23 Februari 2012

belajar ngeblog (bukan ngeblok), nulis juga

Seharusnya saat ini saya lagi baca buku cara dan tips ngeblog yang baik dan benar (NgeBlog Cerdas dan Profesional). Yang tadi siang baru saya pinjam dari perpus kampus. Tapi entah mengapa selera baca saya amat sangat anjlok saat ada dirumah. Sejak tadi siang saat sampai rumah, makan, lalu tidur. Baru ada waktu sekarang, eh datang godaan untuk nonton film sex is zero 2002. Padahal dulu sudah sampai bosan nonton ini film, entah mengapa sekarang jadi berhasrat (nonton!) lagi. Alhasil rencana baca buku GAGAL. Padahal tadi siang waktu kuliah ilmu politik di kelas yang panasnya seperti oven bocor, saya malah asik-asik aja baca buku itu..

Ternyata ngeblog gampang-gampang ribet, seperti balapan moto GP naik kuda (Rossi pasti bingung ngisi bensinnya dimana). Untuk nulisnya sih memang masih butuh banyak belajar, tapi tetap saja masih banyak hal yang meribetkan menurut saya, seperti berbagai setting dan segala tambahan-tambahan widget (whatsever) dan tips-tips supaya blog bisa dibuka banyak orang dan supaya terindeks dan dianggap sebagai blog laris,dan bla bla bla.

Setelah mengobrak-abrik rak buku dibagian yang berisi tentang pemrograman dan segala macam tentang TI (tekhnologi informasi) di perpus, saya jadi terkesan orang tergaptek sedunia, ternyata buku-buku jenis ini banyak sekali. Bahkan sampai nyampah disini (saya tau kalo buku-buku yang ada diperpus itu bukan termasuk buku laris).

Saya seperti katak dalam tempurung, yang tiap hari hanya bisa nonton TV dan main PS didalamnya. Selama ini saya pake facebook, sedikit coba-coba twitter, dan bisa download di youtube sudah merasa jadi yang paling canggih seisi rumah (ya iyalah). Padahal yang ditulis cobain twitter itu saya cuma bisa follow-follback, update status,  reply twit, udah itu doang!!,, sampai sekarang masih bingung retweet, mention, ngetwit atau balas status orang dll. Mau nanya malu, akhirnya tersesat dilembah suram kehidupan.

Melihat tulisan orang-orang lagi bales-balesan tweet (yang ternyata beda dengan bales-balesan pantun) saya malah bingung sendiri, ini bacanya dari depan atau belakang?!. kalo di luar negeri  ada wajib militer, terus di indonesia membuat aturan wajib baca tweet di timeline orang lain setiap jam, sepertinya saya lebih memilih minta suaka hukum di Mali dan tinggal disana,, hehe. Tapi belakangan ini saya ada sedikit kemajuan, sedikit-sedikit sudah bisa bales atau ngoment tweet orang (walau sedikit-sedikit). Hasil dari observasi sendiri, betapa bangganya saya!

Membaca beberapa syarat konten(mungkin tulisan?) yang bagus supaya menarik pembaca, seperti mendidik, penuh informasi, bisa jadi sumber berita, atau menghibur, dan sebagainya. Merasa sedikit aneh dan bingung, saya pun sedikit bertanya (maaf dari tadi banyak sedikitnya), terus tulisan saya ini masuk kategori apa? Mendidik? penuh informasi? Atau menghibur? Don’t ask the dancing roots (jangan bertanya pada rumput yang bergoyang).. karena rumput tidak tau internet..

Dari hasil analisa sendiri menggunakan metode analisis data secara empiris didapat hasil dan kesimpulan bahwa tulisan ini tidak jelas dan cenderung merusak, dengan gejala muntah-muntah disertai mencret bagi yang baca (bukan muntaber).

Tapi menurut saya, setiap tulisan mempunyai tujuan dan maksudnya sendiri-sendiri, karena tulisan tersebut adalah satu gagasan atau pemikiran utuh dari si penulisnya. Maka  dalam hal itu tidak ada yang salah. Raditya Dika (penulis komedi) sering berkata “menulis adalah untuk menjawab kegelisahan”. Karena memang kalau diperhatikan, hampir seluruh tulisannya adalah hasil observasi dari kebiasaan-kebiasaan lazim yang out of our control dan tentu saja membuat gelisah yang kemudian diungkap dari sisi berbeda (humor) untuk ditertawakan bersama.

Dapat saya tambahkan bahwa selain menjawab kegelisahan, menulis juga berbagi kegelisahan, mengapa?  ya mengapa. Karena sebagai manusia normal kita pasti membutuhkan orang lain untuk berbagi, dan dalam hal ini kita berbagi kegelisahan yang hampir pasti tidak akan bisa kita selesaikan sendiri. Maka tidak akan cukup kalau menulis hanya untuk menjawab kegelisahan tersebut, kita pasti juga perlu untuk membaginya dan diceritakan kepada orang lain. Dan harapan dari setiap orang yang sedang menulis adalah tulisannya ini tidak hanya akan dibaca oleh dirinya sendiri.

Apapun isinya, tidak akan ada yang bisa membatasi setiap orang untuk tetap menulis, termasuk saya. Entah itu kepentingan politik, negara, golongan, propaganda penguasa. Apalagi hanya untuk memenuhi kategori, indeks mesin pencari, iklan blog, bla, bla, dan bla. Saya mau, menulis yang tanpa tendens, tanpa beban materi dan motif yang mengikat, saya mau bebas menulis. Termasuk menulis hal-hal tidak mutu seperti ini.

NB: ini postingan blog pertama saya, harap maklum dan jangan anarkis (membanting desktop anda sendiri)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar