13 Oktober 2012

DERBY DELLA CAPITALE: ROMA VS LAZIO, My Favorite Clash

Sudah seminggu blog ini nggak update.. sekalinya update, malah masang sebuah video interview yang nggak mutu dan nggak penting-penting banget.. Ada beberapa alasan mengapa bisa seperti ini.

Yang paling klasik yaitu beberapa hari ini tugas lagi rajin-rajinnya bersilaturahmi ke anak-anak yang gembel dalam pelajaran. Berhubung kita cukup baik dan bijaksana, lagian juga nggak enak, tugasnya silaturahmi kok nggak disambut.. akhirnya jadilah, dua minggu ini sibuk menyambut tugas-tugas yang berdatangan..

Sampai disini buat yang nggak paham, tugas mungkin jadi lebih mirip nama saudara jauh yang sudah 13 tahun nggak ketemu.. hey, tapi tugas itu bukan saudara kawan-kawanku  sekalian.. tugas itu musuh terselubung, dia lebih mirip agen rahasia Rusia yang menyamar di kantornya FBI.. (entah barusan ngomong apa) tapi yang jelas sekali lagi, tugas itu bukan saudara jauh saya, dan saya nggak mengharapkan kedatangannya sama sekali.

Oke cukup.. selain tugas yang bersilaturahmi, ada alasan lain mengapa saya jadi jarang nulis di blog (padahal biasanya memang iya). Yaitu, saya lagi rajin-rajinnya nyari-nyari video full atau highlight atau film atau semua hal yang berhubungan dengan DERBY DELA CAPITALE.. buat yang nggak tau derby dela capitale, bahkan arti kata derby pun nggak tau... kasian banget.

Jadi saya akui, saya adalah fans As Roma sejak kecil. Sejak As Roma scudetto tahun 2001. Saat itu saya baru kelas tiga SD, dan baru tau kalau didunia ini ada sebuah permainan yang cara mainnya dengan rebutan bola di lapangan luas. Dan klub bola yang pertama kali saya lihat adalah As Roma, malah pas lihat pertama kali di pertandingan terakhir tahun itu. Mereka sedang merayakan scudetto (juara liga Italia). Kelihatan keren saja, ada anak SD kelas tiga yang baru sekali nonton klub bola, eh klubnya langsung juara..

Setelah itu kehidupan saya jadi berubah. Dari anak-SD-kelas-tiga-ingusan jadi anak-SD-kelas-tiga-ingusan-yang-suka-klub-bola. Saya mulai suka membaca berita olahraga, mulai suka nonton berita olahraga di TV juga, dan suka cewek cantik lagi olahraga (yang ini nggak harus olahraga juga sih).

Saya mulai minta dibelikan kostum As Roma, dan minta dibelikan poster As Roma juga. Sayangnya barang-barang jadul ini sudah nggak ada dan nggak berbekas sama sekali. Termasuk kostum kesayangan saya waktu kecil dulu, yang hilang gara-gara dipake oleh sepupu pas nginep dan dibawa pulang sampai Jakarta dan sampai sekarang nggak dikembalikan.. ya, memang tragis
Kira-kira seperti ini bentuknya
ini...persis...banget...punya...saya...jadi...pengen...nangis...sambil...lari..lari

Satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang adalh, dulu saya nggak pernah kelewat untuk nonton siaran kalau As Roma main, dini hari sekalipun. Walaupun waktu itu masih SD dan masih sering demam (beneran) kalau begadang. Nggak kenapa-napa sih, soalnya bapak saya juga Romanisti berat.. malah, adik saya, yang lahir saat saya kelas empat. Nama tengahnya disisipi nama Totti, namanya jadi BAYU TOTTI RAMADHAN.. entah ini keabsurdan atau kecerdasan. Yang pasti dengan nama Totti di tengahnya, adik saya NGGAK MIRIP SAMA SEKALI dengan Francesco Totti yang asli!!..

Btw, buat yang nggak tau siapa itu Francesco Totti.. kasian sekali, emang selama ini tinggal di kolong jalan atau dimana?? Sampai nggak tau informasi seperti ini..

ini yang namanya FRANCESCO TOTTI

Tapi, masa bisa disama-samakan sama anak macam ini?! :

apa nggak marah nanti fansnya FRANCESCO TOTTI??

Ehm, jadi seminggu ini, saya lagi seneng-senengnya mengumpulkan video-video pertandingan As Roma, dari youtube pastinya. Ya syukur kalau ada yang full match, kalau nggak ada yang highlight bigmatch dan gol-gol dari pemain macam Francesco Totti, Gabriel Batistuta, maupun Vincenzo Montella. Nah, ditengah-tengah saya mencari dan nonton video-video ini, saya menemukan satu video full match derby antara As Roma vs Lazio musim 2001-2002. Seketika itu saya langsung bernostalgia, bayangan masa lalu muncul dengan indahnya, saat-saat saya baru pertama kali ditembak sama teman SMP kelas satu, saat baru bisa main bola, dan saat-saat  awal Spongebob tayang di Lativi.. pokoknya kenangan-kenangan masa lalu seketika itu muncul.

Hal pertama yang terpikirkan adalah VIDEO INI HARUS DI DOWNLOAD dan harus ditonton seketika setelah downoadnya sukses. Gila, ini waktu pertandingan ini disiarkan langsung dulu di tahun 2002, saya nonton dari akhir sampai selesai. Padahal waktu itu sedang ujian semester kelas empat SD.

Hal kedua yang terpikir adalah, derby ini kan salah satu derby terpanas dan tersadis didunia!!.. sekali lagi buat yang belum tau artinya DERBY, buruan googling sana..

Saya langsung googling dan menemukan banyak artikel juga thread tentang derby ini.. yak betul, ini adalah derby panas.

SEJARAHNYA

Penduduk kota Roma meyakini bahwa Derby della Capitale adalah “lebih dari sekadar permainan”.
AS Roma merupakan merger dari tiga klub lokal di kota Roma, yaitu: Roman, Alba-Audace, dan Fortitudo yang diperintah oleh rezim fasis saat itu (Benito Mussolini) yang berkeinginan membentuk klub sepakbola di kota Roma yang mampu menandingi dominasi klub-klub di utara Italia.

Berkat pengaruh seorang jenderal fasis (Giorgio Vaccaro), Lazio menjadi satu-satunya klub di Roma yang menolak adanya merger, hal inilah yang pada awal mulanya memunculkan persaingan antara kedua klub. Derby della Capitale pertama berlangsung pada tanggal 8 Desember 1929, yang dimenangkan oleh Roma dengan skor 1-0 (saat itu masih berlangsung di stadion Campo Rondinella).

Fakta bahwa kedua klub membenci klub-klub dari utara Italia, terlebih mereka tidak memenangi banyak piala sebagaimana klub-klub raksasa itu, menjadikan Derby della Capitale sebagai kesempatan untuk membuktikan siapa yang lebih dominan di ibukota (Roma).

Secara historis, pendukung AS Roma merupakan penduduk daerah selatan kota Roma yang berhaluan politik sayap kiri (sosialis/demokrasi sosial). Sementara itu, suporter Lazio cenderung berasal dari daerah utara kota Roma yang lebih makmur dan beraliran politik sayap kanan (liberal). Perbedaan tingkat sosio-ekonomi dan haluan politik ini yang menambah bumbu persaingan diantara kedua belah fans. Hal inilah yang juga menyebabkan ultras masing-masing fans mengambil tempat yang bertolak belakang di stadion, Ultras Lazio di curva nord dan Ultras Roma di curva sud.

Bagi fans Roma, fans Lazio dianggap sebagai outsider/orang luar, karena asal usul mereka dari luar kota Roma. Sementara bagi fans Lazio, merekalah yang membawa sepakbola ke kota Roma (Lazio telah berdiri sejak 1900, sementara Roma baru muncul 27 tahun kemudian).

BUDAYA RIVALITAS

Derby  dinilai sebagai derby paling sengit di Italia dibandingkan derby lokal lainnya seperti Derby della Madonnina (Milan) dan Derby della Mole (Turin), dan telah menjadi salah satu derby ibu kota terbesar dan terpanas di Eropa. Hal ini secara historis telah ditandai dengan kehadiran massa yang besar di stadion, panasnya persaingan, dan tentu saja kekerasan seperti aksi rasis saat pertandingan yang terjadi akhir-akhir ini.

Lazio yang didirikan di distrik Prati pada awalnya berlatih dan bermain di lapangan Rondinella. Sedangkan Roma mulai bermain di Motovelodromo Appio dan kemudian ketika stadion baru mereka selesai dibangun, mereka pindah ke sekitar Testaccio. Hal ini membuat pernyataan ironis, yang dikenal sebagai Sfottò, yang berbicara pada asal usul pendukung kedua tim. Laziale dianggap sebagai orang luar karena mereka diduga berasal dari luar kota Roma. Namun mereka menjawabnya dengan menyatakan bahwa Lazio masuk ke Roma pada tahun 1900, lebih cepat dari AS Roma yang baru didirikan pada tahun 1927.

Derby Roma juga telah menjadi tempat aksi yang berkaitan dengan politik, sosial dan ekonomi dari beberapa basis pendukung. Kelompok ultras Lazio sering menggunakan swastika dan simbol fasis di spanduk mereka dan mereka telah memperlihatkan perilaku rasis dalam beberapa kesempatan selama pertandingan. Terutama pada derby musim 1998-99 ketika Laziale membentangkan sebuah spanduk berukuran 50 meter bertuliskan, "Auschwitz is your town, the ovens are your houses". Pemain berkulit hitam dari Roma adalah sasaran dari perilaku rasis dan ofensif tersebut.

Sebuah banner kelompok ultras Lazio juga pernah memajang tulisan "Team of blacks followed by Jews" untuk membalas kelompok ultras Roma yang sebelumnya mengejek dengan tulisan "Team of sheep followed by shepherds". Pada tahun 2000 pendukung Lazio menunjukkan dukungan mereka untuk kelompok nasionalis Serbia dan penjahat perang Arkan.

Secara resmi, pihak klub telah menjauhkan diri dari pendukung-pendukung semacam ini, yang membentuk kelompok-kelompok minoritas bergaris keras, dan berjuang untuk memerangi tindakan-tindakan mereka yang merugikan.

BEBERAPA KEKACAUAN DI DERBY INI

Insiden ekstrim telah meninggalkan jejak buruk pada sejarah derby ini. Pada tahun 1979, seorang pendukung Lazio, Vincenzo Paparelli dipukul di bagian mata dan terbunuh oleh mercon yang ditembakkan oleh seorang pendukung Roma dari ujung stadion. Ia menjadi korban tewas pertama akibat kekerasan di sepak bola Italia.

Derby pada tanggal 21 Maret 2004 terpaksa harus terhenti pada empat menit memasuki babak kedua, dengan skor sementara 0-0, ketika huru-hara pecah di tribun penonton dan presiden Liga Sepakbola Italia, Adriano Galliani, memerintahkan wasit Roberto Rosetti untuk menangguhkan pertandingan.
Kerusuhan, yang diwarnai saling melempar kembang api, dimulai dari penyebaran desas-desus bahwa seorang anak laki-laki tewas tertabrak mobil polisi di luar stadion.

Cerita ini cepat menyebar ke para pemain ketika tiga pemimpin kelompok ultras Roma berjalan memasuki lapangan untuk berbicara dengan Francesco Totti, kapten Roma. Mereka mengancam Totti, yang terdengar di siaran TV sebagai sebuah ancaman kematian. Totti kemudian meminta untuk menghentikan pertandingan, dan Adriano Galliani yang dihubungi oleh wasit melalui telepon selular dari lapangan akhirnya memerintahkan permainan ditunda.

Setelah itu pertempuran berkepanjangan antara para penggemar dan polisi pun terjadi, beberapa stan yang berdiri dibakar dan orang-orang berlarian keluar stadion. Kerusuhan akhirnya berakhir dengan 13 orang diamankan dan lebih dari 170 polisi mengalami luka-luka. Polisi terpaksa harus memakai gas air mata setelah penggemar terus-terusan melempar kembang api dan mulai membakar mobil dan sepeda motor di luar stadion.

Ternyata rumor kematian anak yang menjadi pemicu kerusuhan itu adalah palsu. Banyak teori muncul untuk menjelaskan mengapa sekelompok ultras menginginkan permainan saat itu dihentikan. Diyakini bahwa ultras hanya ingin menyerang polisi, dan memberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaan mereka.

STATISTIK

Hingga pertengahan musim 2009/2010, Roma dan Lazio telah bertanding 161 kali di semua kompetisi, dimana Roma masih memimpin statistik dengan 58 menang-59 seri-44 kalah (melesakkan 193 gol dan kebobolan 160 gol).

Khusus di kompetisi Serie A, Romapun masih unggul dengan 43 menang-54 seri-33 kalah (154 gol memasukkan dan 126 gol kemasukan) dari 130 partai.

CATATAN KHUSUS DERBY:
  • Derby pertama dimainkan tanggal 8 Desember 1929, dengan hasil akhir 1-0 untuk Roma berkat gol Rodolfo Volk
  • Lazio baru berhasil memenangkan derby pertamanya di Serie A pada tanggal 23 Oktober 1932 dengan skor 3-0 (2 gol Fantoni dan 1 gol Malatesta)
  • Derby pertama di stadion olimpico berakhir imbang 1-1. Carlo Galli menyumbang gol untuk Roma, dan Pasquale Vivolo menyamakannya bagi Lazio
  • Kemenangan terbesar Roma tercatat pada musim 1933/1934 dengan skor 5-0, sementara kemenangan dengan selisih terbesar Lazio adalah 3-0 yang terjadi pada musim 2006/2007
  • Lazio mencatat kemenangan derby terbanyak dalam satu musim. Hal ini terjadi pada musim 1997/1998, dimana Lazio memenangi seluruh empat derby dalam musim tersebut (masing-masing dua kali di Serie A dan perempat final Coppa Italia)
  • Francesco Totti adalah pemain yang paling banyak bermain di Derby della Capitale dengan torehan 27 kali penampilan, sementara pencatat rekor terbanyak Lazio adalah Aldo Pulcinelli dan Giuseppe Wilson dengan 19 kali tampil
  • Dino da Costa dan Marco Delvecchio telah mencetak 9 gol bagi Roma dalam derby, sementara Silvio Piola menjadi pemain Lazio terproduktif dalam derby dengan 6 golnya
  • Pemain yang memegang rekor gol terbanyak dalam satu pertandingan derby adalah il aeroplanino Vincenzo Montella. Dalam derby tanggal 11 Maret 2002, Montella mencetak 4 gol dalam kemenangan Roma 5-1
  • Pemain yang dapat mencetak gol dalam derby bagi kedua klub hanyalah Arne Selmosson
  • Tidak banyak pemain yang bermain untuk kedua klub dalam derby, antara lain: Fulvio Bernardini, Luigi DI Biagio, Attilio Ferraris IV, Diego Fuser, Lionello Manfredonia, Sinisa Mihajlovic, Angelo Peruzzi, Arne Selmosson, dan Sebastiano Siviglia
Sebagai bukti kalau derby ini memang panasss.. berikut ini ada beberapa gambar dan video-video yg mudah didapat di google.

Ini beberapa fotonya dulu, derby della capitale dari waktu ke waktu:














Masih banyak sih fotonya... tapi ya masa mau di pajang semua.....

DAN DIBAWAH INI BEBERAPA VIDEONYA, YANG SAMA-SAMA PANASSSS!!








DAN INI SERI ITALIAN RIVALRIES: ROMA-LAZIO.....







MASIH KURANG?? INI ADA BONUS: VIDEO FULL MATCH AS ROMA VS LAZIO MUSIM 2001-2002



APA?? SEGITU MASIH KURANG JUGA?? BUNUH SAJA SAYA SEKALIAN!!!............

Nah, mungkin segini dulu post saya tentang derby-derby an..

FORZA ROMA!!!

NB: FOOTBALL WITHOUT ULTRAS IS NOTHING (AGAIN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar