18 Mei 2012

Jadi Anak NAKAL, Seharusnya Sudah Pernah


“Nakal adalah proses”
-gembeliber-

Saya masih ingat hari senin lalu saat kuliah Psikologi Pendidikan yang sedang mbahas anak-anak cerdas berbakat, dijelaskan bahwa anak yang masuk kategori cerdas berbakat biasanya cenderung berbeda dan memiliki keunikan dibanding anak-anak pada umumnya. Termasuk kenakalannya lebih kompleks dan lebih tidak terduga.. ya memang cuma segitu, walaupun kuliah selama 100 menit tapi saya Cuma ingat hal itu saja (jangan salahkan kapasitas ingatan saya yang cuma selevel sama buaya air tawar).

Ya, bahkan kenakalan-pun bisa menjadi indikator kecerdasan.

Dari sini saya bisa simpulkan bahwa setiap orang pernah melakukan satu kenakalan entah apapun itu. Karena menurut saya, dalam perkembangan dan pertumbuhan untuk menemukan karakter dan identitas diri, kenakalan itu penting. Setiap orang perlu jadi anak nakal atau minimal pernah jadi anak nakal, karena kenakalan adalah ekspresi dari ketidakpuasan-intelektual anak maupun remaja pada semua ketidak-sukaan dari yang dialaminya.

Anak yang nakal dikatakan cerdas karena dia sudah bisa menanggapi dan bereaksi terhadap beberapa hal yang tidak disenanginya walaupun mereka belum tau harus seperti apa reaksi yang akan dilakukannya.

Kenakalan selalu dilarang dan dihindari, sekolah mana yang memperbolehkan siswanya jadi anak nakal, sekolah formal mengajarkan setiap anak untuk menjalani kehidupan normal pada umumnya. Semua guru menamkan pola pikir bahwa siswa ideal adalah mereka yang rajin, disiplin dan tidak pernah masuk daftar buku hitam. memang pada dasarnya tidak ada guru yang suka anak nakal. Juga dirumah, orang tua mana yang memperbolehkan anaknya jadi anak nakal, mindset orang tua kurang lebih sama dengan guru disekolah.

Tapi di keluarga saya sedikit beda, orang tua saya, khususnya bapak saya tidak pernah menuntut saya untuk jadi anak yang baik, jadi anak yang kalem ataupun jadi anak manis. Bapak saya tidak pernah langsung marah atau menghukum setiap saya ketahuan berbuat satu kesalahan. Saya masih ingat waktu pertama kali ibu saya menemukan bungkus rokok ditas saya waktu kelas satu SMP, ibu saya otomatis langsung marah, sorenya bapak saya ngomong (dalam bahasa jawa); “kamu boleh ngrokok, tapi kalau sudah lulus sekolah dan sudah bisa beli sendiri pake uang-mu sendiri dan sudah tau sendiri baik buruknya ngrokok, bapak tidak mau kalau kamu jadi seperti bapak, ngrokok dari kelas lima SD dan tidak pernah bisa berhenti sampai sekarang dan menyusahkan orang lain”. Bahkan dalam kasus yang paling fatal, yaitu saat tetangga melihat saya sedang minum di satu konser waktu kelas satu SMA dan ngomong ke bapak saya, bapak saya cuma bilang “kalau kamu ingat berapa kali kamu sholat, pasti kamu tau berapa kerugian saat kamu meminum miras”.

Saya memang dibolehkan nakal dalam batas-batas tertentu asal berani bertanggung jawab dan menerima segala resiko yang akan saya terima. buat bapak saya yang penting saya tidak lupa sholat dan mengaji, asal nilai saya bagus, nakal itu sah.

Yap, saya juga pernah nakal (mungkin masih), beberapa kenakalan saya sukses membuat Ibu saya jadi akrab dengan guru BK waktu SMP dan jadi hapal jadwal les waktu SMA.. karena saya orang yang suka bicara jujur dan apa adanya (hehehe), berikut beberapa kenakalan (dan kebodohan) saya disekolah dan dirumah yang bahkan masih sering saya lakukan:

1.  Pura-pura sakit di UKS saat upacara Senin, ini umum dan banyak pengikutnya, sampai-sampai kalau ke UKS nya telat sudah gak kebagian tempat karena penuh. 

2.  Sparing (berantem) karena rebutan parkiran sepeda di SMP, saya hanya ikut-ikutan membantu teman, berhubung saya jalan kaki kalau berangkat sekolah. 
3.  Merubuhkan sepeda-sepeda di parkiran sampai ambruk berurutan, karena masih dendam saat kalah berantem. 
4.  Pipis sembarang tempat pas SMP, berhubung cuma ada beberapa WC dan jauh dari kelas saya saat itu. Jadilah pipis ditempat tempat yang dianggap aman rame-rame. terakhir kali menjalankan aksi dan kapok adalah saat saya pipis dibelakang pos satpam dan tau pas satpam teriak marah-marah  kalau tempat istirahatnya sudah dikencingi oleh anak ingusan yang identik dengan saya (dan memang saya). Saat itu saya merasa jadi buronan negara dan siap-siap mencari suaka hukum keluar negeri. 

5.  Memalak secara setengah halus pas SMA dengan ngamen dari kelas-kekelas untuk nonton pertandingan sepakbola atau nonton konser bareng-bareng. 

6.  Mengoleskan saos dan kecap di kursi kantin SMA. 

7.  Pesan makan dikantin dan pergi sebelum pesanan datang di SMP. 

8.  Merokok di dalam kelas dan di WC (the best place, sudah seperti surga) pas SMA   

9.  Pura-pura jadi murid aktif dengan banyak tanya, padahal gak tau sama sekali apa yang sedang dibahas dan menjadikannya sebagai bahan taruhan. 

10.  Menulis di papan tulis besar-besar “HARI INI PELAJARAN KOSONG KARENA AKAN ADA KUNJUNGAN DARI DINAS, -KETUA KELAS-” dan sukses mengajak teman-teman untuk bolos pas SMA. (entah siapa yang goblok). 

11.  Pas SMP menulis coretan nama-nama genk di tembok kelas dengan nama orang lain (anak kelas lain) dan sukses membuat orang itu dihukum. 

12.   Waktu SMP main kartu pas pelajaran dan ketahuan karena ada yang teriak waktu kalah (sudah jelas siapa yang goblok). 

13.   Waktu SMA, pas upacara Senin, berhubung pidato Kepsek adalah bagian paling membosankan, tiap ngomong satu kalimat langsung ditepuki tangan dan diteriaki HOREE..
"Jadi saya minta kepada semua murid untuk rajin-rajin belajar.... karena...."
HOREEEE!!! PLOK PLOK PLOK.....  biar cepat bubar..hahaha 


14.   Pas SMA, setelah class meeting tanding sepakbola dan basket antar kelas, dilanjutkan dengan main culik-culikan antar kelas, yang tertangkap sukses ditelanjangi rame-rame didalam kelas. 

15.   Mulai koleksi beberapa (tit).3gp waktu kelas tiga SMP. 

16.   Tidur dikelas dari jam pertama sampai pulang pas SMA dan hanya bangun pas istirahat gara-gara malamnya nonton final Liga Champions. 

17.   TK bolos satu bulan penuh. Salah satu alasan kenapa TK saya tiga tahun. 

18.   Pas SMP, digrebek pas PS an saat class meeting dan dengan gagah mencatatkan nama di kantor polisi. 

19.   Pipis di bak kamar mandi pas SD. 

20.   Menyulut bom asap pas buka bersama SMP terus dilempar ke aula, sebenarnya cuma ikutan, tapi hukumannya juga ikutan kena.

Nah, segitu yang masih saya ingat kenakalan pas sekolah, dan ternyata cukup banyak. Tidak ada tawuran karena saya gak suka (bukan takut). Sebenarnya masih cukup banyak sih, tapi terlalu memalukan buat ditulis disini.. hehehe. Hampir sama dengan kenakalan di rumah yang terlalu brutal dan memalukan untuk ditulis.

Bukan mau membanggakan kebodohan sendiri, cuma berbagi pengalaman dan untuk diambil positifnya, walaupun sepertinya tidak ada.

Anak nakal tau benar rumus tidakan dan resiko yang akan diterimanya. Sehingga biasanya mereka akan ikhlas tersenyum ketika dihukum. Dan sesungguhnya hukuman mengajarkan anak nakal untuk mengulangi kenakalan yang sama dengan cara yang lebih smooth dan tak terdeteksi, hahahaha..

karena nakal itu ekspresi dan bagian dari proses pembentukan karakter diri. Maka nakal itu ilmu, meski tak pernah diajarkan bahkan kenyataannya hampir semua orang tua dan yang lebih tua menolaknya. Sebagai proses, kenakalan juga mempunyai hasil akhir.

Sebagian besar teman kakak saya yang dulu saya anggap nakal dari tampilan dan gerak-geriknya, sekarang sudah sukses dan mapan karir ataupun mapan karakter. Karena mungkin mereka sudah menemukan output dari kegelisahan-kegelisahannya, atau karena saat remaja mereka sudah puas nakal, jadi ketika dewasa mereka hanya tinggal tertawa dan tak ingin mengulang mencobanya.

Anak nakal adalah yang paling mudah diingat meskipun sudah bertahun-tahun lulus dari sekolah dan percayalah reuni disekolah manapun tidak akan seru tanpa kehadiran anak-anak (yang dulunya) nakal.


CHEERS

1 komentar: