1 Desember 2015

Pindah ke Wordpress



Tadinya saya sudah nulis panjang-panjang cerita alasan kenapa harus pindah tempat ngeblog, tapi setelah dipikir-pikir lagi; “ah.. cuma mau pamit pindahan saja banyak cakap, dasar penganut aliran basa-basiniyyah!!.. pindah ya pindah saja..” 

Jadi dengan ini, dengan tulisan ini, saya sudah putuskan bulat-bulat bahwa Blog ini (terlalugembel) resmi pindah platform dari blogspot ke wordpress terhitung sejak tulisan ini diposting. Jadi, postingan ini adalah postingan yang terakhir disini. Dan bagi teman-teman yang masih berkenan menengok saya dan tulisan saya, monggo berkunjung ke terlalugembel.wordpress.com saja...

Sekian.

11 Oktober 2015

Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga

Candi-candi atau situs peninggalan yang berada di Dataran Tinggi Dieng selalu menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjunginya. Apalagi kalau bukan mistisisme bangunan-bangunan tua dan bersejarah tersebut saat tesamar kabut menjelang senja dengan latar berupa lereng pegunungan tua. Ditambah udara yang dingin, perasaan juga akan terbawa suasana ini, mistis dan gloomy.

 Candi Arjuna, Dieng

Tapi Dieng tidak melulu soal Candi Arjuna nya saja, juga Telaga Warna, ataupun kawah-kawahnya. Beberapa tahun belakangan, puncak-puncak di Dieng yang juga menjadi penyangga bagi keberadaan dataran tinggi Dieng menjadi ramai. Dan yang paling banyak dikunjungi, tentu saja puncak Prau. Puncak paling tinggi di dataran tinggi tersebut.

Dataran tinggi Dieng, menurut legenda adalah persemayaman para Dewa –berasal dari kata Di Hyang yang dalam bahasa Sansekerta berarti Persemayaman Para Dewa, memang menawarkan keindahan yang luar biasa, apalagi jika dilihat dari atas (dari puncak Prau).

  ***

Cerita dimulai pada akhir bulan  Juni, ketika saya dan salah satu teman saya (sebut saja Boweng) kebetulan bertemu di ruang jurusan untuk menghadap dosen dan bimbingan skripsi. Waktu itu kita sudah sama-sama berharap segera di-acc untuk sidang, mengingat sudah beberapa kali revisi dan tentu saja sudah muak dengan naskah yang ada di tangan. Sebelum saya masuk, saya sempat bercanda "weng, kalo ini aku di-acc, seminggu habis ujian langsung gas Sindoro yo!", yang disambut Boweng "siaap bos" dengan mantapnya.

Beberapa saat kemudian Boweng menyusul masuk ke ruang jurusan untuk bimbingan dengan dosen yang berbeda. Selang beberapa puluh menit, Boweng selesai bimbingan dan keluar ruangan. Sial, saya masuk duluan tapi keluar belakangan. Tapi, tidak lama kemudian saya juga keluar ruangan dan sama-sama tertawa keras-keras bareng. Yang berarti kita sama-sama sudah di-acc sidang.

Ternyata, kerumitan dan keribetan proses revisi ujian dan pendaftaran yudisium memaksa kita sejenak melupakan ide gila mendaki Sindoro di bulan puasa tersebut. Hingga, beberapa hari sebelum lebaran saat beban revisi sudah berkurang, Boweng mengirimi link berita via facebook. Beritanya adalah: semua jalur pendakian gunung Sindoro ditutup karena rentan kebakaran hutan.

Sampai pertengahan Agustus, akhirnya saya berkesempatan kembali ke haribaan Dieng lagi bersama Boweng dan 2 teman lainnya (Anggoro dan Joko), kali ini ke puncak Prau. Iya, Prau yang selalu ramai dan sangat terkenal di instagram itu. Prau adalah minor option setelah jalur pendakian Sindoro tidak kunjung buka. Dan seperti biasa, untuk menghindari keramaian, kita memilih tengah pekan tepat beberapa hari sebelum 17 Agustus.

Jumat, 14 Agustus lepas Sholat Jumat, perjalanan dimulai dari rumah Anggoro di Magelang. Menjelang petang, hujan turun lumayan deras sepanjang perjalanan Temanggung-Wonosobo yang dingin dan berkabut. Kontras dibandingkan Jogja yang panas dan kering di siang harinya. Padahal kemarau tahun ini hampir seluruh wilayah Indonesia diserang badai El-Nino, cukup aneh di sepanjang Temanggung-Wonosobo kemarin hujannya deras dan lama.

Sambil menunggu hujan reda dan untuk mengusir dingin, kita mampir di salah satu warung Mie Ongklok yang memang khas Wonosobo. Harganya lumayan murah (tapi saya lupa berapa harganya), dilihat dari apa saja yang ada didalam mangkok Mie Ongklok. Saat itu terungkap, Joko ternyata membawa beberapa buku Pramoedya Ananta Toer. Saya jadi heran, buat apa bawa banyak buku ke gunung, bakal dibaca juga tidak.. Walaupun sebenarnya saya juga bawa satu buku buat difoto diatas, tapi saya punya alasan penting untuk itu. Sedangkan alasan Joko mau dipakai buat foto-foto diatas, tentu saja.

 Hujan dan Dingin? mampirlah ke warung mie ongklok, pesan teh panas juga..

Setelah menghabiskan beberapa batang Jarum sambil ngobrol dengan bapak pemilik warung soal keberadaan pemandian air panas yang akan jadi destinasi buat mampir setelah turun,  kita numpang Sholat di Masjid seberang jalan. Beberapa puluh menit kemudian kita pamit kepada bapaknya untuk melanjutkan perjalanan menuju Prau.

Prau memang ramai, baru sampai basecamp kami sudah kebingungan mencari tempat untuk parkir. Padahal ini bukan weekend atau hari libur. Ya, beginilah resiko menjadi gunung yang punya jalur yang tidak begitu ekstrem dan cukup mudah dijangkau; menjadi tujuan bagi siapapun yang ingin mendaki gunung, yang baru mau pertama kali mencicipi rasanya mendaki maupun yang berkali-kali mendaki ke banyak gunung.

 ***

Ada penemuan yang cukup aneh begitu melewati jalur pendakian Prau. Entah sudah ada sejak lama atau baru-baru ini, sepanjang perjalanan sebelum pos 2, kita sering sekali melewati warung yang sebagian besar adalah juga warung makan. Ini jalur pendakian apa jalan menuju lokasi wisata ya?.. Sebenarnya keberadaan warung-warung ini tidak begitu mengganggu wong kenyataannya mereka banyak membantu pendaki-pendaki yang (sengaja/tidak) membawa logistik minim.

Yang jadi masalah adalah, saya sempat melihat tumpukan sampah menggunung di samping salah satu warung. Pikir saya itu adalah tempat pembuangan sampah dari sepanjang jalur. Ya, tempat pembuangan sampah di pinggir jalur pendakian. Sayangnya, saya tidak sempat memfotonya.

Sekitar jam 2 dinihari kita sampai di camp site yang kami tuju. Karena belum banyak berdiri tenda, kami dengan leluasanya milih tempat mepet menghadap Sindoro-Sumbing, dengan harapan bisa bebas menikmati view yang sangat terkenal ini. Benar saja, pagi hari begitu membuka tenda kita mendapati pemandangan lautan tenda yang berkerumun saling mengisi dan berperang warna, ramai sekali.

Saya bangun jam setengah enam, terakhir dari yang lainnya, jelas telat buat menikmati kedatangan matahari. Tanpa banyak cakap saya langsung buka tenda, sambil mengumpat ke yang lain tentu saja. Tapi umpatan saya sebatas di dalam tenda saja, keluar tenda mata saya langsung disambut penampakan yang memanjakan mata.

Matahari yang masih setengah muncul, menegasi garis batas langit dan cakrawala, emas menguning bertemu biru yang semakin menerang, "kombinasi yang surgawi" batin saya lebay. Paduan sinarnya menimpa gunung-gunung indah didepan mata. Membuat gugusan Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro seribu kali lebih gagah.

Seribu kata juga tidak ada artinya lagi. Pagi itu, adegan matahari terbit di depan mata benar-benar menunjukkan keagungan Sang PenciptaNya.


 Saya jadi ingat pada salah satu halaman buku "Soe Hok Gie, Sekali Lagi; Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya" yang menyimpan kutipan ini:

Berdiri disini benar-benar misteri. Kita merasakan kembali hakikat daripada manusia. Aku terkesan sekali tentang penciptaan alam sang manusia. Bila Tuhan di kota hanyalah nama asing yang formal belaka, disini aku merasakan bahwa Dia berdiri di hadapanku... besar dan indah sekali. Aku kira perasaan ini juga dialami oleh kawan-kawan lainnya” (hal 424-425).

Sayang sekali Prau pagi itu terlalu ramai, hingga suasana mistis dan religius yang harusnya benar-benar dirasakan dan diresapi jadi berkurang.
Setelah masak, sarapan, dan membereskan barang-barang, sekitar jam 10 pagi kita melangkah turun. Sepanjang perjalanan turun kita terus-terusan berpapasan dengan pendaki yang naik. semakin kebawah, jumlah yang naik semakin banyak. Tentu saja kita juga jadi lebih sering mengalah berhenti dan memberi jalan.

Gunung Prau benar-benar menjadi tujuan utama para pendaki, khususnya dari berbagai daerah di pulau Jawa. pada beberapa kesempatan,saya sempat ngobrolngobrol dengan salah satu dari beberapa rombongan yang berpapasan. Paling banyak mereka mengaku berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan Jogja. Yang paling banyak dari Bandung. Tidak heran, meskipun di daerah sekitaran Bandung banyak terdapat gunung yang sama sekali tidak kalah indah dan menakjubkannya, tetapi Prau tetap menjadi pilihan utama mereka.

Buktinya sebagian besar dari mereka adalah pendaki pemula yang kebanyakan baru beberapa kali (dan pertama kali) mendaki. Prau memang menawarkan banyak nilai lebih; pemandangan surgawi, mudah dijangkau, medan pendakian yang tidak terlalu ekstrim, dan yang paling penting adalah kemudahan akses mendakinya, cukup membayar registrasi dan meninggalkan KTP (saya lupa detailnya) tanpa harus cek ini-itu dan pembatasan kuota pendaki dalam satu hari.

Tiba-tiba kita semua ingat ketika sampai basecamp dan melihat kalender yang tergantung, bahwa hari itu adalah hari Sabtu menjelang tanggal 17 Agustus (17 Agustus hari Senin). Ternyata long-weekend... pantas saja jalur pendakian gunung Prau ramai dan macet. 

(bukan) pasar malam

6 Agustus 2015

Ke Merapi Berdua


RENCANA
Sekitar bulan Maret, beberapa teman saya berangkat ke Sindoro. Gunung yang selain letaknya tidak jauh dari Sumbing, juga sama-sama lumayan ekstrim. Waktu itu saya nggak bisa ikut karena ada janji nonton Banda Neira tepat di hari keberangkatan mereka. Sedih memang, tapi ya ngga papa, besok lagi maasih bisa pikir saya. Atas dasar ketidak-ikutan itulah, seminggu setelahnya saya mulai lempar wacana ke beberapa teman yang kemarin belum sempat ikut Sindoro. Saya mengira-ngira, paling tidak tiga-empat orang pasti mau.

Tapi, dari beberapa yang saya ajak; Boweng (yang ikut ke Sumbing taun kemarin), Joko (yang waktu itu lagi persiapan mau ujian skripsi+yudisium), dan Imam, cuma Imam yang sepertinya paling bisa berangkat. Boweng punya alasan cuaca lagi jelek dan banyak badai, Joko mau yudisium, sedangkan Imam paling lemah argumentasinya (ujian skripsi masih embuh, kuliah nggak seminggu penuh, dan belum mulai penelitian).

Sempat ragu jadi ke Sindoro atau tidak, mengingat saat itu sedang ramai pemberitaan satu pendaki yang hilang dan belum ketemu di Sindoro. Dengan berbagai pertimbangan keamanan akhirnya kita sepakat untuk menunda perjalanan ke Sindoro. Kali ini ke Merapi dulu, berdua. Imam akan jadi guide (dan porter, tentu saja) karena saya belum pernah ke Merapi.

so sweet as hell

REALISASI
Minggu 26 April, setelah packing di sore yang cukup cerah itu, saya dan Imam (teman jancuk-jancukan, red) berangkat dari rumah saya di Sleman menuju Selo. Baru masuk perbatasan Jogja-Jawa Tengah di Magelang, mendung mulai menggantung. Benar saja, beberapa kilometer di depan, jalanan basah, ternyata dari tadi hujan sudah deras disini. Kami pun menepi buat neduh dan pasang mantel.

Ternyata mantel kita sudah terpacking dalam tas masing-masing, jadilah kita beli mantel tiga ribuan dua. Sekedar biar tidak basah sampai basecamp, tanpa tau hujan deras baru reda menjelang basecamp. Dalam perhentian itu, Imam bilang (dalam bahasa jawa yang njancuk, tentu saja) “misal cuaca dibawah kaya gini, bisa dipastikan cuaca diatas lebih buruk, bahkan bisa saja badai”. Mendengar itu saya terpancing mau bilang “kalo takut ngomong, bos..” yang alhamdulillah bisa saya tahan dan hanya jadi batinan saja, mengingat saya cuma mbonceng. Saya cuma bilang “ya kita lihat dulu diatas kaya gimana”.

Sepanjang perjalanan hujan masih deras dan jancuk-jancukan masih berlangsung. Saya sempat khawatir dengan kondisi Shogun legendaris tunggangan kami yang sepertinya tidak ikhlas buat diberdayakan melewati jalan naik-turun menuju Selo ini, yang dibuktikan dengan hampir macet di beberapa tanjakan panjang. Hal ini diperparah dengan lampu ala kadarnya yang harus menyorot kabut tebal yang sepertinya tidak habis-habis dilewati.

Shogun legendaris membawa kita sampai di basecamp sekitar jam setengah delapan malam, setelah sebelumnya mampir disalah satu warung makan beberapa ratus meter setelah tikungan menuju basecamp (iya, kebablasan). Bangsatnya listrik disana mati tepat sebelum kita makan.

SAMPAI BASECAMP
Basecamp sepi, kita sempat bertemu dua rombongan lumayan besar (masing-masing sekitar sepuluh orang) yang ternyata sudah turun. Dua rombongan ini sama-sama bilang baru saja kena badai gunung malam sebelumnya (malam minggu, red), dan kabarnya badai akan datang lagi. Ditambah malam itu, barengan yang naik cuma dua kelompok (yang bisa dilihat di daftar pencatatan pendaki), beberapa kelompok lain belum turun atau belum sampai basecamp.

Malam itu hujan di basecamp masih rintik-rintik, tapi dinginnya tidak main-main. Saya dan Imam terlibat diskusi serius yang kelak akan menentukan perjalanan kami; “mau naik sekarang atau besok pagi setelah hujan reda” dengan segala perhitungan baik dan buruknya.

Akhirnya setelah sempat ngobrol dengan penjaga basecamp yang jaga, kita sepakat untuk naik malam itu juga. Dengan opsi kalau hujan bertambah deras atau mendadak badai sebelum pos satu, kita harus kembali ke basecamp. Kita menargetkan titik aman adalah pos satu buat ngecamp. Dengan raincoat yang sudah rapi, kita berdoa sebelum berangkat sekitar jam sembilan. Dari basecamp kita benar-benar cuma berdua saja, melewati jalan diantara ladang penduduk yang semakin ke atas menjadi hutan. Jalan yang sepi, basah, dan dingin.

KETEMU ROMBONGAN DARI KUNINGAN
Dengan sedikit kepayahan, kita sampai di gerbang dan pos yang ternyata bukan pos satu, melainkan gerbang TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Di pos yang mirip gazebo itu sudah ada sekelompok pendaki lain yang sepertinya juga mau naik. Merasa sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan, kita gabung dengan rombongan berenam yang mengaku dari Kuningan ini. Lebih-lebih di Gunung, asal mau inisiatif membuka obrolan dan basa-basi sedikit, pasti kita dapat teman baru yang langsung asik ngobrol apa saja.

Rombongan asal Kuningan ini ternyata baru saja dari Merbabu dan langsung menuju Merapi sehari setelah turun Gunung, sekalian kata mereka. Logistik mereka banyak sekali, macam mau buka warung burjo disini saja. Kita yang membawa logistik pas-pasan jadi minder buat mengeluarkan logistik karena memang logistik mereka lengkap sekali, dan kita selalu dipaksa-paksa makan dan minum punya mereka.

Asik sekali ngobrol dengan bro-bro baru dari Kuningan ini, kalau mereka bilang; “asal ada garpit (gudang garam) sama kopi mah, asikin aja”. Dari enam orang, ada dua orang yang paling aktif ngobrol dengan kita, sedangkan yang lain lebih milih tiduran sambil sesekali asal njeplak menimpali obrolan malam itu.

Segala macam obrolan keluar saja, mulai dari perkenalan mereka yang ngaku aa burjoan semua, dan selalu saya iyakan soalnya tampangnya cocok semua. Lalu ada salah satu dari mereka yang katanya tetangganya Dzawin SUCI 4, ngobrol soal lagu-lagu Dialog Dini Hari dan Sore yang mereka bilang ajaib, soal penyesalan kenapa mereka bolos kuliah dan kerja dan mendaki disaat musim hujan seperti ini, ngobrol masalah-masalah cewek (tentu saja), masalah kopi dari beberapa daerah yang katanya beberapa ada yang lebih pait dari vodka, kita menyebutnya kopi galak, dan banyak lainnya.

Saya pamit tidur dan membenamkan diri ke dalam sleeping bag sekitar jam dua pagi ketika Imam dan salah satu dari mereka masih ngobrol-ngobrol. Saya masih sempat mendengar ada satu orang yang mengaku dari Mataram mampir di pos, naik sendiri dan berencana tik-tok (naik langsung turun). Ada juga serombongan turis luar yang dipandu guide dari Jogja, yang numpang duduk di pos dan hampir menduduki kepala saya yang mepet pinggir pos itu, godverdomme sekali.

Pagi itu saya adalah orang pertama yang bangun. Langsung saya bangunkan Imam, rencananya kita akan berangkat naik subuh saat masih gelap, tapi baru bangun jam enam. Tanpa banyak packing, kita pun langsung pamit pada salah satu dari rombongan Kuningan yang sebelumnya menyusul saya dan Imam bangun, yang lain masih tidur. Kita mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diijinkan bergabung dan ikut menghabiskan logistik mereka malam itu, tidak lupa juga bertukar kontak. Sambil lalu, saya titip salam dan terima kasih pada teman-teman lain yang masih tertidur. “Mau turun saja hari ini”, katanya.

gerbang TNGM

BADAI DI PASAR BUBRAH
Bekas dan sisa hujan semalam menghias ranting-ranting, batu-batu, dan tanah yang semuanya masih basah. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai pasar bubrah dari gerbang TNGM. Tanpa banyak berhenti (kalaupun berhenti tidak pernah lebih dari lima menit) waktu yang ditempuh sekitar tiga jam saja.

Merbabu, yang malu-malu

Di tengah perjalanan kita sempat bertemu rombongan turis luar yang salah satunya hampir menduduki kepala saya tadi malam. saya tanya dikit keadaan di atas, dikit, karena bisa bahasa inggrisnya cuma dikit. Mereka bilang “not too bad if you wanna go up, but we can’t see the top, too much fog in”, yang saya jawab ngawur “really?.. oh oke, we’ll trying to hide the fog when we came in Pasar Bubrah”. “wow, good luck..” kata salah seorang dari mereka disusul tertawaan dari yang lain.

Yang tidak terlupakan, sepanjang perjalanan kita ditemani oleh satu burung Jalak yang seperti jadi penuntun jalan karena selalu melompat-lompat didepan.


Bro jalak

Sekitar jam sepuluh kita sampai di batas vegetasi yang jadi penanda masuk kawasan Pasar Bubrah. Sejak kedatangan saya dan Imam, kabut semakin tebal dan lama-kelamaan menutupi seluruh pandangan ke puncak Merapi. Angin yang awalnya biasa saja lama-lama juga semakin kencang, kaos tangan saya hampir terbang ketika saya lepas buat ambil sambungan celana dan jaket dari tas. begitu jalan ditengahnya, kacamata saya langsung penuh uap air yang terbawa badai dan kabut.

 Di batas vegetasi sebelum pasar bubrah

Masak dan sarapan jadi pengisi waktu menunggu badai reda. Aktivitas itu berlangsung dibalik batu besar yang sepertinya sudah disiapkan jadi tameng buat kita. Bayangkan saja, di balik batu kita bisa masak dan makan-makan dengan tenang, tapi beberapa langkah ke depan keluar dari batu, jangankan buat menghidupkan api, berjalan saja susah. Sepanjang badai berlangsung, pemandangan didominasi oleh warna putih kabut dan suara angin yang menderu-deru.

Badai dan kabut di pasar bubrah

Keadaan tersebut berlangsung sekitar satu jam lebih. Selepas jam sebelas, badai dan kabut berangsur reda sejak kedatangan ibu-ibu dengan seorang bapak-bapak yang (sepertinya) porter. Ajaibnya, begitu si ibu sampai di dekat batu tempat kita berlindung itu, badai benar-benar reda sama sekali. Si ibu sempat bertanya “lho kok pake jaket tebal semua ini? ngecamp disini ya tadi?”, yang langsung dijawab Imam “nggak kok bu, ini tadi baru saja badai angin dan kabut”.. kemudian Ibu itu mengajak ke puncak bareng.

 Ibu-ibu strong dari Surabaya dengan gear-gear dewa nya

PUNCAK
Ternyata pada saat badai tadi beberapa orang yang terlanjur jalan di pasar bubrah bersembunyi di balik batu-batu besar yang tersebar disana, begitu badai reda mereka langsung keluar dan melanjutkan perjalanan. Jalan dari pasar bubrah sampai puncak memakan waktu sekitar sejam, melewati pasir dan batu-batu yang sering melorot saat dipijak.

melorot, batunya

pas balik badan, lihatnya Merbabu..

Begitu sampai puncak, kita ketemu lagi dengan ibu-ibu dan bapak-bapak tadi. Ibu-ibu dan teman-temannya yang masih di belakang ini berasal dari Surabaya, sebelum ke Merapi mereka naik merbabu via Cunthel turun via Selo, keesokannya mereka langsung naik Merapi (hari itu, red). Si ibu mengaku baru sekitar tiga tahun mendaki gunung, tapi sudah mendaki sepuluh gunung termasuk Merapi dan Merbabu ini, sisanya gunung-gunung  Jawa Timur. “Naik gunung itu nagih banget mas, sayangnya ngga dari dulu saya naik gunungnya”.. katanya.

jangan ditiru, ini kebodohan saya.. jelas-jelas ada jalan lebih bagus di atasnya

Bibir, tebing, dan dasar kawah Merapi beserta asap dan awannya

Seperti yang sering ada di google dan postingan instagram, puncak dan kawah Merapi memang luar biasa. Gagah dan mistis menurut saya. Tidak bisa dibayangkan, beberapa waktu setelah saya ke puncak Merapi itu, ada seorang mahasiswa Atmajaya yang terpeleset jatuh dari puncak ke dasar kawah Merapi.

Gagah dan mistis

29 Juni 2015

Akhirnya...

(sebuah puisi nggosu)

Akhirnya, semua akan tiba pada hari yang ngga biasa..
Aku datang terburu-buru sambil bawa buku,
Kalian, entah dimana.. mungkin bangun pun belum

Lari-lari aku dari parkiran, telat kubilang!
ternyata jam tanganku baru saja diutak-atik ibuku,
biar ngga telat katanya sering sekali begitu

Pada langkah gusar,
pada lantai selasar,
pada rapatnya pintu ruangan,
aku membatin; “dafuq, kunci pintu belum diambil”
lalu aku balik turun lagi, ke ruang umpet.. maksudnya umper
kunci kuambil, SIM kutinggal.. untuk jaminan.... macam mau nyewa PS3 saja

PPT belum kubuka ketika penguji datang
tidak gugup kubilang, hanya laptopnya yang minta dibakar.. lambat sekali

Semenit, dua menit, sejam, hampir dua jam..
masih berlangsung tukar pikiran, adu pandangan, dan sesekali ku tersenyum sopan,
bukan apa-apa, senyuman adalah jawaban terakhir ketika kata-kata sudah habis
untuk menjawab peliknya pertanyaan.. hehehe.. hehehe.. hehehe..

Pada akhirnya waktu habis juga,
entah karena sudah cukup,
atau pertanyaan sudah habis diajukan,
atau penguji sudah bisa menyimpulkan,
atau memang sudah tidak ada harapan..
wallahu’alam

pagi itu,
aku ujian..
akhirnya..
ujian skripsi.....
skripsi....
skrip..... ah..

bye skripsi
(29 Juni 2015)


Koncokenthel tapi dendam

8 Maret 2015

Antara Jogja-Cemoro Sewu, Selama 13 Jam

Rabu malam pukul 20.00, 18 Februari, teman saya bertanya saya mau kemana kok tiba-tiba membatalkan rencana mengerjakan kerjaan yang sudah hampir deadline. “Edan, ra mikir tenan!!” teman saya berkata, begitu saya menjawab mau ke Cemoro Sewu (gunung Lawu). Mungkin dikiranya mau mendaki lagi atau gimana. Teman saya ini tidak salah ngomong, dengan waktu yang sehari itu, kelihatannya saya nekat banget main ke Cemoro Sewu pakai angkutan umum (kereta, bis, dan angkot). Saya memang gila. Atau lebih tepatnya kita (karena saya bawa pacar saya) dan yang ngajak harus hari itu juga dia.

ini tempat tujuannya

Baiklah, anggap saja kita sama-sama gila, dua orang yang sama-sama gila.

Jogja, 09.00 WIB
Singkatnya, karena Prameks jam 07.30 dianggap kepagian kita naik KA Sriwedari dari stasiun Lempuyangan jam 09.15. Dan karena sampai stasiun sudah jam sembilanan alhasil tiketnya habis. Jadinya kita naik Prameks yang berangkat jam 10.35 WIB. Satu setengah jam kedepan adalah duduk dan menunggu yang pertama (yang tanpa diduga akan dialami berkali-kali sehari nanti).

Satu setengah jam berlalu dengan cepat diantara lalu lalang orang yang keluar masuk stasiun, keluarga-keluarga bahagia yang terlihat sedih melepas salah satu anggotanya pergi dan beberapa pasang manusia yang juga saling melepas kepergian. Stasiun pagi itu tidak terlalu ramai, cukup nyaman dipakai menunggu berdua.

Seperti yang tertulis di tiket. Prameks tujuan Solo tiba di Lempuyangan jam 10.30, yang sesaat kemudian langsung ramai diserbu penumpangnya. Kita yang nggak mikir bakal penuh nyante saja jalannya, nggak tau kalau didalam kereta manusianya sudah bertumpuk-tumpuk. Sama seperti penumpang sante lain, kita juga berdiri. Dari beberapa stasiun yang disinggahi, tidak banyak orang yang turun. Penumpangnya tetap itu-itu saja, masih penuh. Baru sampai stasiun Purwosari banyak yang turun dan kita bisa duduk. Tapi saya lupa, itu cuma berlangsung selama lima menit. 

Solo, 11.40 WIB
Sampai di stasiun Balapan Solo sekitar jam 11.45 kita langsung jalan menuju Terminal Tirtonadi. Matahari sedang panas-panasnya, jalan dari stasiun ke terminal juga lagi ramai-ramainya. Di jalan kita sempat ditawari naik becak, padahal terminal tinggal sebelokan lagi. Dengan langkah terburu-buru, sampailah kita di terminal dan langsung menemukan Bis Rukun Sayur Solo-Tawangmangu. Saya apal betul bis ini karena dulu pertama ndaki Lawu juga naik bis yang sama dari Solo. Ada yang beda dengan bis ini pikir saya. Ya, ongkos bisnya lebih mahal.

Awalnya bis ini sepi, cuma ada beberapa penumpang. Saya sempat ketawa jahat, mehehe.. Tapi semakin lama, bis mulai terisi penumpang di sepanjang jalan menuju Tawangmangu. Bis ini, menaik-turunkan penumpang dimana saja yang dia mau. Maksudnya yang sopir mau, bukan bis nya.

Masuk Karanganyar terlihat jalanan sudah basah, ternyata dari tadi sudah hujan. Langit menggelap, orang-orang mulai tertidur, angin yang sejuk menyelinap dari celah jendela bis, dan mulai diikuti butiran-butiran hujan. Suasana menjadi sepi, kita berdua diam. Tanpa kata. Cuma sesekali melihat dan menunjuk gunung Lawu yang dari jauh terlihat tertutup kabut tebal putih. Lembut sekali.


iya,itu kabut

Entah butuh atau tidak, tapi suatu waktu kita perlu merasakan pengalaman seperti ini dengan pasangan kita. duduk bersebelahan dengannya di tempat yang tidak biasa, tanpa membicarakan apapun. Merasakan setiap detik yang berlalu dengan merasa, bukan dengan berkata.

Tawangmangu, 14.00 WIB
Singkatnya, selama kurang lebih dua jam di bis, sekitar dua siang kita sampai terminal Tawangmangu. Hujan turun deras disini. Seperti biasa, begitu turun dari bis kita langsung ditawari angkot dengan banyak tujuan, salah satunya adalah Cemoro Sewu.

Begitu ada sopir yang menawarkan angkot arah Cemoro Sewu kita langsung iya-iya saja. Dan karena hujannya deras, oleh bapak sopir angkot kita dipinjami payung buat jalan berdua ke angkot yang ada di seberang jalan. Seperti yang sudah-sudah, karena sudah terbiasa menemui hujan dimana saja, jadi biasa saja. Yang beda cuma disini akan lebih dingin sepertinya.

Di perjalanan kita mulai menemukan pemandangan khas daerah pegunungan; sawah-sawah yang disusun terasiring mengikuti bukit, vila-vila dan hotel, serta kuda yang banyak disewakan di sekitar tawangmangu, kabut juga. Sepanjang jalan ke Cemoro Sewu banyak sekali warung pinggir jalan dan hampir semuanya ramai pembeli. Entah karena hari libur atau sehari-hari memang ramai. Yang jelas terakhir kali lewat sini akhir taun 2013 masih sepi.


seperti ini

Cemoro Sewu, 14.30 WIB
Hampir nggak percaya ketika mobil angkot berhenti dan ternyata sudah sampai depan Cemoro Sewu, rame sekali. Tapi wajar sebenarnya, karena selain basecamp pendakian, Cemoro Sewu juga tempat wisata. Cuaca masih sedikit gerimis, kita turun dan mulai menyeberang, berjalan masuk ke gerbang pendakian Cemoro Sewu yang sering buat foto-foto itu. Biasa saja sebenarnya, tapi karena saya pernah berada di tempat ini, jadinya tiap sampai di satu titik atau tempat yang dulu sempat punya cerita tersendiri, langsung teringat hal apa saja yang pernah terjadi disitu. Lucu juga.

Ajaib, begitu masuk gerbang Cemoro Sewu hujan tiba-tiba reda. Kita masih mencari-cari dimana pohon cemara yang jadi obrolan penting sepanjang perjalanan tadi: “apakah di Cemoro Sewu ada pohon Cemoro (Cemara) nya? Kalau ada, jumlahnya apa benar sewu (seribu) ?”..


rumah masa depan katanya.. *kuburan*

Tapi ternyata nggak ditemukan sama sekali pohon Cemara disekitar gerbang. Karena masih penasaran, kita jalan kedalam (yang juga nanjak) sampai tikungan pertama. Setelah capek dan dipikir-pikir kayanya nggak bakal nemu akhirnya kita cuma main-main dan foto-foto di sekitar situ.
 
dalam rangka nyeneng-nyenengke anak orang.. hft

Belum ada setengah jam disitu hujan turun lagi, deras. Kita lari ke semacam pos di dekat gerbang yang ada atapnya, yang dulu pas ndaki juga jadi lokasi pertama kali saya sadar sepatu saya hilang. Terlihat beberapa pendaki turun dengan langkah kaki berat dan gerakan tubuh yang lelah, tapi hampir selalu dengan raut wajah puas. Selain pendaki turun, pendaki yang mau berangkat naik juga terlihat dari situ.

Dengan hujan yang tambah deras itu, kita memutuskan buat nunggu hujan reda di warung sampingnya Basecamp. Saya dan teman-teman nggosu pendakian Lawu dulu hampir selalu makan di warung ini selama 4 hari itu. Pernah pas makan malam, karena sudah terlalu nyaman disitu dan males buat ke Basecamp lagi, kita main poker di warung sampai tutup (maksudnya diusir dengan alasan mau tutup).

Sampai pukul 15.15 hujan tidak juga reda. Karena sudah janji dengan sopir angkot yang tadi, yaitu: nggak boleh lebih dari satu jam di Cemoro Sewu (soalnya bis dari Tawangmangu ke Solo terbatas) akhirnya kita harus menaati kesepakatan tersebut. Jam setengah empat kita balik ke angkot yang tadi membawa kesini. bukan apa-apa, soalnya angkot itu sudah dibooking dan dibayar dimuka bareng sama mbayar pas berangkat tadi. Jadi kalau sampai angkot itu kabur, jangan tanya apa yang bakal terjadi di Tawangmangu nantinya....

Karena tidak mau melewatkan pemandangan selama turun ke Tawangmangu, kita duduk di kursi depan. Saya di tengah diantara sopir dan pacar saya, *kudu di tengah, ndak kececer dijalan*


 Kabutnya lembut, tapi nggak bisa dibelai...

Perpaduannya pas, bikin saya nggak mau sampai terminal lagi: udara dan angin dingin pegunungan, kabut yang menutupi jalan di depan, lereng-lereng bukit, sawah-sawah terasiring, pohon-pohon khas dataran tinggi, dan hangatnya suhu tubuh orang yang ada disamping saya. Cuma sayangnya ada sopir disisi saya yang lainnya.. pf


lihat jalan di depan ya pak, ndak oleng

Tawangmangu, 16.00 WIB
Ternyata benar, sampai di Terminal Tawangmangu hanya tersisa satu bis yang menuju arah Solo. Telat dikit saja nggak kebagian bis. Kalau sampai kejadian begitu, saya akan minta tanggung jawab pada sopir angkot tadi dengan menyuruhnya mengantar sampai Jogja sekalian. Maksudnya mobilnya saja, si sopir harus ditinggal.

Pukul 16.00 lebih bis memulai lajunya. Seperti biasa, awalnya bis juga sepi. Sepanjang jalan hujan masih deras, membuat jendelanya beruap selain karena terus dihantam tetesan hujan deras. Menyamarkan bayangan dan siluet wajah pacar saya yang beberapa kali tertidur, kelelahan. Sebenarnya saya juga capek dan ngantuk, tapi nggak memungkinkan kalau dua orang tidur semua, takutnya nanti ada apa-apa nggak ada yang tau. Terpaksa saya tetap terjaga, sambil sesekali mengamati wajah tidur di samping saya.


masih nemu kabut juga

Ada kepanikan kecil menjelang Solo, diluar dugaan ternyata bis yang kita tumpangi ini cuma sampai Palur (masih Karanganyar). Padahal dari Palur sampai Solo lumayan jauh, ditambah sampai Palur sudah gelap sekitar pukul 18.00. Untungnya begitu sampai Palur langsung nemu angkot yang menuju kota Solo, lebih tepatnya harus sampai Stasiun Balapan. Mungkin karena sudah petang, angkot tidak banyak menaikkan penumpang. Kita hanya bareng tiga ibu-ibu dan dua orang (yang sepertinya) mahasiswa, yang sama-sama nampak lelah dari wajahnya.

Stasiun Balapan, 18.30 WIB
Sekitar pukul 18.30 kita sampai Stasiun Balapan, bayar angkot dan langsung balapan lari masuk ke Stasiun. Ini nggak bercanda, soalnya kita takut tiket Prameks jam 18.55 nya habis. Dan ternyata memang habis, tinggal tersisa Prameks jam 20.30 yang paling cepat. Akhirnya kita beli tiket keberangkatan jam 20.30 dan nunggu di Stasiun lagi seperti tadi pagi. Kali ini dengan durasi yang lebih lama, dua jam.

Ada banyak orang yang menunggu keberangkatannya di Stasiun ini. Saking banyaknya kursi tunggu penuh dan banyak yang lesehan di lantai Stasiun, termasuk kita berdua. Kita duduk lesehan di dekat loket pembatalan tiket, diantara calon penumpang lain. Dalam dua jam kedepan kita bakal menunggu disini, tapi tetap saja, mau berapa jam-pun, karena dilalui berdua jadinya.. tetep lama..

Singkatnya Kereta tujuan Jogja sampai di Stasiun. Kereta sudah ramai penumpang beberapa puluh menit sebelum berangkat. Tapi kita juga naik beberapa menit sebelum jam keberangkatan, jadinya bisa duduk.

Ada satu hal yang mungkin bakal nggak bisa terlupakan oleh kita berdua. Di kereta itu, kita duduk berhadapan dengan satu keluarga yang membawa lima anak balita, terdiri dari empat anak cewek umur 3-5 tahun dan anak laki-laki sekitar 2 tahun. Ada tiga ibu-ibu bersama lima balita tersebut, tapi sepanjang perjalanan itu kita nggak bisa nebak siapa ibu dari kelima balita itu, apakah cuma satu ibu, atau tiga ibu itu masing-masing punya anak dari kelima balita tadi.. bingung? Sama.

Banyak kejadian lucu yang dibuat kelima balita tadi di kereta. Dengan kekuatan super balita mereka membuat keributan yang bisa dilihat dan didengar hampir semua orang yang ada gerbong itu. Lucu juga, segerbong jadi seperti milik keluarga itu saja. kita sama-sama menertawakan kelakuan balita-balita tadi, lumayan bisa bikin ketawa bareng. Capek setelah seharian jalan jadi sedikit berkurang.

Beberapa puluh menit sebelum kereta sampai Jogja, kelima balita tadi anteng, beberapa sudah tertidur di pangkuan ibu-ibunya. Penumpang lainnya sebagian besar juga tertidur, sisanya secara sadar diam. Kita berdua juga diam sambil sesekali bicara seperlunya. Kebanyakan soal kereta yang banyak berhenti dan nggak sampai-sampai, dan tentu saja alasan mengapa baru balik jam sepuluh yang pas buat di rumah nanti.
 
dua pasang kaki yang sehari tadi berjalan bersama *uopooh

Lempuyangan, 21.50 WIB
Pukul 21.50 Kereta sampai di Stasiun Lempuyangan, yang mulai sepi tapi masih berkerlapan lampunya, yang sebagian besar basah oleh hujan seharian tadi, dengan udara malam dingin dan aroma tanah basahnya.