25 Juni 2012

This Is LIFE, And This is So Near by DEATH

Baru saja buka fb seorang teman SMP dan SMA yang sudah meninggal. Ya, sudah MENINGGAL..


Sekitar akhir tahun lalu dia meninggal dalam kecelakaan motor di Bangka. Memang dia gak pernah jadi teman sepermainan saya, karena dari SMP dan SMA kita tidak pernah sekelas. Tapi kalau akrab, pasti. Dia teman nongkrong pas bareng-bareng dikantin, diparkiran, atau teman dilapangan basket pas males untuk ikut pelajaran. Dan, walaupun kita tidak pernah sekelas dan tidak pernah se-geng atau sepemainan, tapi kita seperti dua orang teman sebangku kalau ketemu, rasanya gak berlebihan..

Dan perasaan sedih atau haru pasti akan datang kalau kita mendengal seorang teman dikabarkan meninggal. Walaupun kita tidak terlalu mengenal, hanya sama-sama tau, atau tidak pernah terlalu dekat. Tetapi kalau mendengar orang yang pernah kita kenal, atau minimal kita pernah tau (walaupun tidak kenal nama), this is so bad.

Saya tidak akan ngomong banyak tentang teman saya yang sudah meninggal ini, tidak etis rasanya membicarakan orang yang sudah meninggal, lagipula, dia sudah tidak akan bisa menanggapi. Yang saya mau bicarakan adalah KEMATIAN itu sendiri.

Kadang kita (atau mungkin hanya saya) menganggap kematian itu adalah topik yang sensitif untuk dibicarakan, saya selalu menganggapnya sesuatu yang gak eksis. Padahal kenyataannya kita dekat sekali dengan kematian tersebut. Hal yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah kematian, walaupun kita selalu deny (menolak) keberadaannya. Ya, Living is constant denying for death.

Kita hidup didunia ini seolah-olah melupakan sesuatu yang dekat dan pasti. Kita tertawa, kita bercanda, kita jatuh cinta, kita sedih, kita putus asa, ataupun kita menikmati kebersamaan. We are too busy with our life and his content, but is here. Saat itu terjadi, its hit so hard. Saya masih ingat saat kakek saya meninggal pas SMP kelas tiga, yang sering mengantar latihan bola atau menemani kekamar mandi waktu kecil. Tiga bulan kemudian, Om saya meninggal dengan sebab yang sama: stroke. Tapi saat saya mendengar teman SMP ini meninggal, its too invicible to us as a teenager.

Mungkin karena kita masih seumuran, dan saat itu saya jadi sadar. Saya juga bakal mati.
Saat mendengar berita kematian, atau saat mendengar bencana yang menelan korban banyak, saat itu saya merasa diri saya kecil. Kita hidup didunia tidak untuk selamanya, badan ini “dipinjamkan” untuk kemudian diambil lagi saat badan kita sudah terlalu lelah atau terlalu rusak kita pakai. Setiap napas adalah satu tarikan napas lagi lebih dekat dengan kematian. Dan sekali lagi: WE ARE NOT INVICIBLE, bisa saja setelah saya selesai nulis ini, adalah waktu yang dipersiapkan Tuhan buat memanggil saya.

Saat saya membuka Fb teman saya tersebut, banyak wall yang masih berdatangan dari teman-teman yang mungkin semasa hidupnya sangat dekat untuk sekedar mendoakan dan berbagi kerinduan. Kadang saya  mikir, seperti apa saat saya meninggal nanti, adakah yang akan melayat? akankah ada yang rela berdesakan sekedar untuk melihat saya yang terakhir kali? akankah saya masih diingat? atau dalam Facebook yang banyak teman disana, saya masih disapa? untuk sekedar menyampaikan doa-doa dan ingatan-ingatan tentang sesuatu yang pernah dilakukan?

Ya, sekarang kita hidup, kita tertawa-tawa dengan orang lain, punya banyak teman. Tapi setelah kita mati, dilupakan dan tidak ada artinya lagi, untuk apa semua itu? Saat saya hidup, saya gak mau hanya sekedar orang atau jiwa yang memenuhi bumi ini, menyesaki kota ini, sama-sama makan, minum, berak, bicara, berjalan. Untuk apa?

Saya pengen, selagi saya hidup dan sebelum saya mati yang tidak tau kapan, harus berbuat sesuatu. harus lebih atau membuat satu hal (karya atau whatever things) untuk diingat dan akan hidup terus, dengan apapun, harus lebih banyak memanfaatkan kesempatan juga. Saya pengen, saat saya sudah mati dan mulai dilupakan, ada sesuatu yang pernah saya lakukan, yang masih ada disekitar orang banyak, atau minimal masih diingat.

Chuck Palahniuk pernah berkata “The goal is not to life forever, but to create something that will.” 

Saya nggak mau dilupakan begitu saja.
Menjadi nama yang setelah hilang menjadi tidak berarti lagi.

Nama yang dipajang di atas nisan,  yang berlumut, usang, bau, dan ditakuti orang lewat. Yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi, namun lama-lama semakin jarang.

Hingga pada akhirnya hanya dikunjungi menjelang bulan puasa.

Ya, saya pasti akan mati, dan saya ingin diingat.

1 komentar:

  1. :( it is so bad to talk about a death, tiap orang yang bermanfaat semasa hidupnya pasti banyak orang yang menangis ketika kehilangan dia. So, emang bener, lakuin sesuatu untuk bisa diingat. . Kematian nggak kenal waktu. Temenku, bahkan orang2 yang merawat kita semasa kecil juga gugur satu per satu. Kita kapan ? wallahualam

    BalasHapus