitar 2001-an). Dan waktu itu yang lagi booming adalah Sheila On7. Serius, di tahun-tahun itu, band asli Jogja ini bener-bener gila. Semua orang suka dan hapal lagunya, mulai dari anak TK yang masih sering PUP sembarangan sampai mbah-mbah yang sering lupa kalau baru PUP dicelana, semuanya suka.. kecuali yang tidak.

Dan sebagai anak kecil yang belum bisa membedakan antara semut jantan dan semut betina (sampai sekarang juga belum bisa sepertinya), apalagi membedakan sebuah band. Mendadak saya juga jadi fans nya Sheila On7. Mulai dari minta dibelikan poster sampai nulis-nulis kata-kata “Sheila on7”, “So7”, “wisnu on7”, “wisnu eross on7”. Ya, sebuah masa kecil yang terlalu alay.

Berawal dari itulah, saya jadi mulai sering baca-baca koran, majalah, tabloid, atau majalah. Berhubung tetangga saya pegawai agen koran(bahasa halusnya loper koran), jadi gampang lah kalau mau baca apa saja.. hehehe. Itu semua saya lakukan untuk mendapatkan update info atau lihat-lihat fotonya Sheila on7. Walaupun saat itu nggak terlalu paham dengan apa yang ditulis di koran-koran (sebagai anak SD kelas 3, yang bodoh, itu hal yang wajar).

Sejak saat itu saya mulai mikir, kalau baca-baca dikoran, kita jadi tau apa-apa yang orang lain belum tentu tau. Dan membaca mulai merubah cara berpikir primitif-anarkis-agresif-anak SD kelas 3 saya jadi cara berpikir primitif-anarkis-agresif-anak SD kelas 3-yang mulai suka membaca. Dan mulai saat itu, saya menganggap kalau membaca, apa saja, adalah hal penting yang menyenangkan. Sepenting cuci tangan pakai sabun setelah BAB.

Masih di tahun yang sama (2001), adalah tahunnya As Roma juara Seri A liga Italia (scudetto). Dan mulai tahun ini juga saya jadi Romanisti, setelah sering nonton siaran langsungnya di TV. Saya selalu excited kalau pas nonton As Roma main. Satu-satunya alasan saya suka As Roma waktu itu karena mereka pas bagus-bagusnya dan berhasil juara Seri A, nggak kebayang kalau waktu itu yang jadi juara adalah Inter Milan, mungkin sekarang saya adalah suporter fanatiknya.. (cuma nggak suka Inter aja sih).

Dan tentunya juga saya nggak pernah melewatkan berita-berita update As Roma di koran atau di tabloid olahraga. Walau sepert biasanya saya hanya suka melihat foto-foto yang ada disana. Tetapi seperti yang sudah saya tulis, ditahun-tahun itulah saya mulai suka membaca.

Sebagai anak SD kelas 3 yang suka Sheila on7 dan As Roma, saya jadi sering membayangkan cita-cita saya nanti mau jadi apa. Dengan idola sebuah band dan sebuah klub bola. Alangkah kerennya kalau saya jadi pemain As Roma, jadi striker mereka, mendapat operan dari Francesco Totti, dan mencetak gol ke gawang Lazio sambil koprol-koprol bilang wow.

Atau membayangkan jadi salah satu personilnya Sheila on7, konser kemana-mana, dielu-elukan oleh banyak cewek, walaupun retsleting celana masih sering kebuka sendiri..

Atau malah bisa jadi keduanya sekaligus, jadi personil Sheila on7 dan memakai kostum kebanggan As Roma lengkap dengan sepatu bolanya saat konser. Atau bermain sepakbola membela As Roma, sambil nenteng-nenteng gitar sambil nyanyi-nyanyi “aaku puulang, tanpaa dendam....” eh, kalau lagu yang ini, nggak ada gitarnya kayaknya ya.. yah pokoknya gitu.

Saat itu yang ada dipikiran saya sebagai anak SD kelas 3 adalah : main bola-As Roma-main bola-Sheila on7-As Roma-main bola-sambil sesekali belajar. Cukup kompleks, memang..

Memang, saat itu saya hanya membaca hal-hal yang saya sukai saja. Tapi dari membaca hal-hal yang disukai tersebut, lama-lama dan perlahan mulai membaca hal lain. Misalnya saat kita membaca koran hanya di bagian olahrag asaja, pasti walaupun tidak saya inginkan, tapi saya baca yang halaman pertama atau tengah-tengah juga. Dan otomatis saya juga jadi membaca hal-hal lain selain yang saya cari dari membaca koran ini.

Dampaknya saya jadi lebih banyak tau daripada teman seumuran saya. Misalnya saat ada pertandingan bola yang tidak disiarkan, saya otomatis jadi pertama yang tau karena sudah membaca.  Kalau pasang taruhan bisa memprediksi hasilnya. Atau saat kita sedang membicarakan hal apa saja (misalnya cara-cara budidaya ikan cupang), yang ternyata saya sudah pernah membacanya di koran. Dan hasilnya saya jadi lebih sering mendominasi. Rasanya saya yang paling ngerti apa saja.. hahaha

Dan omongan yang keluar dari mulut saya, mereka langsung percaya gitu aja. Ini, tentu saja menimbulkan pikiran jahat dan licik di kepala saya. Mereka mulai saya berdayakan dan saya takut-takuti dengan cerita-cerita hasil ngarang-ngarang nggak mutu saya.

Tetapi, sepintar-pintarnya tupai melompat akhirnya kena follback juga.. dan sepintar-pintar dan selicik-liciknya anak SD kelas 3, masih lebih pintar dan licik anak SD kelas 4. Monopoli di kelas 3 saya berakhir saat memasuki kelas 4. Karena ada beberapa anak kelas 4 yang nggak naik kelas, dan memang, anak kelas 4 memang lebih licik dari anak kelas 3..

Praktek perbudakan dan penindasan zaman Romawi kuno pun segera diterapkan.. SIAL.

NB : let read your little note, keep safely done, and write..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar