13 Mei 2012

Brigata Curva Sud: In Sleman we Trust, In Curva Sud we Burn


Cuma mau cerita, tadi sempat googling mau cari-cari berita sepakbola.. yap, mau nyari berita Juventus scudetto (juara). Sebenarnya gak terlalu suka juga sama Juventus, tapi berhubung yang juara bukan Ac Milan, jadi memberi ucapannya ke Juventus VAI ALLO JUVE SPECIALE SCUDETTO , entah artinya apa.. (jadi ketahuan kalo gak suka Milan)..

Oke, pertama-tama, saya memang suka sepakbola, main atau nonton. entah mengapa,meski permainan saya cuma selevel sama gajah sirkus main sepakbola tapi yang jelas saya selalu nunggu tiap minggu untuk nonton liga favorit saya; Liga Inggris dan Liga Italia.

Nah, berhubung saya suka sepakbola dan berhubung juga di daerah saya (Sleman, Yogyakarta) ada klub sepakbola, saya adalah salah satu suporternya.. klub itu adalah PSS Sleman. Dulu PSS sempat jadi tim papan atas di Liga Indonesia dengan masuk empat besar selama dua musim.



Saya sudah suka nonton ke stadion sejak SD kelas empat, saat masih ingusan dan belum seganteng gembel ini. Walaupun dilihat dari sudut mana saja saya gak pantes jadi ultras...


ya, gak ada kelompok suporter garis keras yang mau menerima anggota se-idiot ini

Di musim inisaya baru nonton sekali, itupun pas pertandingan terakhir. Walaupun sebenarnya pengen banget bisa nonton setiap PSS main dan menikmati atmosfer seperti di stadion Italia.

Sama seperti klub-klub sepakbola kebanyakan, PSS juga punya pendukung fanatik (ultras, bahkan bisa dikatakan sangat fanatik dan sangat loyal, namanya BCS (BRIGATA CURVA SUD), hampir mirip dengan nama ultras AC Milan Brigate Rossonere. Tapi, jelas ada perbedaannya.


BCS sendiri yang saya tau adalah ultras yang terkreatif yang ada di Indonesia, dan mungkin akan menjadi pelopor perubahan suporter yang lebih modern dan tanpa ada anarkisme didalamnya. Yap, BCS memang beda dari suporter bola lain di Indonesia, seperti:
1. Di BCS tidak akan ada terompet yang dibunyikan. Berkebalikan dengan kebanyakan suporter Indonesia.
2. Di BCS tidak boleh ada yang duduk, sepanjang 90 menit harus berdiri dan terus bernyanyi memberikan dukungan (ini khas ultras).
3. Mengutamakan membeli tiket saat pertandingan daripada membeli merchandise, karena klub lebih membutuhkan itu.
4. Tidak ada lagu maupun teriakan rasialis dan menghina musuh atau wasit.
5. Tidak boleh membawa senjata dalam mendukung.
6. Selalu membakar bomflare.

BCS rules
ULTRAS, SEPERTI APA ULTRAS?

Ultras tidak bisa lepas dari tanah italia. Ultras pertama dalam sejarah Italia adalah sekelompok pendukung klub sepakbola berusia sekitar 15 sampai 25 tahun yang jelas dapat dibedakan dengan model klasik pendukung sepakbola dewasa, yang lahir sekitar akhir tahun 1960an dan awal 1970an. Mereka biasanya berkumpul di bagian paling murah di stadion, biasanya para ultras italia berkumpul di tribun belakang gawang yang lebih di kenal dengan CURVA (Curva Nord, Curva Sud) dan biasanya mereka mendapat keringanan tiket oleh klub, dan dengan segera mereka menjadi sebuah karakter unik dari keseluruhan sepak bola Italia. Mereka sangat dapat dibedakan dengan penonton biasa yaitu mereka selalu berkumpul membentuk kelompok- kelompok dengan banner berukuran raksasa bertuliskan nama kelompok (berdasarkan tempat terbentuknya atau kesamaan orientasi politik) dan memakai pakaian- pakaian militer (hardcore ultra) dengan aksesoris wajibnya yaitu parka, sepatu boot Dr. Marten, pakaian perang dan jaket yang dikalungi syal dengan warna klub yang mereka cintai. (sangat kontras dengan penampilan supporter di Indonesia).

Para ultras biasanya mewakili suatu ideologi, politik, fasisme dan dengan latar belakang yang lain, begitu juga di italia Peran para ultra dalam perubahan sebuah klub di Italia lebih besar perannya dibanding para hooligan di tanah Inggris.

Ultras pertama dan tertua di Italia adalah Milan's Fossa dei Leoni ( Sarang Singa ) yang didirikan pada tahun 1968, yang kemudian menetap di bagian paling murah di stadion San Siro di sektor 17. Kemudian pada tahun 1969 muncullah Ultras Sampdoria (kelompok pertama yang menyebut diri mereka ultras), diikuti oleh "The Boys" dari Inter Milan. Dan pada tahun 1970an banyak bermunculan ratusan kelompok-kelompok kecil di stadion yang kemudian membentuk kelompok besar seperti Yellow-blue Brigade Verona, Viola Club Viesseux Fiorentina ( 1971), Naples Ultras (1972), Red and Black Brigade Milan, Griffin's Den Genoa dan Granata Ultras Torino (1973), For Ever Ultras Bologna (1975), Juventus Fighters (1975), Black and Blue Brigade Atalanta (1976), Eagle's Supporters Lazio dan Commando Ultras Curva Sud (CUCS).

Kode Etik ULTRAS

Di sepakbola Italia, Ultras dikenal sebagai Tuhan didalam stadion, merekalah yang berkuasa. Biasa bertempat di tribun di belakang garis gawang, dimana di tribun tersebut memiliki kekhususan, yaitu polisi tidak diperkenankan berada di tribun ini atau muncul masalah. Seperti kita lihat pada partai Derby Roma - Lazio, dimana ultras dapat membatalkan pertandingan dengan isu ada anak kecil yang ditembak polisi.

Di Italian ultras ini, mereka memiliki tradisi, yaitu pertempuran antar grup ultras, artinya sah-sah aja kalo salah satu grup ultras berkelahi dengan grup ultras lainnya, dan sebagai bukti kemenangan, maka bendera dari grup ultras yang kalah akan diambil oleh sang pemenang. Kode etik dari ultras lainnya ialah, seburuk apapun para tifosi ini mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.

Kekerasan juga menjadi hal yang buruk dalam sejarah ultras di Italia, tetapi diluar itu, mereka juga memiliki kode etik tersendiri dalam kehidupannya. Biasanya grup ultras akan bertempat di suatu tribun di stadion di Italia, dan dipimpin oleh seseorang yang disebut CapoTifoso. Masalah timbul apabila ada seseorang (diluar grup ultras) yang telah memiliki tiket resmi, dan sudah antri untuk masuk ke tribun yang kebetulan ditempati ultras dan mendapat tempat yang nyaman, tetapi ketika grup ultras masuk, maka orang tersebut akan diusir dari tempat duduknya, memang tidak fair. Seorang CapoTifoso juga memiliki kekuatan tersendiri di tribun tersebut, apabila ia memerintahkan untuk melempar benda-benda kelapangan, maka akan dilemparkan benda tersebut ke lapangan, tetapi apabila ia melarang, maka tidak ada satupun tifosi yang berani melawannya.

Kekerasan Di Sepak Bola Italia

Budaya kekerasan dalam dunia sepakbola sering diidentikkan dengan kerusuhan antar suporter maupun perkelahian antar pemain dan ofisial tim. Pandangan tersebut tidaklah salah hanya saja tidak selamanya sepakbola itu selalu penuh dengan kekerasan meskipun sepakbola itu sendiri adalah olahraga yang keras.

Kekerasan dalam sepakbola tersebut merupakan evolusi dari budaya Ultras dan hooliganisme yang saat ini telah berkembang ke seluruh penjuru dunia. Hooliganisme tidak hanya mendorong kekerasan di dalam stadion tetapi juga menyebarkan benih-benih kekerasan di luar stadion. Sepak bola Italia menyimpan cerita kelam. Di sana sering kali muncul kericuhan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Terkadang kalau dipikir memang aneh dan memalukan tapi di dalam dunia ultras dan kefanatikan kejadian seperti itu adalah hal yang biasa dan jika sesama keluarga ada sebuah perbedaan prinsip dan ideologi itu hal yang tidak memalukan dan tidak pula aneh, walaupun ultras terkadang mengesampingkan akal sehat karena terkadang terpengaruh alkohol atau pun obat-obatan.
Empat poin inti dari mentalitas ultras adalah:
• tidak pernah berhenti bernyanyi atau melantunkan selama pertandingan, tidak peduli apa hasilnya
• tidak pernah duduk selama pertandingan
• menghadiri permainan sebanyak mungkin (home dan away), tanpa biaya dan tidak mempedulikan jarak
• kesetiaan kepada yang berdiri di kelompok ini dikenal sebagai Curva atau Kop.

Kelompok ultra biasanya memiliki perwakilan yang liaises dengan pemilik klub secara teratur, terutama mengenai tiket, alokasi kursi dan fasilitas penyimpanan atribut. Beberapa kelompok klub menyediakan tiket murah, kamar untuk penyimpanan bendera dan spanduk, dan awal akses ke stadion sebelum pertandingan dalam rangka untuk mempersiapkan display. Hal ini sering menjadi bahan kritikan oleh suporter non-ultras, dan beberapa diantara penonton ultras mengkritik karena tidak pernah duduk selama pertandingan karena terhalang display spanduk dan bendera.


1. ULTRAS AS ROMA




2. ULTRAS AC MILAN








3. ULTRAS JUVENTUS








4. ULTRAS INTER MILAN








DILUAR ITALIA JUGA ADA ULTRAS SIH..



ULTRAS BARCELONA


ULTRAS REAL MADRID


ULTRAS BOCA JUNIOR (ARGENTINA)


HOOLIGANS LIVERPOOL


HOOLIGANS CHELSEA


NAH.. DI SLEMAN, ULTRASNYA SEPERTI INI NIH.....


saya ada ditengah-tengah mereka


bukan, ini bukan karena tabung bocor


ini juga bukan ritual kepercayaan baru


sama


suasana Camp Nou ada di Sleman
 

sama


ini semacam manusia laba-laba telanjang (spiderman-stripper)


saya gak yakin kalo orang ini lahir dalam keadaan seperti ini (berwajah un-identified)


hujan kertas roll di tanah air sendiri

nah, pas yang ini saya nonton.. saya ada di tengah-tengah angka sembilan #cumainfo


formasinya ada di tribun.. ajaiib


sekali lagi, ini bukan kebakaran

DAN.. INILAH VIDEO AKSI DARI BRIGATA CURVA SUD!!


yang ini pas pertandingan liga terakhir di kandang..



ini WALL OF DEATH nya Sleman



dan ini diluar stadion......




Sebenarnya masih banyak lagi foto-foto dan video tentang ultras asli Sleman ini, ada disini

FORZA SLEMAN!! 



NB : FOOTBALL WITHOUT ULTRAS IS NOTHING

5 komentar:

  1. suasana san siro bro tp keren salam dari elgi Milanisti dari bandung Salam damai

    BalasHapus
  2. yap, makasih,, cuma sedikit sok tau kok.. hehehe :D
    salam damai juga ya kakbro..

    BalasHapus
  3. SLEMAN tetaplah SLEMAN... Bukan sansiro, bukan campneu...

    THIS IS MAGUWOHARJO..
    THIS IS SLEMAN...

    Bangga dengan PSS SLEMAN...

    BalasHapus
  4. Aku tidak bangga menjadi BCS tapi aku bangga bisa mendukung PSS Sleman ;)

    BalasHapus
  5. resfect for casual bandung

    BalasHapus