20 April 2012

First Love (A Crazy Little Thing Called Love)



Ya, judul diatas adalah judul sebuah film Thailand.

Entah kenapa, saya gak pernah se-galau mikir ini setelah nonton film, memang saya bukan maniak film atau orang yang kalau lihat film harus selalu bagus apalagi orang yang dengan mudah menilai setiap film dengan dua vonis, bagus dan jelek. Menurut saya banyak hal yang membuat film jadi enak untuk dilihat, video buatan sendiri dengan camdig-pun akan enak untuk dilihat, dan gak harus selalu bagus.

Jadi kemarin saya nonton sebuah film yang berjudul First Love (A Crazy Little Thing Called Love) film ini film Thailand buatan tahun 2010. iya, saya juga baru tau kalo di Thailand ada film kayak gini, karena film Thailand setau saya kalau bukan film horor, ya film laga, atau film gajah-gajahan. Atau kalau gak malah campuran antara film horor gajah yang suka silat, entah kalau di film horor, gajah jadi pocong atau suster ngesot..

Ini cover film First Love; A Crazy Little Thing Called Love

Dari judul filmnya sih sudah keliatan kalo ini adalah film tontonan REMAJA-ABABIL-CEWEK-YANG RENTAN GALAU, atau lebih tepatnya ini film akan drama abis. Tapi, gak ada setan gak ada ketan, kemarin pagi, seperti biasa dikos-an teman yang selalu jadi pos tiap selesai kuliah ada satu teman yang cari-cari film buat ditonton bareng. Dan dia nyetel film itu, entah apa yang dipikirkannya. Saya sempet kepikir buat membawanya ke psikolog karena kondisi kegalauannya sudah sangat kronis (bisa-bisanya seorang pria normal nyetel film yang dari judulnya sudah keliatan bencong parah). Jadilah hari itu, kami sekelompok pria ganteng nyaris jantan yang nonton film drama dengan adegan nangis-nangis bareng.

Tapi... ya itu tadi, seperti yang saya bilang diawal. Film-nya cukup bagus dan sukses membuat kita nangis bareng (sori bercanda). . saya suka dialog dan quotesnya, simpel dan mengena. Alurnya lancar (maksudnya gak ada polisi tidur gitu) endingnya bagus, walaupun ceritanya mudah ketebak dari awal.

Inilah satu film yang pernah saya lihat yang bisa bikin saya jadi mikir dan senyum-senyum sendiri, sambil berkali-kali nepuk jidat dan teriak kecil “kamfret, ini film gue banget”...  tentu saja gak se-ekstrim difilm. Tapi saya jadi mikir kalau tokoh di film adalah personalisasi diri saya beberapa waktu lalu, bedanya difilm tokohnya cewek.

Ceritanya tentang seorang cewek yang suka sama kakak kelasnya, kakak kelas (cowok) ini cakep, mirip bintang bokep korea, selanjiutnya disebut CMBB (cowok mirip bintang bokep), cewek ini pada awalnya adalah seseorang yang biasa-biasa saja dan bisa dikatakan warga kelas dua disekolah. Mukanya biasa saja dan lebih mirip patung gerabah yang dicat menyerupai kulit manusia, bodinya persis triplek; rata, keras, dan cocok dengan cat jenis apa saja, bedanya kalau dipaku bisa teriak, selanjutnya disebut CPG (cewek patung gerabah).

Cewek ini.. yaa, khas cewek ababil lah, gak perlu ditulis. Jadi, pada satu kesempatan CPG jadi tokoh utama dalam drama disekolahnya (drama lagi!, hoek) CPG yang memang sudah berusaha berubah dari pertama, akhirnya nemu jalannya, disaat yang sama CMBB adalah kru drama tersebut. Pada satu latihan, dimana muka si cewek sudah dimake-over (dibuat-berlebihan) dan tiba-tiba pemeran utama cowok gak bisa datang, dan si CMBB lah yang jadi penggantinya, hingga pada satu adegan cewek ini hampir jatuh dari pangung dan ditolong oleh CMBB, bisa dibayangkan adegannya seperti apa.. lebih menjijikkan dari ingus gajah. Tapi disitulah Turning Point-nya.

Semakin hari, CPG berubah jadi cantik (banget) mirip bintang bokep korea juga, entah kenapa saya juga heran. CPG juga semakin populer karena tidak sengaja ditunjuk untuk jadi mayoret di marching band. Hingga suatu hari saudara CMBB datang untuk pindah sekolah kesana. Dan jatuh cinta pada CPG, si CMBB yang sebenarnya juga suka jadi gak pernah bisa menyatakan cintanya ke CPG karena CMBB dan saudaranya ini pernah berjanji untuk gak pernah jatuh cinta pada satu cewek yang sama... oh, so sweat (sangat berkeringat!)..

Finally, pada perpisahan kelulusan, CPG yang jadi rangking satu dan akan pergi ke Amerika, memberanikan diri buat nembak CMBB, tapi ternyata si CMBB baru saja jadian sama teman sekelasnya.. ohh so kampret!!, padahal si CMBB ini juga punya perasaan yang sama. Nah adegan nangis-nangis darahnya dimulai disini, si CMBB yang dari pertama juga suka sama CPG ternyata membuat diary foto, dan semua isinya adalah foto si CPG. Diary tersebut bercerita tentang si CMBB yang mengagumi CPG sejak awal si CPG belum berubah jadi cantik. Diary ini kemudian diberikan ke CPG dengan ditinggalkan di depan rumahnya. (isi diarynya bikin nangis-nangis dan jadi ragu sama orientasi seksual sendiri).

Endingnya, ceritanya sembilan tahun kemudian, saat CPG pulang dari Amerika ke Thailand untuk fashion show (ceritanya CPG jadi desainer), si CMBB nembak dan melamar CPG di acara TV dimana CPG sebagai bintang tamunya. Tamat.

Sudah baca.... trus kenapa saya bisa bilang cerita di di film ini mirip dengan saya??!...

Jadi, kemiripan yang pernah saya alami terjadi dijaman SMA kelas dua, saat-saat kritis sebagai murid SMA. Dimana saya dulu dikenal sebagai anak ingusan yang alergi pada pelajaran, jadi kalau sedang pelajaran bawaannya jadi kedinginan dan gatel-gatel. Berangkat sekolah cuma buat numpang tidur.Jangankan dapet nilai bagus, bisa ikut ulangan juga sudah membanggakan.

Saat itu saya baru saja kenalan dengan cewek dari SMA tetangga, dia teman sekelas teman SMP saya. Orangnya pinter dan gak macem-macem (the point why I like her), baru awal smsan saja, dia sudah bilang kalau lagi sibuk persiapan olimpiade geografi. Tapi sepertinya dia juga lagi butuh teman.

Hal pertama yang membuat saya jadi minder;
1. Dia sering mewakili SMA-nya buat ikut lomba, sedangkan saya sering minta diwakilkan absen kalau gak masuk (memang gak nyambung).

Hal kedua, disaat anak-anak lain sedang asik main, dia hampir seminggu tiga kali jadi pengajar TPA dikampungnya, bahkan dialah yang ngajak-ngajak teman-temannya buat sekedar ikut kumpul di TPA, bukan buat mengajar dan akhirnya teman-temannya jadi pengajar juga. Saya tambah mikir.
2. Saya TPA aja belum lulus sudah DO!!.

Selanjutnya, hampir tiap malem dia selalu sms untuk sekedar mengingatkan sudah belajar atau sudah sholat apa belum, atau malah mengingatkan ulangan semester sudah dekat. Awalnya saya mengira kalau dia memang perhatian sama saya, tapi kePEDEan saya berubah jadi kemaluan, karena hal seperti ini dilakukannya hampir ke seluruh teman sekelasnya. Entah apa motivasi-nya untuk itu, yang jelas dia memang baik ke semua temannya. Ini hal ketiga yang membuat saya jadi lebih tambah mikir.
3.  Disaat yang sama saya masih belum tau kalau sholat dan belajar itu gak bisa dijamak.

Beberapa hal tersebut mulai mempengaruhi saya, terutama dalam pelajaran. Entah mengapa saya jadi lebih antusias dikelas, jadi lebih teratur ngumpul tugas, dan jadi selalu pengen ngumpul dengan teman-teman yang bisa mikir.

Hal itu berlangsung dari pertengahan kelas dua sampai kelas tiga dimana dia sudah pindah ke Jakarta. Dan hasilnya adalah saat kenaikan kekelas tiga, saya berhasil masuk lima besar dari 36 besar. Dan yang paling penting adalah nilai UN pas kelas tiga, nilai saya berhasil jadi yang terbaik dikelas untuk ujian Matematika (diatas sembilan) dan Bahasa Inggris urutan kedua kalau gak salah. (bukan bermaksud sombong atau pamer, karena memang gak ada yang bisa disombongkan dan dipamerkan dari diri saya).

Mungkin saat itu saya berpikir,”ternyata masih ada seseorang yang seumuran dengan saya yang begitu menghargai apapun yang bisa dilakukan demi ‘kemajuan”. Memang dari dulu banyak teman saya yang kurang bisa seperti itu. Tapi bukan berarti teman saya tidak lebih baik, hanya saya belum menemukan pelajaran seperti apa yang bisa saya temukan dari-nya. Dan saya sempat merasa suka padanya, walau belum pernah mengatakannya.

Memang kita gak sempat lebih dekat atau bahkan jadian, karena kita baru ketemu beberapa kali sebelum dia pindah ke Jakarta dan gak ada kabar sampai sekarang. tapi orang inilah yang saya yakini sudah merubah ‘sedikit’ pandangan saya pada sekolah dan pentingnya buat kehidupan. Ya, dia memang gak pernah menggurui atau nyuruh-nyuruh sedikitpun, tapi saya belajar dari sedikit yang saya tau dari yang dilakukannya.

Motivasi bisa didapat dari siapa dan apa saja, tapi orang yang tepat-lah yang akan membedakannya.

Dan dari film ‘First Love’, saya coba menyimpulkan pelajaran yang memang hampir mirip dengan saya waktu itu:



saat jatuh cinta dengan seseorang, tokoh dalam film menjadikan hal tersebut sebagai inspirasi dan motivasi untuk merubah hidupnya jadi lebih baik. Si tokoh menyiratkan satu pesan dan seolah ingin mengatakan pada kita; 

“inilah usaha saya dan sampai disinilah saya telah mencapainya. Orang diluar sana mengatakannya sebagai keberhasilan, tapi saya hanya akan mengatakan ini sebagai satu langkah kecil agar orang yang saya sukai bisa melihatnya untuk sebentar saja”.

 

Dan ending dalam film menampilkan satu quotes:
“Dia membuatku memakai cinta dijalan yang benar”

Seharusnya semua orang yang sedang jatuh cinta bisa seperti ini.



NB: btw, sekuel film ini "First Love 2: The Sequel 9 Years Gone" akan rilis tahun ini, tapi belum jelas kapan. jadi gak sabar nonton kelanjutannya (nangis-nangis)

6 komentar:

  1. waa, kok ngakak, kudune kowe terharu lho moco pengakuanku...
    #saya gagal
    YA TUHAN SAYA GAGAL MOSTING POSTINGAN YANG SEDIKIT BERMUTU, SAYA GAGAL!!

    BalasHapus
  2. Seandainya saja semua org bisa mengambil hikmah sekecil apapun pd kehidupan mereka... oooohhh Alangkah indahnya dunia.
    Gue jg terharu sm sinopsis film itu...belum nonton neh filmnya di daerah gue gak ada euy...

    BalasHapus
  3. download aja neng, banyak kok.. hehe

    BalasHapus
  4. kalo mau download first love 2 dimana ya bang?

    BalasHapus