11 Maret 2012

pengakuan seorang gembel, yang pernah ababil..

NB:
Ababil dalam Al-Quran: adalah semacam burung yang menyerang pasukan gajah yang akan menghancurkan Ka'Bah di zaman kelahiran Nabi Muhammad.
Ababil dalam blog ini: adalah semacam virus yang menyerang anak-anak ABG yang hidup di zaman alay

Berhubung dari tadi gak ada kerjaan, otak jenius saya mulai iseng liat fb orang-orang, ternyata pengguna fb udah mulai bergeser dari segi umur, anak SD udah banyak yang punya, adek saya kelas 4 SD ternyata juga punya. Dan keponakan saya yang belum bisa jalan juga pengen dibuatkan fb!! (bercanda).. Semoga kurikulum disekolah PAUD gak ada pelajaran TI-nya, terus anak-anak PAUD gak akan iseng-iseng main twitter, fb, dan sejenisnya, amiinn..

 mama, kok mukaku mirip alien yaa..

Untuk yang sedikit lebih tua, yang mulai akil balig (SMP, SMA).Ternyata foto atau nama-nama mereka imut-imut (baca=menjijikkan) buat saya, statusnya juga gak kalah supernya..

 
orang tuanya kreatif sekali..


Dan kemarin sore setelah nonton film Realita. Cinta, & Rock’n Roll. Saya jadi ingat waktu pertama kali nonton film ini, pas kelas 2 SMP (2006) dan saat itu masih labil-labilnya sebagai anak remaja masa pertumbuhan yang sedang belajar menculik gadis-gadis(?), dan belum seganteng sekarang. Bisa ditebak saat itu, setelah nonton film tersebut, saya sangat terobsesi buat meniru semua yang ada di film itu (jadi rocker).

Quotes: “saya pernah ababil, diam kalian semua!!..”
-gembeliber-

Pertama mulai coba-coba dengar lagu Sex Pistols, Rolling Stones, the Doors, Ramones, dan lainnya. Walaupun setelah dengar lagu-lagu itu saya malah jadi stres sendiri, FYI: lagu rock n roll terlalu beresiko buat penderita anemia. Tapi mulai saat itu saya mendeklarasikan diri buat jadi rockstar disekolah dan dirumah, meski alat musik satu satunya yang bisa saya mainkan adalah meja kelas (dari hasil observasi, meja adalah alat musik suku khas di Mali).

Dirumah semua celana jeans dan yang bukan jeans habis semua bagian bawahnya, alias saya pecutin abis. Setiap saat selalu memakai celana skinny (ketat) mulai dari dirumah, sekolah, main, bahkan pas pengajian pun masih tetep pakai celana bencong ini, juga sepedaan kemana-mana (waktu itu kemana-mana naik sepeda, soalnya belum diijinkan dan memang belum bisa). Sekarang saya sempat bersyukur, “Ya Tuhan untung celana ketat keparat itu tidak merenggut kejantanan saya (impoten)”.
ini penampakan salah satu celana impoten yang tersisa:

kalau dipake, kurang lebih jadi seperti ini:
 
sori mukanya marmos, lagi diare,,


Terus mulai mencoba rokok (soalnya di film itu vino sama herjunot merokok terus), kemudian seragam SMP jadi korban mode pertama (dibikin ketat) yang setelah itu malah jadi trendsetter disekolah (entah karena saya atau karena gaya punk yang memang sedang booming saat itu). Saking sempitnya, kalo naik tangga sekolah saya harus jalan miring pas naik keatas, seperti perawan desa yang mau bonceng motor. Tapi apapun itu, yang namanya perjuangan untuk jadi trendsetter sesat disekolah akan saya lakukan.
 
Yang paling fatal yaitu pas pertama nyoba miras (anggur kolesom oplosan), gila, paiitt. Berhubung semua rocker suka (kecuali yang tidak) saya pun tergoda untuk mencobanya, dan ternyata yang dibilang kalo miras itu memabukkan, bagi saya tidak ngefek sama sekali. Saya sempet berfikir kalo mereka itu mabuk bukan karena minum, tapi masuk angin karena terlalu banyak begadang sambil teriak-teriak didepan mic. Tapi menurut teman saya (sudah pengalaman) saya tidak merasakan efek miras karena minum sedikit sekali, ya iyalah, saya cuma minum setutup botol aqua. Hehe

pencerahan:

Dari semua kesesatan-kesesatan masa ababil saya tersebut, saya sangat bersyukur tidak mengalaminya pada saat ini. Karena anak-anak sekarang ini sedang mengalami krisis idola atau panutan (dalam hal ini musisi). Ini bisa kita lihat diacara-acara musik pagi, gak ada yang menjual kualitas! Mereka hanya memanfaatkan momen boomingnya salah satu scene oleh satu band atau boyband yang sengaja dimunculkan, sebagai pancingan untuk kemunculan band-boyband lainnya yang kemudian menyusul. Band atau boyband musiman inilah yang menjadi idola sebagian (besar) remaja

Akibatnya remaja yang sedang masa peralihan  ini melakukan identifikasi diri terhadap scene yang menurut saya salah. Kesan: mereka adalah korban. Dibalik ketidak-sukaan saya pada anak sekarang (yang berlebihan) ada juga rasa kasihan yang menyertai.

Seperti yang sudah saya tuliskan , bahwa saya bersyukur masa paling labil saya masih banyak musisi yang berkualitas yang layak dijadikan idola seperti Slank, GIGI, Padi, Sheila On7, BIP,Netral, SID atau band luar seperti: Blink 182, Greenday, Sum 41.

Sekarang saya masih bisa membanggakan diri pada anak-anak sekarang kalo masa paling labil saya jauh lebih keren daripada yang saat ini dianggap (ababil) paling keren sekalipun. Mengapa? Karena dulu saya meniru gaya Ramones atau Slank (rock’n roll!!!) bandingkan dengan anak sekarang yang kalau tidak meniru Sm*sh, Armada, ya meniru Super Junior.

Dan memang keduanya tidak dapat dinilai atas neraca baik-buruk atau keren-tidak keren karena memang keduanya berada pada posisi yang sejajar. Tidak ada yang lebih baik karena mereka sama-sama meniru, bukan menciptakan sendiri (orisinal).

Tapi dalam hal ini, kebanggan saya dalam peniruan penampilan dan perilaku dari idola saya,yaitu masih dengan dasar pengetahuan tentang latar belakang dan alasan mengapa mereka bisa berpenampilan dan berpandangan hidup seperti itu. Alasan dan latar belakang tersebutlah yang kemudian mendasari saya untuk berkata “mereka keren!” dan kemudian menirunya.
Sekian dan salam dangdut.. /m/!!

2 komentar:

  1. yow arep piye meneh mas..presiden e mikir harta...menteri pendidikan mikir nilai..sekolah turu~mabok~sekolah~begadang~nglayap ngilang

    BalasHapus
  2. hahaha, ya beginilah mas,,setelah sadar seperti ini, jadi pengen lebih baik, tapi mulai dari diri saya sendiri.. :)

    BalasHapus