27 Agustus 2012

Lebaran Kali Ini....

Pertama-tama, kami segenap keluarga besar blog Catatan Seorang Gembel (yaitu saya sendiri) ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1433 Hijriah. Minal aidzin wal fa’idin, mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang telah diperbuat oleh blog ini, baik yang tidak maupun yang sengaja dilakukan, semoga kedepan kita menjadi lebih baik lagi. Amin.. #sungkem..

Sesi sungkem kita sudahi dulu. Ibarat kalau kita sungkem dirumah kerabat atau dirumah tetangga, kalau sesudah sungkem, kita pasti disuruh untuk makan, atau disuruh mencicipi hidangan yang ada di meja tamu. Nah, kalau dipostingan ini setelah saya sungkem kepada teman-teman yang baca, saya juga sudah siapkan hidangan seperti biasanya, berupa postingan yang (masih) kurang bermutu.

Oke, postingan kali ini, saya mau sedikit cerita selama lebaran tahun ini yang masih tetap saya lalui dengan berbagai ke-absurd-an yang sepertinya masih saja terus menghantui, yang gak kenal momen. Bahkan di hari raya lebaran yang seharusnya menjadi hari yang indah seperti kebanyakan orang.

Lebaran tahun ini, tepatnya jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012. Sebenarnya tidak jauh beda dengan lebaran-lebaran tahun sebelumnya yang (biasanya) alurnya:
puasa berakhir->takbiran->begadang->mengeksekusi mercon->sholat Ied->sungkem dirumah->sungkem dirumah simbah->silaturahmi keliling kampung->silaturahmi kerumah pacar->masuk surga..

Tapi, lebaran kali ini sedikit beda dan entah kenapa berasa lebih dramatis, seperti ini alurnya: puasa berakhir->takbiran->dehidrasi karena tidak kebagian minum setelah teriak-teriak takbiran->trauma kena mercon segede botol->langsung pulang->pagi bangun kesiangan->hampir telat sholat Id->hampir nggak kebagian tempat sholat juga->sungkem dirumah->sungkem dirumah simbah->mulai jarang dikasih duit->silaturahmi keliling kampung->menjalani masa hibernasi.

Yah, seperti itulah lebaran saya tahun ini. Sedikit-tidak-lebih-baik-daripada-tahun-kemarin-karena-jomblo-dan-ada-acara-kuping-hampir-meninggal-kena-mercon. Walaupun nggak ada bagus-bagusnya kena mercon, tapi tetap ada sisi positifnya. Itung-itung hemat kapas atau headset buat nutup kuping pas main mercon selanjutnya (karena masih budek).

Lebaran kali ini juga ditandai dengan tagline (kata-kata) yang diucapkan oleh siapa saja (keluarga dan teman-teman)  yang baru mudik saat melihat rambut saya sambil berkata “Wisnu, rambutmu kok koyo ngene?!”dengan raut muka penuh keprihatinan. Dengan tenang saya jawab “dia baik-baik saja kok, emang lagi pengen abstrak aja”.Kian hari, semakin banyak orang-orang yang bilang seperti ini, dan sukses membuat kuping saya yang baru saja trauma mercon jadi tambah berdarah-darah.

Memang sih, sepertinya bulan puasa tahun ini berasa ada yang kurang, sepertinya saya menjalani bulan puasa kali ini hampir sama dengan bulan-bulan lainnya, cuma bedanya di bulan puasa jadi lebih hapal waktu adzan Maghrib (jangan tanya kenapa). Hari-hari bulan puasa kali ini saya lewatkan dengan hampir tiap hari kekampus dan nongkrong di hima, online-main karambol-gitaran-tidur semuanya di hima sambil tetep berpusing-pusing mempersiapkan acara terbesar tahun ini ‘Semarak Geografi’. Terus kalau dirumah saya malah lebih sering nongkrong di konter hp teman pas jamnya orang-orang Tarawih, lalu baru kemesjid saat orang-orang sudah pulang kerumah, jadi saya semacam penjaga rahasianya masjid, yang nongkrong dan tidur dimasjid tanpa banyak orang yang tau.

Ya, saya akui dibulan puasa kemarin saya tidak lebih baik dalam beribadah, sholat ya cuma sholat seperlunya, bahkan saya tidak menyadari saat puasa sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan puasa dan baru tau saat hari ke 24-an. Hal lainnya adalah jarang baca Al-Qur’an, di saat orang-orang kebanyakan bertadarus setiap habis sholat saya malah hampir selalu berkutat dengan Ms Word setiap selesai Sholat, kalau di itung mungkin nggak ada lima kali saya baca Al-Qu’ran puasa kali ini. Hampir kontras dengan puasa tahun sebelumnya yang bertepatan dengan OSPEK dan ESQ, sehingga bulan puasa saya tahun lalu lumayan baik, sholat, tadarus, kajian di masjid dan lainnya. Mungkin terpengaruh OSPEK dan ESQ yang waktu itu ada banyak hal yang bersifat membangun karakter.

Tapi, masak saya harus ikut OSPEK dan ESQ dulu untuk memperbaiki bulan puasa saya. Bukankah semua berasal dari dalam diri sendiri.. tapi gimana kalau diri sendiri saja nggak pernah bisa nurut.. (lah, malah ngaco)

Sepertinya memang benar, kalau bulan puasa adalah bulan penggojlogan dan peng-OSPEk-an diri setiap orang yang menjalaninya. Sehingga ketika orang sudah menyelesaikan satu bulan puasa dan orang ini mengatakan bulan puasa ini berhasil, maka otomatis dia akan mendapat hari Lebaran yang juga “berhasil” seperti contohnya; bisa sungkem dengan sukses ke orangtua, lebaran ini bisa kumpul dengan semua anggota keluarga besar, masih bisa melihat simbah-simbah kita memberi uang pada cucu-cucunya dengan senang hati, atau lebarannya berkesan karena nggak jomblo #jleb, paling tidak ada seseorang yang akan tetap tersenyum mendengar cerita ternyata ada orang yang hampir batal sholat Id (lho, itukan saya).

Dan, seperti yang sudah saya tulis tadi, saya merasa lebaran kali ini sepertinya kurang oke dibanding tahun kemarin. Mungkin bisa juga karena saya kurang merasai atau “menjiwai” bulan puasa kali ini dan terkesan hanya lewat begitu saja, sehingga saat bulan puasa berakhir dan berganti dengan hari Lebaran yang tiba-tiba tiba, saya jadi merasa kurang terlalu siap untuk menghadapinya. Sehingga sugesti saya mengatakan kalau LEBARAN KALI INI KURANG OKE!


Walaupun kurang oke, saya berhasil nemu foto ini di kamera teman saya, yang moto saat saya main bedug malam-malam (ssekitar jam 02.30 an) pas malam takbiran, disaat orang-orang sudah pulang dan beranjak tidur, saya berhasil mengganggunya.. hahaha (kan besoknya langsung bisa minta maaf)

 mukulnya sambil membayangkan wajah tukang parkir di gembira loka yang minta bayaran 5 ribu, aargh!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar