10 April 2012

Gembel Potong Rambut, Masih Tetap Seperti Gembel

Ya ampun, hampir lupa kalau punya blog. (sekilas seperti teriakan banci)

Ada satu berita yang mau saya kabarkan. Bukan, bukan soal Jupe putus sama gaston............-_-"

Jdeng deeng daar... (gemuruh petir mulai mengiringi)

Saya CUKUR RAMBUT.. saya POTONG RAMBUT.. saya hampir pipis dicelana..

Yang terakhir itu bohong.

Yap, akhirnya saya potong rambut. Setelah menjalani waktu empat bulan, melalui berbagai rintangan dan  berbagai negosiasi yang alot (dengan ibu saya) akhirnya rambut abstrak nan jelita (agak gak matching kedengarannya) sukses dipotong dengan damai, selamat sentosa tanpa kurang satu apapun.. Dan tidak sampai salah tempat dipemotongan hewan atau disalon kucing.

Memang tidak ada yang menarik dari seorang gembel yang potong rambut, dan sangat tidak layak untuk disebut BERITA. Tapi bukan ini yang penting.

inilah penampakan rambut saya, sesaat sebelum dimutilasi
tidak ada orang yang mengaku rocker bisa se-alay ini

Sebenarnya ibu saya menyuruh cukur rambut sudah sejak dua minggu yang lalu, tepatnya sejak tetangga bilang saya kayak gembel pas lihat saya sore-sore habis main bola, kancutnya dia bilang itu ke ibu saya. Sebenarnya saat itu saya masih bisa membela diri dengan alibi kalau orang yang baru saja main bola, rambutnya tidak akan bisa rapi seperti orang baru mandi, meskipun hal itu tidak berlaku pada rambut saya yang tidak pernah rapi.

Quotes: "I’m gembel from my hair" (saya gembel dari rambut saya), oiya lupa, from my cash juga..

Tapi semua pembelaan diri saya jadi sia-sia seminggu kemudian pada Minggu malam, 1 April. Jadi ceritanya hari itu adalah peringatan 1000 hari meninggalnya salah satu mbah saya, satu keluarga besar kumpul termasuk saya, anggota keluarga paling keren gembel. Semuanya berjalan normal dan biasa-biasa saja, sampai pada satu waktu dimana salah satu tante saya memperhatikan saya dengan muka aneh, seaneh orang yang baru lihat upil raksasa jatuh dari langit. Bukan, saya bukan upil.
Gak berapa lama tante saya ini mulai tanya ke saya dalam bahasa jawa  “kok rambutmu sekarang kayak gini, perasaan dari kecil rapi-rapi saja”, kemudian saya jawab “faktor keturunan kan, bulik” dan hal ini segera terbantah setelah tante saya menunjuk rambut adik saya yang normal-normal saja. Dengan pasrah saya jawab lagi “yaa, kan sekarang baru model”. (sembari berdoa, semoga suatu saat nanti pasti akan ada model rambut sapu lantai-genic)

Tanpa sepengetahuan saya salah satu Budhe saya juga mendekat ikut gabung dan mulai mengusap-usap rambut saya yang kemudian berubah jadi pengacak-acakan brutal, dan berkata “bener lho Wis, rambutmu kayak pel” secara ngawur saya jawab “iki pel lantai surga je Budhe”, memang waktu itu saya baru saja keramas dan langsung berangkat.

Belum ada yang berani tega menyamakan rambut saya dengan pel...

Tanpa diduga, pembicaraan kami didengar semua orang yang ada disana, berhubung waktu itu acara kenduri sudah selesai dan semua orang juga sudah bersantai. Akhirnya semua orang ini mulai ikut menghakimi rambut saya, (rambut sialan, seharusnya gak usah dibawa). Beberapa mulai menyamakannya dengan sapu dan bulu ayam, bahkan adik saya dengan berani menyamakan rambut saya dengan sarang burung. Satu adegan yang tidak akan terjadi dirumah, sialnya saya juga tidak akan berani menyiksa adik saya didepan keluarga besar. Sejurus kemudian mereka mulai megang dan ngacak-acak rambut saya yang sudah acak dari sananya ini, dengan brutal tentunya. Satu hal yang gak terpikirkan dan baru saya ingat setelah sampai rumah dan masih tercium bau amis adalah, MEREKA BARU SELESAI MAKAN RAME-RAME pas megang-megang rambut saya... OH TIDAK!!!!..... amiss!!!

Yang saya maksud orang-orang yang menghakimi rambut saya adalah golongan IBU-IBU-PECINTA INFOTAINMENT DAN AMIRA-SEDIKIT LEBAY dan REMAJA CEWEK-SMASHBLAST-PECINTA DRAMA KOREA-LEBIH LEBAY. Ya, mereka tidak pernah menemukan sosok rocker gembel di infotainment dan sinetron korea mereka .

Teguran untuk potong rambut dari ibu saya tidak terbantahkan kali ini. Ibu saya benar, dia tidak ingin anaknya dinistakan hanya karena liarnya seonggok RAMBUT dikepala.

Dan saya cukur rambut seminggu kemudian, setelah gagal nonton konser JAMRUD di Kridosono.

NB : Semua cerita diatas diambil dari kisah nyata dengan perubahan nama tokoh dan penggambaran kebrutalan kejadian sebenarnya yang diperhalus.

2 komentar:

  1. wahh kalian anak2 geografi angkatan muda yang berpotensi, he he,, semangad berkarya buat kalian.. kalo bisa follow blog punya kakak ya..he he. Salam geographer..!!

    BalasHapus
  2. iyo mbak, makasih,, wah-wah berpotensi merusak po berpotensi apa ini mbak...hehe

    BalasHapus