9 September 2012

Untuk-mu Dengan penuh Kebencian

Aku benci jatuh cinta denganmu, merasa senang ketika bertemu, tersenyum malu-malu, selalu merasa cemas sebelum bertemu denganmu. Aku benci harus merasa senang, cemas, dan takut secara bersamaan saat bersamamu. Senang saat melihatmu datang, cemas saat aku merasa aku akan mengecewakanmu, dan takut ketika sadar kamu akan terlalu baik untuk-ku.

Aku benci saat menunggu kita akan online bersama, dan disaat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap sambil berpikir, berusaha mencari kalimat-kalimat yang ku anggap lucu dan menghibur supaya kamu bisa tertawa. Karena kata orang, cara membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya ketawa.

Aku benci terkejut melihat SMS-mu tiba-tiba muncul dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, makanya aku benci..

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan hal aneh dalam diri, yang menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.. Aku benci, saat aku dengan terburu-buru berusaha meneleponmu malam-malam, karena sebelumnya, sms yang kukirim tidak kamu balas.

Aku benci saat kita main sepeda pagi-pagi, melewati sawah-sawah dan kebun, melewati kampung-kampung dengan orang yang sedang menyapu halaman disetiap rumah yang kita lalui. Aku benci, karena saat aku mengayuh sepeda tepat dibelakangmu yang juga sedang bersepeda, aku selalu berkata “mengapa kamu begitu sempurna?  untuk berpaling darimu, yang bahkan dengan kamu tidak sedang memperhatikanku-pun aku tidak bisa”. Aku membiarkan kamu didepan, karena kemanapun kamu mau, aku dengan senang hati akan mengikutimu. Apapun yang kamu katakan, apapun yang kamu lakukan, aku selalu menjadi seperti orang idiot saat di belakangmu. Aku benci, berpaling darimu-pun aku tak bisa.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di hp yang sedang aku pegang. Ya, aku benci mengapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu.. tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika-ku bersuara dan mengingatkan, “Hei! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kalian akan tahu, kalian berdua tidak punya kecocokan,” dan itu harus dimentahkan oleh hatiku yang ikut berkata, “Jangan hiraukan logikamu”. Lalu aku pasti akan mengikuti kata hatiku tersebut.

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam dirimu saat aku mulai ragu. Kesalahan yang secara malas aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela. Dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada mu. Karena di dalam perasaan yang menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan..

aku benci aku takut tanpamu..

terinspirasi oleh "kamu" dan dari salah satu posting dalam radityadika.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar