30 Maret 2012

Dua Minggu yang Membuat Terpaksa Menderita Pintar


Atas nama naruto dan Tsunade yang t**eknya gede, saya sedang merasa capek dan lelah, merasa stuck (temennya stick) dengan tugas dan rutinitas saya. Ternyata emang benar teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa semakin kita dekat dengan UTS atau UAS, maka semakin brutal-lah tugas-tugas yang melanda. Entah bener atau salah.

Sebenarnya kalo masalah tugas yang membabi buta, saya sudah sedikit terbiasa sih dengan begitu banyak (dan bangsat) nya tugas-tugas ini. Kalo dipikir-pikir juga emang seperti inilah dunianya mahasiswa dimanapun berada, yaitu: berangkat setiap hari -> nyatet atau mencopy materi -> diberi tugas -> kerjakan tugas ->hampir bunuh diri karena tugas -> ngumpul tugas -> panik menyiapkan ujian -> ujian.. gitu terus sampai kiamat.. dan ketika kita menyadari ini,kita sudah beruban dengan kacamata plus tebal, setebal make-upnya trio macan. Dan artinya itu sudah terlambat, sekali lagi SUDAH TERLAMBAT..
backsound  D’massiv – cinta tugas ini membunuhku

Salah satu hal yang gak bisa  dilakukan selama dua minggu saya mengurung diri dan menggauli tugas-tugas saya adalah main SEPAKBOLA. Dimana biasanya hampir setiap hari bisa main. Ini,kenyataan yang  sangat-sangat menyakitkan sebagai pemain andalan (bohong, jangan percaya). Sampai-sampai tim saya udah tanding dua kali, futsal dan lapangan besar, saya samasekali gak tau. Entah karena saya sengaja gak diberi tau karena kalo ikut akan mengacaukan permainan atau karena saya terlalu lama dipenjara oleh tugas.

Quotes : “rasanya gak main bola dua minggu tu, kayak meluncur bareng ingus akrobatis, menuju rasi bintang, paaliing maaniis”....

Dan kemarin pas sempet keluar , di angkringan teman-teman yang ikut tanding away ke kandang babi musuh, semua ngomongin tentang PERTANDINGAN yang dengan suksesnya dibantai oleh musuh 1-6. Agak memalukan memang, tapi jadi maklum setelah dengar pengakuan kalau lapangan yang dipakai itu seperti lapangan, saking gak pantesnya dibilang lapangan. Jadi kata mereka, lapangannya itu dipinggir kanan-kiri pitak yang keras dan berpasir, terus yang ditengah adalah lapangan becek+jeblok yang kalau jatuh bisa kehisap kedalamnya (ini lapangan ato lumpur hisap. Entah bener atau tidak, seperti itulah kesaksian korban penganiayaan lapangan.

Dan dari cerita-cerita ini, saya menemukan kejanggalan yang amat sangat. Yaitu sebagian besar dari mereka mengaku kena cedera setelah tanding di sawahlapangan musuh. Ada yang bilang cedera engkel atau cedera hamstring, malah ada yang cedera otak (setelah diteliti ternyata otaknya memang rawan gila). Dari nada bicara mereka, terkesan seolah-olah membanggakan cedera yang dideritanya (lecet kok pamer-pamer?!).

Saya, sebagai pemain yang haus akan aksi dan cerita dilapangan mendadak jadi iri, mereka cedera karena sering main membela tim. Sedangkan saya, udah jarang latihan, gak pernah datang kalo tanding. Trus kalo cedera paling-paling keseleo karena salah nendang kerikil waktu mau nendang bola, atau pernah cedera karena kaki masuk kelobang kecil yang setelah dicek, lubang itu ternyata buatan saya sendiri pas menemukan arit dilapangan (iseng-iseng aritnya dipake untuk garuk tanah, maksudnya buat menjebak musuh).

Sangat-sangat tidak elit sebagai pemain bola. Jujur, saya pengen cedera yang masuk akal.

Dan kemarin hari Kamis, seperti biasa, pulang jam 3 lalu segera beranjak meniduri kasur. Seperti biasa juga saat mau latihan, teman-teman suka sms nanya dulu; “bal-balan ora?, futbol gag?” (main bola gak?). Sms mereka baru saya buka tepat setelah memelekkan mata tanda bangun tidur. Dan dengan MATA-DAN--PIKIRAN-KHAS-BARU-BANGUN-TIDUR saya dengan brutalnya bales: "AKU ORA, CEDERA KELAMIN" dan "AKU ORA, GEK CEDERA KELAMIN" (artinya; aku gak main, lagi cedera kelamin). Setelah 15 menit kemudian, saya sadar dan jadi bingung dengan sms sendiri, INI MAKSUDNYA APA????..

Ini , sungguh-sungguh terjadi.

emang gak jelas, jangan protes

20 menit setelahnya, saya baru kepikir buat menyelamatkan diri dari sms yang menistakan ini. Entah berapa teman yang sempat saya bales dengan sms itu, tapi yang pasti mereka akan ber-reaksi dengan kebrutalan tingkat dewa. Melihat kenyataan sehari-hari dan isi pikiran-harian mereka, ada beberapa kemungkinan reaksi biadab dari mereka;

1.       Hahaha, modar koe, salah sendiri terlalu banyak menggauli meja makan..
2.       Hahaha, salahnya terlalu sering main di s***em.. (ini fitnah sebenar-benarnya fitnah!!)
3.       Wah, sekarang aku punya teman senasib!!...

Mendadak saya jadi bingung, saya meratapi nasib, bayangan masa lalu berkelabat dan melayang-layang, saya melihat keatas dan teriak “MENGAPA OH TUHAN???” langit pun jadi kelam dan berputar-putar (ini kok jadi mirip adegan sinetron).

Beberapa langkah penyelamatan yang sempat terpikir adalah ngirim sms ralat ke mereka; “maaf, salah kirim, harusnya ini kedokter kelamin”, atau “sori bro,salah kirim,maksudnya ki ke pacarku”. Tapi kedua alasan ini segera saya urungkan setelah sadar kalo saya tidak bener-bener sakit kelamin dan saya juga tidak punya pacar.

Akhirnya dengan hati yang dipaksa ikhlas, saya pun mencoba pasrah. Mengharapkan keajaiban dan keadilan yang akan dikaruniakan oleh dewa kelamin(?). Semoga tidak ada apa-apa dengan kelamin, maksudnya dengan teman-teman saya.

Mungkin segini dulu postingan curhat-sedikit lebay saya, sempat terfikir buat dimasukkin “Greatest Memories” di radio Yasika FM, tapi saya batalkan setelah tau kalo yang suka ngirim curhat adalah remaja-cewek-ababil yang gak punya temen.

NB: baru tau arti kata dari SHIT ternyata adalah BAB,, jadi kalau ada kata-kata SHIT MOMENT, berarti orang yang bilang ini sedang kesulitan BAB, perlu diberi vegeta..



1 komentar: