10 Juni 2012

Wow, Ternyata Saya Pernah Nulis Seperti ini...

oh, ternyata saya masih punya blog???????!!....
(tanda tanya yang terlalu banyak sepertinya)

langsung saja, tadi pas bongkar-bongkar kertas-kertas lama, kertas atau buku yang lamaa banget pun masih kesimpen cukup banyak dan gak rapi, iya, saya memang gak suka menjual kertas atau buku kiloan, (kecuali kalau kepepet) soalnya sayang banget, isi yang ada dibuku lama lebih mahal daripada harga kiloan dari buku tersebut. Soalnya ada teman yang mau minta soal-soal SNMPTN tahun lalu (tau sendiri buat apa)

Nah, pas bongar-bongkar kertas jadul itulah saya menemukan satu buku catatan saya pas SMA yang ternyata masih utuh. Soalnya dibuku itu isinya banyak banget dan penuh kenangan. Mulai dari nulis puisi labil, curhatan sesat, catatan-catatan kebrutalan pas SMA, tulisan-tulisan terkutuk dari teman-teman SMA, gambar-gambar komik sendiri (yang lebih menyerupai bahasa simbol-simbol jaman Batu), sampe pipis cecak juga ada dibuku itu. Pokoknya memorable banget, soalya setiap catatan disitu ada tanggalnya.

Yang jadi keheranan saya adalah: dari semua catatan-catatan dan tulisan saya itu, ada satu catatan yang menurut saya diluar dari kebiasaan saya. kalau dibaca atau dilihat-lihat sekali lagi kok kayaknya bukan tulisan saya, sepertinya mustahil saya nulis se-moralis dan se-lurus ini. sempat terpikir kalau saya kesurupan demit idealis pas nulis catatan itu, tapi saya keinget lagi, setan mana yang mau merasuki gembel seperti saya.

Setelah saya lihat tanggalnya (30 Mei 2010), jadi keinget kalau saya pernah beli buku Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie) sebelum ujian SMA, sekitar Maret 2010. Dan juga lagi seneng-senengnya baca buku-buku Pramodya Ananta Toer dan Wiji Tukul di perpus. Jadi  mungkin sedikit terpengaruh (tanda-tanda usia labil: mudah terpengaruh).

dibeli pakai uang sendiri


pose sok mikir, membaca aja gak lancar


Dan kalau mikir lagi, wow, ternyata dulu saya sempat jadi pemikir (bukannya mau sombong, dulu pas SMA pernah ditunjuk mimpin diskusi sastra dengan guru B Indonesia dikelas) walaupun bersamaan dengan itu juga saya lagi parah-parahnya main taruhan di PES dan di Piala Dunia (Piala Dunia 2010) sampai menggadai hp empat kali.

dan inilah catatan yang saya sendiri yang nulis sempat heran kalau saya bisa seperti itu mengingat saya sekarang yang terlalu males mikir dan menganalisa apa-apa, apalagi mempersoalkannya...



tanggal, 30/5 2010

Sabtu kemarin saya melihat copet yang dihajar massa dijalan *******(tiit), saya hanya lewat dan tidak merasa apa-apa. mungkin dia lebih baik nyopet daripada hanya meminta-meminta/mengemis, setidaknya dia (pencopet) lebih banyak berusaha, dan lebih berani karena dia memperjuangkan hidupnya sendiri (karena lapar atau utang mungkin), terlepas dari resiko yang akan dihadapi, perjuangan tidak ada yang sia-sia. Dan setidaknya dia berusaha.

Sampai saat ini belum/tidak ada yang menanyakan pada saya “mengapa kamu hidup ada disini dan untuk apa?”, padahal kalaupun ada yang khilaf bertanya demikian saya belum pasti dapat menjawab dengan jernih, karena jawaban yang keluar pasti akan sangat terpengaruh oleh suasana hati/perasaan saat itu. Setiap manusia ketika ditanya seperti itu mungkin menjawab, tujuan saya hidup didunia ini adalah meraih kebahagiaan sesuai yang saya inginkan.

Ya, memang setiap manusia punya tujuannya masing-masing dalam hidupnya, karena kalau manusia ini tidak lagi mempunyai tujuan hidup, untuk apa dia hidup. Bukankah dia lebih baik mati barsamaan sejak tujuan hidupnya luntur. Tetapi apakah setiap tujuan dari satu manusia ini harus selalu tercapai, bukankah  manusia dalam usahanya tersebut akan melakukan segala cara demi tujuannya, bukankah setiap kepala manusia yang bermilyar-milyar jumlahnya didunia ini pasti punya isinya masing-masing, yang tentu berbeda-beda pula tujuannya.

Lalu kalau kesemuanya ini hidup dalam satu ruang, pastilah setiap manusia tadi bertabrakan satu sama lain karena arah jalan mereka berbeda pula untuk mencapai tujuannya. Ya, hidup kita adalah hasil dari tabrakan-tabrakan kecil dan besar antara nafsu dan ambisi, satu keniscayaan kita hidup diantara keduanya sejak dulu manusia pertama diciptakan sampai nanti semuanya akan diakhiri . Dan sejarah sudah membuktikan kita belum pernah bisa lepas darinya.

Belakangan saya kembali memikirkan pertanyaan tersebut yang sebenarnya selalu menghantui saya.

Sejak kecil saya selalu melihat hal-hal yang timpang dan berkebalikan yang dilakukan manusia. Oleh manusia yang saya lihat, dimana saja bisa saya temui; dirumah dijalan, disekolah, di kampung, dikantor pemerintah, bahkan di tempat ibadah. Setiap ucapan seseorang yang saya lihat dan saya anggap benar, di lain waktu atau bahkan pada saat yang sama bisa melakukan satu hal atau ucapan lain yang tidak ada hubungannya dan berkebalikan dengan sikap pertama yang saya lihat dan saya anggap benar tersebut, seolah-olah setiap manusia adalah pengkhianat bagi dirinya sendiri.

Saya biasa menemui guru PKn yang punya selingkuhan, seorang ustad yang setiap minggu mengadu ayam, seorang komadan polisi yang membawa sebotol vodka setiap jaga malam, kepala sekolah yang setiap pagi nongkrong ditempat penjual burung sambil mengawasi muridnya dihukum, atau seorang security toko yang membantu pencurian ditokonya sendiri.

Atas nama apa semua itu,,, nafsu? ambisi? ataukah kebutuhan? ya, seolah-olah semua ini (kehidupan) hanya permainan saja, permainan tersebut hasil persilangan antara nafsu dan keangkuhan dari manusia. Permainan ini terlihat menyenangkan diari luar.

Saya mulai berpikir kalau hidup manusia adalah sebuah sistem paradoksal yang dahulu dimulai dan diciptakan manusia dan tetap ada sampai sekarang. Seolah-olah kita terjebak oleh permainan yang kita buat sendiri dan kita terlanjur tidak mampu keluar. Kita menikmati permainan ini disamping menderita olehnya, setiap detik permainan ini dalam hati kita berteriak “stop pengkhianatan atas apapun juga”.

Seorang manusia memiliki moral yang membedakannya dari hewan atau tumbuhan. Dimana nilai tertinggi dalam kehidupan manusia adalah nilai moral. Dan moral inilah yang menjaga manusia tetap berbeda dari hewan, karena dari nilai moral ini nilai-nilai kemanusiaan tumbuh dimana hewan tidak memilikinya. Lalu apabila nilai moral tersebut sudah mulai hilang dari seorang manusia, tidakkah berbeda dia dengan hewan?

hewan juga punya otak dan kemampuan berpikir, seperti manusia. Seharusnya pernyataan manusia adalah hewan yang berpikir diganti menjadi manusia adalah hewan yang bermoral. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar