14 Juni 2012

Saya Tidak Ikut SEMESTER PENDEK, Dan Ini Alasannya


“kalo di semester pendek (selanjutnya SP) kan mata kuliah yang kita pilih udah pasti lulus, yaa minimal dapet nilai B lah”

Obrolan dengan seorang teman kemarin membuat saya bertanya balik “oh, iya pa? Aku baru tau ini lho, tapi kok bisa pasti lulus gitu?”. Teman tadi menjawab “yaa kan kita bayar SP langsung untuk dosen, jadi ya tau sendiri-lah.... hahaha” (dari nada bicaranya teman saya ini hanya bercanda, tapi siapa tau?!)

Tadi pagi, seperti biasa saya kekampus untuk rapat panitia PLG, saya yang berangkat dari rumah jam 10.00, satu jam dari waktu rapat dimulai (sengaja nelat) kembali menemui kesibukan dan hiruk-pikuk teman-teman yang sedang mengurus SP. Entah sedang ngisi KRS, mau bayar atau ketemu PA. Dan memang seperti hari-hari kemarin, teman-teman masih ribut-ribut; mulai dari waktu yang mepet untuk mengurus ini-itu, dosen yang sulit ditemui, belum jelasnya info dari SP itu sendiri, sampai khawatir nilainya nanti bagaimana.

Saya yang sejak awal sebelum libur minggu tenang bilang untuk tidak ikut SP dan selalu bersikap masa bodoh kalau disekitar saya ada orang yang membahas SP, Bayangan di kepala saya, dengan tidak ikut SP dan full liburan mungkin bisa meneruskan proyek saya yang tertunda, bisa mbolang atau nggembel ke luar kotar yang sejak dulu saya pengen banget, akhirnya ikut bicara juga.

Saya katakan kalau kalian (teman-teman) ikut SP dan gak dapet nilai bagus, kalian rugi!.. kita sudah bayar 60 ribu per SKS dan itu  untuk dosen, jumlah tatap muka SP pasti berbeda dengan semester reguler pasti lebih sedikit, kalaupun kita mengambil mata kuliah “pokok” dan bukan mata kuliah dasar/umum, bisa dipastikan tidak akan optimal. Bukankah ini semacam “jalan pintas” atau instanisasi pembelajaran (wuss bahasanya..saya gak nemu bahasa yang pas selain ini :D). Lalu dengan meminimalisasi pembelajaran ini, kita akan digiring untuk sekedar mengejar nilai bagus, bukan begitu? Terlalu idealis dan terlalu munafik kalau mengatakan ikut SP untuk mengejar ilmu seperti kuliah reguler.

Toh sistemnya (sistem perkuliahan, lebih luasnya sistem pendidikan) juga mengajari dan memberi jalan kepada pelakunya untuk melakukan “instanisasi-instanisasi” ini. Ya, sistem pendidikan kita selain terlalu banyak mengadopsi sistem pendidikan barat, juga sering menghalalkan instanisasi-instanisasi yang bermacam-macam jenisnya.

Contohnya, sebut saja sistem UN yang sampai sekarang masih diperdebatkan, antara “bagaimana mengerjakan soal dengan jawaban yang paling benar” atau "bagaimana cara menguasai suatu ilmu dan menggunakannya untuk masa depan”. UN dinilai terlalu dangkal untuk dijadikan sebagai tolak ukur berhasil atau tidak seorang siswa dalam belajar dan “mencari ilmu” disekolah. Banyak aspek atau dasar penilaian yang ikut menentukan berhasil atau tidak seorang siswa dalam pembelajaran disekolah. Dan ketika ditemukan praktek kecurangan di UN yang dilakukan oleh oknum guru agar siswanya lulus, selain melanggar etika akademik, disisi lain ini adalah satu pertanda bahwa sistem UN sudah merusak sendi paling dasar dari pendidikan; kejujuran.

Lalu dengan sistem UN ini, semakin banyak kita temui program bimbingan belajar atau les yang khusus hanya mempelajari trik-trik untuk menjawab UN dengan benar, bahkan berlomba-lomba untuk menemukan cara-cara paling cepat dalam mengerjakan ujian, khususnya Matematika.

Bentuk instanisasi pendidikan lainnya adalah menjamurnya PTS (Perguruan Tinggi Swasta) “jadi-jadian” yang bermunculan ketika musim penerimaan mahasiswa baru. Dengan iming-iming biaya murah, lulus cepat, bisa masuk 2 kali seminggu, lulusan cepat dapat kerja, terakreditasi “bla bla bla”, bahkan beberapa PTS di Jakarta memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus.

Sampai awal tahun 90-an sistem perkuliahan di perguruan tinggi masih menggunakan sistem lama (sebelum sistem SKS). Dengan sistem lama, seorang mahasiswa bisa mendapatkan predikat cumlaude bila IPKnya minimal 3,51 tanpa batasan masa studi. Asalkan selama kuliah, tidak ada mata kuliah yang diulang atau minta perbaikan.

Sistem lama ini menurut beberapa orang lebih adil. Kenapa? karena itu menandakan kalau mahasiswa yang bisa meraih cumlaude memang benar-benar tekun belajar dan mendalami apa yang diajarkan. Itu bisa dilihat dari semua mata kuliah berarti mahasiswa tersebut harus dapat nilai A dan A/B, minimal dengan beberapa nilai B. Dan itu tanpa diulang.

Berbeda dengan sistem sekarang, mahasiswa yang bisa cumlaude dibatasi maksimal mnyelesaikan kuliah dalam 5 tahun. Ada semacam kejar-kejaran waktu dan percepatan belajar. Jadi terkesan lebih mementingkan kecepatan belajar dan perolehan nilai, tanpa memperhatikan penguasaan ilmu dengan baik.

Ada beberapa pihak yang ikut menyesalkan sistem ini. Memang ditemukan beberapa kelemahan. Contohnya di sebuah fakultas/universitas, SP yang biasanya hanya boleh digunakan untuk memperbaiki nilai alias remidi, di fakultas tersebut boleh ambil mata kuliah baru. Otomatis dapat dipercepat. Kemudian di fakultas/Universitas lain ditemukan juga seorang mahasiswa bisa mendapatkan nilai yang bagus untuk mata kuliah pilihan karena waktu kuliah dan penilaian yang mepet. Bisa dibilang sedikit yang dapat B, tapi A/B sudah di tangan. Gampang kan dapat nilai bagus?! Padahal di fakultas/Universitas lain mata kuliah wajib dan pilihan tidak ada bedanya. Belum lagi ada kebijaksanaan yang memperbolehkan mahasiswanya “mencoret” beberapa mata kuliah bila sudah melebihi 144 sks. Nah …

Ada lagi fakta seorang mahasiswa yang kalau dia dapat B, bahkan A/B, dia langsung ngulang lagi. Ada juga yang bukannhya ngulang, tapi  ke dosen pengampu mata kuliah buat minta tugas tambahan biar nilainya jadi A.

Kenyataan-kenyataan tersebut sebenarnya mudah untuk kita evaluasi, karena kita dekat sekali dengan masalah-masalah tersebut (dunia pendidikan). Tapi sebenarnya bagian mananya yang harus diperbaiki?

2 komentar:

  1. aku mikirnya kalo ikut SP dapat nilai jelek mau ngambil yang waktu pembelajaran biasa buat memperbaikin, gak rugi kan...soal'e kita dah tau matkul'e sebelum ikut..

    BalasHapus
  2. ya itu sih penilaian pribadi kita masing2,, kalau menurut mas/mbak kayak gitu ya monggo..
    kalau saya mikir ruginya, kalau ikut SP, dapat nilai jelek, terus diulang di semester biasa, itukan sama saja dengan yg gak ikut SP. Saya sih lebih milih waktu libur buat belajar sendiri, baca buku matkul tersebut (mereview) kan artinya sama saja.. :)

    BalasHapus